Cerita Anak: Nabi Ibrahim a.s.

Bagikan Artikel ini

Assalamualaikum sahabat, sudah berlibur weekend kemarin?

Dewi sempat terhenti membacakan dongeng, karena kalau sudah jalan-jalan weekend selalu pulangnya kemaleman. Lalu, pastinya sampai rumah mereka harus segera tidur tanpa baca cerita.

Syukurlah, selama di luar rumah anak-anak banyak mengingat apa yang Dewi ceritakan, seperti keinginan anak-anak untuk mengenakan jilbab tanpa Dewi minta. Justru Dewi seringkali diingatkan mereka, “Bunda jangan lupa bawain jilbab buat kakak dan adik ya.”

MasyaAllah, semoga Allah selalu melindungi dan menjaga kedua buah hati kami, Amin.

Kali ini, Dewi makin Heppi karena akan menceritakan Kisah Nabi Ibrahim a.s. Seorang Nabi yang namanya sudah sangat familiar di telinga mereka. Rasa penasaran mereka semakin besar saat Dewi menyebutkan nama tersebut.

Kisah Nabi Ibrahim a.s:

Sejak kecil, Nabi Ibrahim memiliki kecerdasan yang luar biasa.

Kepala keluarga Ibrahim adalah salah seorang seniman yang terbiasa memahat patung-patung sehingga profesi si ayah mendapatkan kedudukan istimewa di tengah-tengah kaumnya. Keluarga Nabi Ibrahim sangat dihormati, namun ari keluarga ini lahir seorang anak yang mampu menentang penyimpangan dari keluarganya sendiri, menentang sistem masyarakat yang rusak serta melawan berbagai macam ramalan para dukun, dan menentang penyembahan berhala dan bintang, serta segala bentuk kesyirikan. Akhirnya, beliau mendapatkan ujian berat saat beliau dimasukkan ke dalam api dalam keadaan hidup-hidup.

Nabi Ibrahim adalah seseorang yang akalnya cemerlang sejak beliau berusia muda. Allah SWT menghidupkan hatinya dan akalnya dan memberinya hikmah sejak masa kecilnya.

Nabi Ibrahim mengetahui saat beliau masih kecil bahwa ayahnya seseorang yang membuat patung-patung yang unik. Ia bertanya terhadap ciptaan ayahnya, kemudian ayahnya memberitahunya bahwa itu adalah patung-patung dari tuhan-tuhan. Nabi Ibrahim sangat keheranan melihat hal tersebut, kemudian timbul dalam dirinya—melalui akal sehatnya—penolakan terhadapnya.

Uniknya, Nabi Ibrahim justru bermain-main dengan patung itu saat ia masih kecil, bahkan terkadang ia menunggangi pung­gung patung-patung itu seperti orang-orang yang biasa menung­gang keledai dan binatang tunggangan lainya. Pada suatu hari, ayahnya melihatnya saat menunggang punggung patung yang bernama Mardukh. Saat itu juga ayahnya marah dan memerintahkan anaknya agar tidak bermain-main dengan patung itu lagi.

Ibrahim bertanya, “Patung apakah ini wahai ayahku? Kedua telinganya besar, lebih besar dari telinga kita.”

Ayahnya menjawab, “Itu adalah Mardukh, tuhan para tuhan wahai anakku, dan kedua telinga yang besar itu sebagai simbol dari kecerdasan yang luar biasa.”

Ibrahim tampak tertawa dalam dirinya padahal saat itu beliau baru menginjak usia tujuh tahun.

Nabi Ibrahim berdakwah kepada Kaum Penyembah Bintang

Saat kecil, Nabi Ibrahim pernah mendatangi kuil yang dipenuhi patung-patung. Hatinya terusik, karena beliau tidak suka melihat patung-patung itu dijadikan sesembahan.

Banyak orang menangis sambil memohon-mohon di hadapan patung tersebut. Beliau sedih melihat perbuatan kaumnya, yang seakan-akan patung yang terbuat dari kayu dan batu itu bisa mendengat dan mengabulkan permintaan mereka.

Selain petung, penduduk Negeri Babilonia menyembah matahari dan bulan. Mereka juga berkurban dan mengadakan hari raya untuk dipersembahkan kepada bintang-bintang. Mereka mengarahkan kiblatnya ke kutub selatan.

Nabi Ibrahim ingin menyadarkan kesesatan dan menyembah hanya kepada Allah. Pada akhirnya Nabi Ibrahim mendatangi kaumnya dan mengaku bahwa tuhannya adalah bintang, kecerdasaan beliau ingin memberi pelajaran kepada kaumnya. Saat pagi tiba, bintang menghilang,beliau mengungkapkan berarti bintang bukan tuhannya karena bintang tidakkekal dan bisa menghilang.

Hari berikutnya, Nabi Ibrahim mengumumkan bahwa rembulan adalah tuhannya. Namun, ketika pagi datang ia juga mengatakan hal yang sama seperti bintang. Rembulan tidak kekal maka ia bukanlah tuhannya.

Nabi Ibrahim kemudian mengumumkan kembali bahwa matahari adalah tuhannya, “Inilah tuhanku yang lebih besar,” kata Nabi Ibrahim. Namun, matahari tenggelam saat malam datang, beliau menyatakan lagi bahwa matahari tidak kekal dan bukan lah Tuhannya.

Nabi Ibrahim lalu berkata kepada kaumnya, “Wahai, Kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” Begitulah, Nabi Ibrahim memberi pelajaran kepada kaumnya. Nabi Ibrahim menegur mereka dengan cara yang lembut dan penuh cinta kasih.

Nabi Ibrahim menjelaskan bahwa bintang, rembulan dan matahari tidak pantas dijadikan tuhan, karena Allah yang menciptakan itu semua, mengatur dan mengendalikan itu semua. Maka Allah lah yang patut untuk disembah.

Kaumnya tidak memahami apa yang dikatakan Nabi Ibrahim. Mereka tidak terima tuhan-tuhan mereka dihina oleh Nabi Ibrahim. Mereka pun mulai mendebat Nabi Ibrahim. Mereka mengancam dan meneror Nabi Ibrahim.

Nabi Ibrahim pemuda yang gagah berani. Beliau berdoa dan memohon pertolongan Allah. Nabi Ibrahim berkata bahwa beliau tidak takut kepada sesembahan kaum-kaumnya, karena hanya Allah yang bisa mendatangkan malapetaka, sedangkan tuhan-tuhan mereka sama sekali tidak bisa.

Baca juga: Cerita anak: Nabi Adam a.s.

Nabi Ibrahim dan penyembah Berhala

Masyarakat pada saat itu karena saat memasuki tempat penyem­bahan itu, mereka menampakkan ketundukan dan kehormatan di hadapan patung-patung. Bahkan mereka mengangis dan memohon berbagai macam hal. Seakan-akan patung-patung itu mendengar apa yang mereka keluhkan dan bicarakan.

Mula-mula pemandangan tersebut membuat Ibrahim tertawa kemudian lama-lama Ibrahim marah. Hal yang mengherankan baginya bahwa manusia-manusia itu semuanya tertipu, dan yang semakin memperumit masalah adalah, ayah Ibrahim ingin agar Ibrahim menjadi dukun saat ia besar.

Ayah Ibrahim tidak menginginkan apa-apa kecuali agar Ibrahim memberikan penghormatan kepada patung-patung itu, namun ia selalu mendapati Ibrahim menentang dan meremehkan patung-patung itu.

Pada suatu hari Ibrahim bersama ayahnya masuk di tempat penyembahan itu. Saat itu terjadi suatu pesta dan perayaan di hadapan patung-patung, dan di tengah-tengah perayaan tersebut terdapat seorang tokoh dukun yang memberikan pengarahan tentang kehebatan tuhan berhala yang paling besar.

Dengan suara yang penuh penghayatan, dukun itu memohon kepada patung agar menyayangi kaumnya dan memberi mereka rezeki. Tiba-tiba keheningan saat itu dipecah oleh suara Ibrahim yang ditujukan kepada dukun itu: “Hai tukang dukun, ia tidak akan pernah mendengarmu. Apakah engkau meyakini bahwa ia mendengar?”

Saat itu semua terkejut, mereka mencari dari mana suara itu berasal. Ternyata mereka mendapati bahwa suara itu adalah suara Ibrahim. Dukun itu mulai menampakkan kerisauan dan kemarahannya. Tiba-tiba si ayah berusaha menenangkan keadaan dan mengatakan bahwa anaknya sakit dan tidak mengetahui apa yang dikatakan. Lalu keduanya keluar dari tempat penyembahan itu. Mereka pun kembali pulang.

Ibrahim keluar dari rumahnya menuju ke gunung. Beliau berjalan sendirian di tengah kegelapan. Beliau memilih salah satu gua di gunung, lalu beliau rnenyandarkan punggungnya dalam keadaan duduk termenung. Beliau memperhatikan langit. Beliau mulai bosan memandang bumi yang dipenuhi dengan suasana jahiliyah yang bersandarkan kepada berhala.

Tidak lama setelah Nabi Ibrahim memperhatikan langit kemudian beliau melihat-lihat berbagai bintang yang disembah di bumi. Saat itu hati Nabi Ibrahimmerasakan kesedihan yang luar biasa. Lalu beliau melihat apa yang di belakang bulan dan bintang. Hal itu sangat mengagumkannya. Mengapa manusia justru menyembah ciptaan Tuhan?

Bukankah semua itu muncul dan tenggelam dengan izin-Nya. Nabi Ibrahim mengalami dialog internal dalam dirinya.

Pertentangan dengan Sang Ayah

“Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan aku rajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.” (QS. Maryam: 46)

Jika engkau tidak berhenti dari dakwahmu ini, sungguh aku akan merajammu. Aku akan membunuhmmu dengan pukulan batu. Demikian balasan siapa pun yang menentang tuhan. Keluarlah dari rumahku! Aku tidak ingin lagi melihatmu. Keluar!

Akhirnya, pertentangan itu membawa akibat pengusiran Nabi Ibrahim dari rumahnya, dan beliau pun terancam pembunuhan dan perajaman. Meskipun demikian, sikap Nabi Ibrahim tidak pernah berubah. Beliau tetap menjadi anak yang baik dan Nabi yang mulia. Beliau berdialog dengan ayahnya dengan menggunakan adab para nabi dan etika para nabi. Ketika mendengar penghinaan, pengusiran, dan ancaman pembunuhan dari ayahnya, beliau berkata dengan lembut:

“Semoga keselamatan dilimpahkan hepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku, sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu sent selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.'” (QS. Maryam: 47-48)

Nabi Ibrahim pun keluar dari rumah ayahnya. Beliau meninggalkan kaumnya dan sesembahan-sembahan selain Allah SWT.

(BERSAMBUNG)

Daftar referensi:

Aqila, Irvan. 2019. Kisah Pengantar Tidur 25 Nabi & Rasul. Jakarta selatan: Penerbit Noura, PT.Mizan Publika (Angoota IKAPI)

KISAH NABI IBRAHIM. http://www.quran.al-shia.org/id/qesseh-quran/05.htm diakses pada 20 Oktober 2019

sumber gambar: pixabay.com

Terimakasih sudah membaca, yuk menulis komentar agar saya bisa lebih mengenal teman-teman dan bw balik. Mohon tidak menaruh link pada komentar ya, jika ada link maka otomatis "delete"