Kisah Nabi Musa a.s dan Wahyu Allah untuk Beliau

Bagikan Artikel ini

Kisah Nabi Musa a.s dan Wahyu Allah untuk Beliau

Mesir dipimpin oleh oleh seorang yang amat kejam, setelah kepergian Nabi Ya’qub dan Nabi Yusuf a.s. Seluruh rakyat menyebutnya sebagai Fir’aun, Seorang raja yang sombong, zalim, dan selalu menindas rakyatnya yang lemah. Semua rakyatnya harus tunduk dan patuh kepadanya.

Suatu saat, tersiar kabar akan ada keturunan nabi Ya’qub dari Bani Israil yang akan menghancurkan kerajaan Fir’aun. Ia tidak ingin kekuasaannya hancur, dan menyuruh semua pengawal kerajaan untuk melenyapkan bayi laki-laki yang baru lahir dari kalangan Bani Israil.

Saat ada seorang wanita yang melahirkan seorang bayi lelaki, ia takut dan cemas. Seketika itu Allah berfirman, “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya, maka jatuhkanlah dia ke sungai Nil. Dan janganlah kamu khawatir dan bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikan kepadamu, dan menjadikannya salah seorang dari para rasul.”

Atas petunjuk Allah, wanita itu melaksanakan perintah Allah dengan perasaan sedih. Peti kecil bayi tersebut mengarungi sungai Nil, mengapung di permukaan air dan terbawa arus, dan atas kehendak Allah, peti itu tiba di istana Fir’aun.

Seorang pelayan mengambilnya dan memperlihatkannya kepada Asiyah, Istri Fir’aun. Asiyah mencintai bayi itu, dan ingin merawatnya. Ia meminta Fir’aun tidak melenyapkan bayi itu. Fir’aun akhirnya mengijinkan karena kasian melihat istrinya tak kunjung memiliki anak.

Bayi itu menangis kelaparan. Asiyah meminta Fir’aun untuk mencari wanita yang bisa menyusui bayi tersebut. Namun, beberapa wanita datang dan bayi tersebut terus menangis dan menolaknya. Pada akhirnya kabar bayi yang tak ingin terdengar hingga ibu kandung tersebut. Dan ia bersama saudaranya ke istana Fir’aun. Asiyah pun bahagia melihat sang Bayi pada akhirnya mau menyusui. “Bawalah bayi ini sampai dia tidak menyusui lagi. Setelah itu, kembalikan kepada kami.”

Allah Maha Menepati janji, dengan cara yang tak disangka-sangka.

Setelah dua tahun menyusui, sesuai janjinya, Nabi Musa pun diserahkan kembali kepada keluarga Fir’aun. Di dalam istana ia hidup tenang dan nyaman, ia tumbuh menjadi anak cerdas, kuat dan gagah. Ia pun memiliki jiwa pemberani. Ia dihormati oleh siapapun, karena dikenal sebagai anak angkat Fir’aun.

Nabi Musa mengetahui dirinya bukan anak kandung Fir’aun, melainkan keturunan Bani Israil. Dia juga tahun kekejaman ayah angkatnya terhadap kaum bani Israil. Sehingga, ia tidak senang dengan Ayah angkatnya. Nabi musa bertekad akan melepaskan Bani Israil dari cengkeraman jahat dari ayah angkatnya. Saat berjalan ditengah kota, ia melihat seorang laki-laki dari kalangan Bani Israil meminta tolong kepada nabi Musa, kemudian ia memukul laki-laki yang satu lagi, seketika orang tersebut terjatuh dan meninggal. Lelaki itu dari kalangan Fir’aun yaitu dari bangsa Qibthi.

Pada akhirnya mereka berencana untuk mencelakai Nabi Musa, Allah mengutus seseorang untuk menyuruh nabi Musa meninggalkan Mesir. Dan pada akhirnya ia tiba di Madyan, tempat nabi Syu’aib diutus. Tanpa sengaja ia menolong dua orang gadis disana yang ternyata adalah anak dari nabi Syu’aib. Kemudian nabi Musa menikah dengan salah seorang gadis tersebut, dan dengan ikhlas dan tekun ia bekerja dan mengembala ternak untuk menghidupi keluarganya.

Setelah sepuluh tahun, nabi Musa rindu kampung halamannya dan hendak kembali ke Mesir. Ia pun melakukan perjalanan ke Mesir dengan istri dan keluarganya. Ketika malam hari, hujan turun dan petir menyambar, cuaca menjadi begitu dingin. Mereka menggigil kedinginan, nabi Musa berusaha membuat api dengan menggesekkan kedua batu, namun berkali-kali gagal karena angin yang begitu kencang.

Tiba-tiba nabi Musa melihat cahaya terang dari kejauhan, sedangkan istri dan keluarganya sama sekali tidak melihatnya. Nabi Musa segera menghampiri cahaya tersebut, ia berada di lembah Thuwa. Tempat itu begitu hangat dan hening. Saat di dekat cahaya, ada yang memanggilnya. “Wahai,Musa! Sungguh, Aku adalah Allah, Rabb seluruh alam. Maka lepaskanlah terompahmu (alas kakimu). Sesungguhnya kau berada di tempat yang suci, yaitu Thuwa.”

Nabi Musa terkejut dan bergetar, segera melepaskan terompahnya. Allah berfirman, “Sesungguhnya aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya. Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. Sungguh, Hari Kiamat itu akan datang. Aku merahasiakan waktunya agar semua orang dibalas sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. Maka janganlah engkau dipalingkan dari Hari Kiamat itu oleh orang yang tidak beriman, oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan engkau binasa.”

Tubuh Nabi Musa semakin bergetar saat mendapatkan wahyu itu. Beliau sedang berhadapan dengan Zat Yang Maha Agung.

“Apakah yang ada di tanganmu, wahai Musa?”

Nabi Musa menjawab, “ini adalah tongkatku. Aku bertumpu padanya dan aku merontokkan daun-daun dengannya untuk makanan kambingku, dan masih ada lagi manfaat yang lain bagiku.”

Allah berfirman, “Lemparkanlah tongkat itu, Musa!

Nabi Musa mengangguk. Beliau melempar tongkatnya ke tanah. Betapa terkejut Nabi Musa, saat melihat tongkat itu berubah menjadi seekor ular besar. Nabi Musa ketakutan dan segera mundur.

Allah berfirman, “Wahai, Musa, janganlah kamu takut. Peganglah ular itu dan Kami akan mengembalikannya kepadamu dalam keadaan semula.”

Nabi Musa memegang ular dihadapannya dengan gemetar, seketika ular itu berubah menjadi tongkat.

Allah berfirman, “Masukkanlah tanganmu ke dalam saku bajumu, nanti ia akan bercahaya tanpa cacat, dan jika kamu takut, letakkannlah tanganmu di dadamu, maka rasa takutmu akan segera hilang. Itulah dua mukjizat dari Rabb-mu yang akan engkau tunjukkan kepada Fir’aun dan para pembesarnya. Sungguh mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Nabi Musa mendapat gelar kalimullah, yaitu nabi yang bisa bercakap-cakap dengan Allah. Selain dua mukjizat tersebut, masih ada mukjizat lainnya yang telah diberikan Allah kepadanya.

Pesan Moral pada anak:

Allah Maha Menepati janji, dengan cara yang tak disangka-sangka. Kita sebagai umatNya hendaknya melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Sumber referensi:

Aqila, Irvan. 2019. Kisah Pengantar Tidur 25 Nabi & Rasul. Jakarta selatan: Penerbit Noura, PT.Mizan Publika (Angoota IKAPI)

Sumber gambar: rhtourtravel, kompasiana. 2019. Menjelajah Bukit Sinai, Tempat Allah SWT Menampakkan Zat-Nya. https://www.kompasiana.com/rhtourtravel/5d3bfd24097f3617ff5de912/ menjelajah-bukit-sinai-tempat-allah-swt-menampakkan-zat-nya diakses pada 27 oktober 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.