Kisah Nabi Yusuf a.s. dan Nabi Ya’Qub a.s.

Bagikan Artikel ini

Assalamualaikum sahabat …!

Sudah baca kisah sebelumnya ya tentang Nabi Yusuf di masa kecilnya?

Kalau belum silahkan klik artikel: Kisah nabi Yusuf di masa kecil.

Setelah sekian lama, pada akhirnya Nabi Yusuf a.s. bertemu dengan Ayahnya yaitu Nabi Ya’qub a.s.

Dewi sungguh terharu, bagaimana ceritanya?

Yuk kita baca bersama.

Yusuf dan Saudara-saudaranya

Raja mengeluarkan ketetapan bersihnya Nabi Yusuf dari tuduhan yang ditujukan kepadanya. Ia memerintahkan agar Nabi Yusuf dikeluarkan dari penjara. Raja memberikan pilihan kepadanya untuk memilih jabatan yang ia mau, maka Nabi Yusuf berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri Mesir. Sesungguhnya aku orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 55)

Raja pun setuju terhadap permintaan Yusuf itu karena amanah dan ilmunya. Kemudian, apa yang dimimpikan raja pun terwujud satu persatu.

Saat pembagian bahan makanan pokok yang dilakukan Nabi Yusuf kepada rakyat, tiba-tiba beliau bertemu dengan orang-orang yang dia kenali, baik dari bahasanya, fisiknya, dan nama-namanya.

Mereka adalah saudara-saudara tirinya, namun mereka tidak mengenali nabi Yusuf. Mereka datang karena butuh bahan makanan. Nabi Yusuf pun berbuat baik kepada mereka, dan mereka juga bermuamalah secara baik kepadanya.

Selanjutnya Nabi Yusuf menanyakan keadaan mereka dan jumlah mereka, lalu mereka memberitahukan bahwa jumlah mereka ada dua belas orang, seorang dari mereka pergi dan masih ada saudara kandungnya yang sedang bersama ayahnya, karena ayahnya mencintainya (Bunyamin) dan berat melepasnya.

Nabi Yusuf menyiapkan bahan makanan untuk mereka, dimana masing-masing mereka memperoleh seukuran beban unta, maka Yusuf berkata, “Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin), tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan takaran dan aku adalah penerima tamu yang terbaik? Jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapat takaran lagi dariku dan jangan kamu mendekatiku.” (QS. Yusuf: 59-60)

Mereka berkata, “Kami akan membujuk ayahnya untuk membawanya (kemari) dan sesungguhnya kami benar-benar akan melaksanakannya.”

Nabi Yusuf memerintahkan para pelayannya untuk memasukkan barang-barang (penukar kepunyaan mereka) ke dalam karung-karung mereka, agar mereka mengetahuinya ketika mereka telah kembali kepada keluarganya. Sehingga membuat mereka mengembalikan barang-barang itu ke Mesir atau karena khawatir nanti mereka tidak mendapatkan sesuatu untuk menukar lagi. Nabi Yusuf lakukan agar mereka bersedia kembali lagi kepadanya.

Kemudian mereka pulang menemui ayah mereka sambil berkata, “Wahai ayah kami tidak akan mendapat takaran (gandum) lagi, (jika tidak membawa saudara kami), sebab itu biarkanlah saudara kami pergi bersama-sama kami agar kami mendapat takaran, dan sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya.”

Nabi Ya’qub menolaknya, kemudian saudara-saudara Yusuf pergi mendatangi barang mereka untuk mengeluarkan isi barang bawaan mereka, tetapi mereka dikejutkan dengan barang mereka yang lama yang mereka jadikan sebagai alat tukar.

Mereka memberitahukan kepada ayah mereka bahwa barang bawaan mereka dikembalikan, dan mereka pun segera mendesak ayah mereka dengan menyebutkan maslahatnya bagi keluarga mereka ketika memperoleh makanan.

Mereka berjanji untuk menjaga saudara mereka, Bunyamin. Mereka juga mendorong ayah mereka dengan sungguh-sungguh agar takaran bagi saudara mereka bertambah, karena Nabi Yusuf memberikan untuk setiap orangnya seukuran beban unta.

Maka ayah mereka berkata, “Aku sekali-kali tidak akan melepaskannya (pergi) bersama-sama kamu, sebelum kamu memberikan kepadaku janji yang teguh atas nama Allah, bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kamu dikepung musuh.”

Siasat Nabi Yusuf agar Bunyamin bersamanya

Setelah mereka memberikan janji mereka, Maka Ya’qub berkata, “Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan (ini).”

Ketika mereka telah berada di depan Yusuf, maka Yusuf mengajak saudaranya yang paling kecil itu (Bunyamin), dan berbincang-bincang secara berduaan dengannya, beliau memberitahukan bahwa dirinya adalah Yusuf; saudaranya.

Nabi Yusuf ingin saudaranya tetap bersamanya, maka Yusuf menyuruh para pelayannya untuk meletakkan piala (tempat minum) ke dalam karung saudaranya. kemudian berteriaklah seseorang sambil menyerukan, “Wahai kafilah, sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang mencuri.”

Kemudian saudara-saudara Nabi Yusuf pun segera menanyakan sesuatu yang hilang itu, lalu orang yang berseru itu memberitahukan, bahwa piala raja hilang dan raja telah menjanjikan untuk memberikan upah berupa bahan makanan (seberat) beban unta.

Mereka tidak menerima tuduhan itu sehingga muncul dialog yang dalam dengan Nabi Yusuf, mereka bukan sebagai pencuri dan mereka pun mau bersumpah untuk hal itu, lalu para penjaga berkata, “Apa balasannya jika kamu dusta?”

Mereka menjawab, “Balasannya ialah pada siapa diketemukan (barang yang hilang) dalam karungnya, maka dia sendirilah balasannya (tebusannya).”

Nabi Yusuf memerintahkan para pengawalnya untuk memeriksa karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian mereka menemukan piala raja itu dari karung saudaranya.

Maka saudara-saudaranya pun ingat akan janji mereka kepada ayah. Mereka pun berkata kepada Nabi Yusuf, “Wahai al-Aziz, sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah lanjut usianya. Oleh karena itu, ambillah salah seorang di antara kami sebagai gantinya, sesungguhnya kami melihat kamu termasuk oranng-orang yang berbuat baik.”

Yusuf berkata, “Aku mohon perlindungan kepada Allah dari menahan seorang, kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya, jika kami berbuat demikian, maka kami benar-benar sebagai orang-orang yang zalim.” (QS. Yusuf: 78-79).

Maka ketika mereka berputus asa dari pada keputusan Nabi Yusuf, mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik. Dan akhirnya kembali menemui Ayahnya, “Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri, dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui, dan kami sekali-kali tidak dapat menjaga (mengetahui) barang yang ghaib. Selanjutnya, jika ayah ragu-ragu, katakan kepadanya, “Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada di situ, dan kafilah yang kami datang bersamanya, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar“. (QS. Yusuf: 80-82).

Nabi Ya’Qub sangat sedih mendengar berita Bunyamin ditahan oleh pihak kerajaan Mesir. Beliau hanya bisa menangis. Dulu, ia telah kehilangan Nabi Yusuf yang sangat dicintainya, sekarang ia harus kehilangan Bunyamin. Setiap hari beliau menangis dan memohon kepada Allah SWT, hingga mata Nabi Ya’qub mengalami kebutaan.

Kemudian Allah menjawab doa Nabi Ya’qub. Allah menyuruh Nabi Ya’qub agar memerintahkan anak-anaknya untuk kembali ke Negeri Mesir untuk mencari berita Nabi Yusuf dan Bunyamin. Beliau berkata agar anak-anaknya tidak berputus asa dari rahmat Allah.

Di negeri Mesir mereka bertemu kembali dengan Nabi Yusuf, dan beliau berkata, “Akulah Yusuf dan ini saudaraku, Bunyamin. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Siapa saja yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.”

Mereka terkejut, dan meminta maaf pada Nabi Yusuf dengan penuh penyesalan. Mereka bertobat dan memohon ampun kepada Allah. Dengan bijaksana, Nabi Yusuf memaafkan kesalahan yang telah diperbuat saudara-saudaranya.

“Bawalah pakaianku ini, dan letakkan pada wajah ayahku, beliau akan dapat melihat kembali. Dan bawalah keluargamu semua kepadaku ke Mesir,” ucap Nabi Yusuf.

Sesampainya di Palestina, pakaian itu diusapkan ke wajah nabi Ya’qub, dan mata beliau bisa melihat kembali. Beliau mengucap syukur kepada Allah.

Pada akhirnya Nabi Ya’qub bersama mereka ke negeri Mesir dan bertemu nabi Yusuf, beliau begitu bahagia bisa bertemu kembali dengan putranya yang`telah lama hilang.

Hikmah dan Makna di balik Kisah Nabi Yusuf:

Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada umat-Nya. Siapa saja yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.

Allah Maha mengasihi dan memberi mukjizat pada orang-orang yang bertaqwa kepadaNya.

Sumber Referensi:

Aqila, Irvan. 2019. Kisah Pengantar Tidur 25 Nabi & Rasul. Jakarta selatan: Penerbit Noura, PT.Mizan Publika (Angoota IKAPI)

Bin Musa, Marwan. 2018. Kisah Nabi Yusuf Alaihissalam. https://kisahmuslim.com/2628-mimpi-nabi-yusuf.html diakses pada 27 Oktober 2019.

Terimakasih sudah membaca, yuk menulis komentar agar saya bisa lebih mengenal teman-teman dan bw balik. Mohon tidak menaruh link pada komentar ya, jika ada link maka otomatis "delete"