Sahabat Blogger

Temanmu akan menggambarkan siapa kamu, maka pilihlah teman yang baik dan mari saling berbagi kebaikan.
Bagikan Artikel ini

Cinta di Masa Pandemi-Part 1

“Sil, kamu masih jualan online?”

“Iya dong, Jen …” jawab Silvi dengan santai pada pertanyaan Jenny.

“Masa pandemi begini?” Jeny semakin penasaran. “Penjualanmu meningkat dong, kan banyak orang yang lebih memilih membeli produk secara online kan ya?”

“Mmm … sebenarnya sih, justru persaingan makin ketat Jen,” gumam Silvi, “karena semakin banyak juga orang-orang berjualan online. Enggak hanya lewat e-commerce tapi lewat status WA pun sekarang orang-orang makin terampil. Apalagi konsumen terkadang butuh barang datang cepat. Mereka lebih suka transaksi tanpa perantara, walaupun terkadang harganya lebih mahal sedikit dari pada umumnya.”

“Waduh, begitu ya? batal deh aku mau jadi penjual online dadakan. Kok takut kalah saing nanti. Sudah susah payah buat produksi, eh nanti enggak laku,” dahi Jeny berkerut. Tatapan matanya yang semula melihat Silvi, berbalik pada gawai OPPO kesayangannya.

Silvi hanya tersenyum simpul, sedari tadi ia tetap duduk bersandar pada bantal sofa belasan tahun di kamar mungilnya berukuran 3×4 m.

Mereka berdua sahabat sejak duduk di bangku sekolah menegah pertama. Sejak sekolah dulu Silvi memiliki ambisi sebagai pedagang seperti kedua orangtuanya. Sejak ia lulus sarjana tingkat satu, ia tidak pernah berupaya untuk mencari kerja di perusahaan lain, selain ikut berbisnis kesana kemari dengan orangtuanya.

Beruntungnya Silvi, bisnis online sedang naik daun saat ia sudah siap menjadi pedagang sejak lulus sekolah. Sehingga sekarang ia menjadi pedagang online yang trafik pembelinya tinggi dari ecommerce berwarna merah yang membesarkannya.

“Jen, mau ikut aku ke buk Je? Ada orderan 300 masker nih!”

“Alhamdulillah, mau dong mau ikut! Pulangnya sekalian traktir bakso di dekat buk Je ya, itung-itung traktiran orderanlah, hahahaah …” celetuk Jeny.

“Huuuh, kebiasaan kamu!” tukas Silvi, “orderan baru masuk, belum cair tauk! Untung aku baik, kutraktir satu mangkok ya, kalau nambah bayar sendiri ye!”

“Asiiiik, cukuplah satu mangkok. Kan bakso beranak, Silvi gitu loh kan baiknya minta ampun, hihihi … makasih ya Silvi, semoga laris manis deh dagangannya.” Jenny segera menyusul Silvi yang terlihat tergesa-gesa meninggalkan kamar.

Saat berlari meninggalkan kamar, Jenny tidak sengaja menubruk keras lengan seseorang. Ia reflek meminta maaf.

“Maaf kak …” Silvi berkata terbata-bata. Ia memberanikan diri menengadahkan wajahnya. Ditemukannya wajah Dion yang sedang tersenyum. Wajah yang sering ia lihat secara daring. Debaran jantungnya berdegub lebih kencang dari sebelumnya.

Its okey …!” Suaranya yang berat terdengar begitu jelas. Ia berlalu ke ruang tamu. Rupanya, mata Jenny tidak berpaling melihat punggung pria yang daritadi membidik kamera gawainya ke depan.

“Dia mau online lagi di youtube,” Jenny berbisik berbicara pada dirinya sendiri. Baju pria itu khas seperti yang dikenakan saat ia tampil di youtube. Baju abu-abu, dengan penutup kepala yang melekat pada atasan yang selalu dipakainya.

dion-kisah-fiksi-sahabat-blogger

“Buruan! Jangan lupa maskernya dipakai,” teriak Silvi di luar rumah membuyarkan lamunan Jenny.

Jenny mempercepat langkahnya, menuju ke halaman depan rumah. Ia menarik masker yang berada di dalam saku baju jingganya, namun ia tidak menyadari kertas kecil dikantongnya ikut keluar dan terjatuh di teras rumah.

***

Matahari bersinar begitu terik siang itu. Untungnya mereka menggunakan mobil untuk mobilitas sehari-hari.

“Aku mau memastikan buk Je, kalau bisa mengerjakan 300 masker, karena ada masa menunggu untuk konfirmasi pesanan,” jelas Silvi.

“Buk Je kenapa sih kok enggak mau dikasih gawai sama kamu? Kan enak tinggal telepon kalau butuh apa-apa begini,” kata Jenny.

“Dia orang kuno Jen, males mau belajar utak-atik gawai. Apalagi tahu sendiri kan, dia kawatir mantan suaminya telpon dia. Padahal tahu sendiri kan nomer gawai kalau enggak disebar enggak bakalan tahu tuh mantan suaminya. Sudah aku jelasin juga sama aja, maklumlaaah orang kuno.”

“Hahahah … ada-ada aja Buk Je, kamu yang repot deh kalau mau apa-apa harus ke rumahnya.”

“Anggap aja cuci mata, lihat jalanan. Kalau wirausaha mah begini. Waktunya ya sebagian di jalan, hihiihi,” bela diri Silvi pada sahabatnya.

“Eh, Jen … mas Dion WFH di rumah lama-lama gondrong dan brewokan ya, bagus enggak menurutmu?” Silvi ia tahu bahwa sahabatnya menaruh perasaan pada Dion, namun tidak pernah ia singgung karena ia tahu bahwa Jenny tidak mungkin memilikinya. Cinta Jenny bertepuk sebelah tangan.

Pipi Jenny merona, terlihat menjadi merah. Matanya menyipit. Senyumnya mengembang.

“Aku suka yang seperti sekarang. Keliatan lebih macho, kalau dulu kan dia pucat. Meskipun begitu, tetaplah cakepnya enggak ketulungan, wkwkwkwk … ah kamu mengalihkan issue …!” Jenny tertawa, dan malu dengan ucapannya sendiri.

Silvi tertawa sambil tetap memegang kendali setir mobilnya. Jenny mencubit bahu Silvi di depan, sahabat yang suka usil pada dirinya. Sejak ada covid di Indonesia, mereka tidak lagi duduk berjajar di bangku depan. Mereka mematuhi aturan dari pemerintah, dengan menjaga jarak saat berkemudi. Duduk satu orang dalam satu baris. Walau sebenarnya kaca mobil mereka cukup gelap, dan terbebas dari kontrol orang-orang yang berada di luar mobil. Mobil mereka berjalan di jalanan yang semakin sempit, menyusuri rumah-rumah penduduk di kampung.

“Akhirnya, sampai juga,” keluh Jenny.

Baca juga:

“Kamu tunggu di sini saja, biar aku yang turun,” Silvi dengan tangkas, menutup pintu mobil dan berlari menuju salah satu rumah tua dengan pagar kayu tanpa gerbang. Bunga melati di tirai depan pintu rumah itu tumbuh subur terjuntai dari atas hingga menutupi pintu masuk rumah itu.

Jenny menanti di dalam mobil, sambil memandang keadaan di luar. Sebuah keadaan yang tidak biasa di kampung itu. Sebelumnya ia sering melihat anak-anak bermain berlari kesana-kemari, ibu- ibu berkerumun membincangkan sesuatu. Sekarang ia hanya melihat jalanan kampung yang sepi dan rumah-rumah penduduk yang hanya terbuka sebagian saja.

“Yuk ah …” Silvi kembali duduk di bangku setir. “Eh, kira-kira bakso beranaknya buka enggak ya?” lanjutnya.

“Yah … tadi enggak tanya Buk Je, kan satu RW siapatau dia ngerti?” kata Jenny.

“Sudah aku tanyakan tadi, kata buk Je dia enggak pernah keluar rumah karena takut covid19. Dia sendiri tidak tahu perkembangan di sekitar rumahnya. Hikmahnya, alhamdulillah akhirnya dia mau gawai, katanya biar eggak putus informasi sama tetangga,”kali ini Silvi menjelaskan panjang lebar.

“Bisa Buk Je maskernya?”

“Alhamdulillah bisa, ada dua orang yang bantu dia. Tiga hari bisa selesai dari saat aku kirim bahan. “Yuk ah beranak, eeeh … ke bakso beranak.”

Tidak ada sepuluh menit, mereka sampai ke rumah abah penjual bakso beranak. Meja dan kursi terlihat rapi. Kursi diletakkan terbaik di atas meja.

“Rasanya kena dampak covid nih, jangan-jangan enggak ada yang beli dan abah enggak jualan lagi … huaaaa sayang. Padahal enak banget baksonya Abah,” Jenny menerka jawaban dari apa yang dilihatnya.

“Abah …!” teriak Silvi, “Assalamualaikum ….”

“Eh, ini ada bacaan di atas meja. Bakso tetap buka tapi tidak melayani makan di tempat. Asiiik …! Bungkusin juga buat Ayah, ibumu untuk mereka pulang kerja nanti, dan … “

“Dion? Dia enggak doyan bakso beranak. Kalau bakso biasa dia suka. Kalau ini enggak,” Silvi terlihat mengenal baik kebiasaan kakak tirinya, sosok yang disukainya sejak Silvi masih kecil.

(*bersambung)

Lanjut baca yuk, mumpung sahabat masih me-time: Cinta di Masa Pandemi-Part 2

%d blogger menyukai ini: