Sahabat Blogger

Temanmu akan menggambarkan siapa kamu, maka pilihlah teman yang baik dan mari saling berbagi kebaikan.
Bagikan Artikel ini

Cinta di Masa Pandemi-Part 2

Tengok cerita Part 1 di sini

Tangan besar Dion menarik paksa dan menggenggam tangan kiri Silvi. “Please …” suara Dion begitu lirih, “jangan pergi dari sini sebelum aku jelaskan hingga selesai.”

Mata besar Silvi membelalak. Perasaan takut, gugup dan sedih berkecamuk pada gadis yang masih berusia 15 tahun itu. Badannya mematung di ujung pintu kamar bercat biru. Ia mendapati gadis asing di kamar kakaknya. Wajah gadis itu juga terlihat tegang. Ia duduk bersimpuh diantara ranjang dan kursi belajar Dion. Rupanya, ia berusaha bersembunyi di sudut ruang itu sebelum Silvi berusaha masuk ke dalam kamar Dion.

“Kak … Mama, Papa bisa marah kalau tahu kak Dion memasukkan perempuan ke kamar. Walau alasan belajar bareng karena minggu depan ujian nasional, tidak akan bisa semudah itu mereka terima. Tahukan adat kita?” Silvi menjelaskan tanpa memberi kesempatan.

“Aku kecewa sama kak Dion.” Silvi mengakhiri percakapannya dan keluar dari kamar itu.

Dion pasrah melepas tangan Silvi, melihat adiknya meninggalkan kamar.

Kaki mungil berkaos kaki hitam memijak anak-anak tangga dengan cepat, tanpa bersuara. Dibukanya kamar di ujung lantai dua. Ia melepas hasduk di lehernya, dan melempar tas ransel sekolahnya ke atas ranjang. Dengan segera menutup dan mengunci pintunya. Ia bersandar lemas di belakang pintu.

Pada akhirnya, bening air tumpah dari kedua bola matanya, bersamaan dengan gemeretak giginya yang putih. “Kak Dion …” bisik kecilnya berbicara pada ruang hatinya yang sedang terluka.

Tubuhnya lunglai di lantai. Sebagian rambut panjangnya menutupi wajah Silvi yang kian memerah. Ia menangisi sesuatu yang tidak ia pahami.

***

Dion mengintip situasi rumah dari pintu kamarnya. Ia pikir kedua orangtuanya telah masuk rumah, karena ia sudah melihat punggung Mamanya yang memasuki kamar utama.

Dion dan gadis itu berjalan keluar kamar perlahan, membelokkan badannya menuju ruang tamu di sebelah kamarnya.

Disaat yang sama, Papa Dion memasuki pintu depan rumahnya. Dua pasang wajah terekam membisu. Telunjuk Papa mengarah pada kursi ruang tamu.

“DUDUK …!” ujar Papa Dion dengan tegas dan singkat.

Sepasang remaja itu duduk. Mereka tidak saling bicara. Papa Dion berjalan lurus menjemput istrinya yang telah masuk duluan sebelum dirinya.

“Ma, Dion membawa perempuan di kamarnya …” tegas Papa Dion ke istrinya yang sedang melepas jilbab keemasannya. Wanita itu tampak terkejut dan menggunakan lagi jilbabnya. Ia mengikuti suaminya menuju ruang tamu.

Tampak wajah anak lelakinya tanpa ekspresi dan setengah menunduk.

“Maaf Pah … maaf Mah.”

Mama Dion justru merasa takut saat anak sulungnya meminta maaf. Pikiran Mama Dion kemana-mana. Sepasang lelaki dan perempuan berada di kamar. Apa yang mereka lakukan? namun, ia berusaha tetap tenang, menunggu suaminya menginterogasi kedua anak muda itu.

“Teman sekelas?” ujar Papa Dion.

“Bukan Pah …” jawab Dion.

“Maaf om, tante … saya lancang masuk ke rumah,” gadis itu berkata lalu menangis. Kedua tangannya menutup kedua mukanya, “saya malu ….”

Dion diam seribu bahasa. Posisi badannya sama sekali tidak berubah dari semula. Tangisan gadis itu semakin menjadi-jadi. Mama Dion berdoa dalam hati, semoga anaknya tidak terlewat batas. Semoga anaknya tidak salah pergaulan.

Gadis yang masih berseragam pramuka. Wajahnya persegi dengan alis tebal yang menyatu. Rambut pendek dan tanpa anting-anting. Penampilannya menguatkan dirinya lebih tepat dikatakan ‘ganteng’ daripada ‘cantik’ jika ia mengenakan celana.

Silvi menengok dari atas ke ruang tamu rumah. Ia melihat situasi di bawah tanpa bisa mendengar suara mereka. Hanya gerak-gerik yang menjadi simbol untuk melihat bagaimana keadaan yang sedang berlangsung di sana.

Sekitar tiga puluh menit mereka berbincang. Dion terlihat menjawab seperlunya, sedangkan gadis itu lebih banyak menangis dan bercerita. Papa Dion berbicara dua arah dengan gadis itu. Tidak lama kemudian, Mama berdiri dan memeluk Dion.

“Syukurlah sayang … Mama tidak mau anak mama menjadi anak yang biadab,” ungkap Mama Dion, mengusap rambut Dion seperti anak kecil.

“Dion itu … tidak pernah membawa teman perempuannya ke rumah, apalagi ke kamar. Mama tadi sempat heran dengan Silvi yang tiba-tiba lari turun dari mobil di depan. Biasanya Silvi membantu Mama dan Papa menutup pagar,” ucap Mama, “dia pasti syok melihat kalian berdua bersama.”

“Dion tadi panik Mah. Enggak mengira juga kalau Mamah Papah cepat pulang. Adek Silvi tadikan bilang sepulang sekolah, dijemput Papah Mamah mau cari kado dulu.”

“Dion … mau Mamah pulang cepat atau lama, tetap ya kalau ada tamu biarlah duduk di depan teras. Apalagi perempuan. Zamannya Mamah dulu malah tidak baik kalau perempuan ke rumah lawan jenis. Lila bilang tadi tidak tahu harus pergi kemana, hanya Dion yang dianggap sahabat yang bisa ia andalkan. Bagi Mama, tetap tidak boleh nak. Apalagi anak gadis, kalau Dion jahat lalu perkosa kamu bagaimana?”

“Maafin Lila tante … benar-benar Lila tidak ada saudara. Om dan tante Lila pun tidak di kota ini. Lila beruntung sekali punya sahabat yang baik, tidak memanfaatkan kesempatan. Lila juga merasa beruntung sekali bertemu om dan tante yang baik, enggak menghakimi Lila seperti orangtua Lila.”

“Sudah ya nak, bagaimana pun mereka kedua orang tua kamu. Jangan menjelekkan mereka ya. Lila harus instropeksi diri, kenapa mereka memarahi Lila. Perbuatan Lila yang sekarang, justru akan membuat mereka semakin marah. Orangtua mana yang tidak cemas anaknya kabur, dan larinya ke rumah teman lelakinya.”

“Iya tante, maaf …” air matanya kembali tumpah. Wajahnya yang kaku terlihat lebih manis saat ia menangis.

“Dion juga … kalau memang tidak ada apa-apa jangan sesekali bawa perempuan ke kamar. Bicara secara gentle. Papa tegas soal hal ini. Kamu sudah bertambah besar, Papah yakin kamu akan lebih dewasa menentukan sikap setelah kejadian ini,” ujar Papa.

“Iya Pah, Maaf …”

“Silvi, sini …!” teriak Papah sambil mendongak ke atas. Memanggil anak gadisnya yang daritadi ia lihat berlalu-lalang di depan kamarnya di atas.

Seragam pramuka SMP masih melekat ditubuh Silvi. Hanya saja baju basah di bagian dada akibat tangisan, tidak dapat ia sembunyikan seperti matanya yang sembab.

“Kamu tadi lihat Dion di teras sama Lila?” tanya Papa Dion untuk memastikan kejujuran anaknya.

(*bersambung pada buku Dewi Adikara Rumedia)

Baca juga yuk:

%d blogger menyukai ini: