Bagaimana cara mencegah penyakit Difteri?

Bagikan Artikel ini

Maraknya isu dilingkungan sekitar tentang Difteri langsung membuat kita was-was. Padahal belum tahu apa arti Difteri, kita sudah merasa cemas.

Apakah itu Difteri?

Menurut penjelasan dr.Marianti Pada salah satu situs kesehatan Alodokter.com, Difteri adalah infeksi bakteri yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta terkadang dapat mempengaruhi kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa.

Bagaimana bila disekelilingnya kita ada orang yang terkena Difteri? Karena penularan ini dapat terjadi dengan mudah melalui udara.

Apa yang harus kita lakukan :

  1. Hindari percikan ludah penderita di udara saat mereka bersin dan batuk.
  2. Hindari mainan atau barang-barang yang mudah terkontaminasi oleh bakteri. Misalkan, mainan, handuk, atau barang lainnya yang terjadi kontak langsung dengan penderita.

Walaupun demikian, ada baiknya penderita mengenakan masker disaat berkontak langsung dengan orang lain.

Namun sebenarnya Difteri termasuk salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Jadi pada dasarnya, kita jangan panik dahulu, karena Difteri biasanya lebih rentan pada mereka yang belum mendapatkan imunisasi.

Seberapa penting sih Imunisasi?


Beberapa orangtua menyesali anaknya ikut imunisasi disaat efek setelah imunisasi menyebabkan anak menjadi sakit, seperti demam yang tinggi. Sebenarnya tidak semua imunisasi dapat mengakibatkan demam.
Tapi perlu kita pahami, demam ini sebenarnya adalah reaksi fisiologis tubuh anak dalam melawan penyakit yang dilemahkan tersebut.


Beberapa anak memang tidak mengalami demam. Hal ini dikarenakan kondisi imun anak memang saat itu sudah siap melawan. Untuk itu bila anak mengalami demam kita perlu menyiapkan obat panas untuk membantu anak melawan penyakitnya. Bila demam mencapai 39’C diperlukan obat panas yang dimasukkan melalui dubur (bisa dibeli eceran di Apotik). Penting untuk kita miliki bila punya anak kecil, cara penyimpanan mudah, diletakkan di pintu kulkas.

Imunisasi terhadap Difteri termasuk ke dalam program imunisasi wajib pemerintah Indonesia. Imunisasi Difteri yang dikombinasikan dengan Pertusis (batuk rejan) dan Tetanus ini disebut dengan imunisasi DTP. Sebelum usia 1 tahun, anak diwajibkan mendapat 3 kali imunisasi DTP.

Lalu, karena imunisasi ini dilakukan 5 kali dengan jangka waktu yang berbeda maka kita harus memantau dan memberi alarm kapan anak kita perlu dilakukan imunisasi ini.  Yaitu disaat anak berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, satu setengah tahun, dan lima tahun. Selanjutnya dapat diberikan booster dengan vaksin sejenis (Tdap/Td) pada usia 10 tahun dan 18 tahun. Vaksin Td dapat diulangi setiap 10 tahun untuk memberikan perlindungan yang optimal.

Jadi tanggungjawab kita sebagai orangtua untuk mengingat ini, setidaknya mencatat, atau menyimpan catatan imunisasi anak. Noted. Kasian si anak bila kita melalaikannya.

Pengalaman terakhir disaat anak saya menginjak usia satu setengah tahun atau 18 bulan, membutuhkan imunisasi DTP yang ketiga. Disatu sisi, dibulan Agustus 2017 tepatnya, pemerintah sedang mensosialisasikan imunisasi Campak dan Rubella. Padahal keduanya sama-sama dilakukan suntikan, Lalu bagaimana?

Apakah dilakukan secara bersamaan? Jawabannya adalah mendahulukan imunisasi Campak Rubella, karena imunisasi ini harus pada kondisi anak sehat, bahkan batuk pilek pun tidak diperkenankan. Jadi sebagai orangtua, saya harus meliburkan semua kegiatan yang bisa membuat anak rentan terhadap penyakit.

Mengalah dengan keadaan. Saya sempat merasa bersalah dengan pak suami karena harus menolak untuk berpergian (kebetulan bertepatan dengan kegiatan keluar kota keluarga besar pak suami) dikarenakan demi kesehatan anak-anak. Untungnya pak suami bisa menerima dan sangat memahami kesehatan para anak-anak. Dan pada akhirnya saya diantar ibu saya untuk menjalani imunisasi ini, karena pak suami harus tetap berangkat.

Pengorbanan bagi Pecinta Travelling seperti saya. *Lebay.. heheh.. memang bagaimanapun urusan anak nomer satu. Noted.

Barulah setelah kita mendahulukan program pemerintah, saya melakukan imunisasi DTP seminggu kemudian. Imunisasi tidak dianjurkan disaat anak mengalami sakit panas.

Vaksin DTP termasuk dalam imunisasi wajib bagi anak-anak di Indonesia. Perlindungan tersebut umumnya dapat melindungi anak terhadap difteri seumur hidup.

Ini salah satu imunisasi, sudahkah anak kita mendapatkannya?

Bila belum, segera konsultasikan ke dokter anak ya?

Baca juga tulisan kolaborasi dengan mbak Inge tentang vaksin sayang anak.

 

Salam,

Sahabat Blogger.

 

Referensi alodokter.com

Foto: www.pixabay.com

 

5 thoughts on “Bagaimana cara mencegah penyakit Difteri?”

  1. Semua planning bisa buyar emang mbak ya kalo anak-anak lagi gak fit… Ikhtiar vaksin walau harus nggak ikut acara keluarga besar semoga berbuah anak-anak yang selalu sehat dan jauh dari sakit.. Amiiin.

Dengan meninggalkan komentar positif akan menjadi perkenalan untuk saya bw balik. Mohon tidak menaruh link pada komentar ya, jika ada link maka otomatis "delete". Terimakasih.