Tiga hal yang membuatmu bertahan saat Pernikahan diujung Perceraian

konflik pernikahan
Bagikan Artikel ini

Kira-kira kalau teman-teman diminta bercerita tentang konflik pernikahan kalian berani tidak?

Apalagi menuaikannya dalam satu tulisan. Jujur, Kalau saya, tidak berani. Menurut saya, konflik dalam rumah tangga kita adalah aib dan tabu untuk dibicarakan.

Beberapa pemaparan yang akan saya sampaikan, tidak saya sebutkan identitasnya dengan detail.

Namun cerita ini berdasarkan dari kisah nyata dari beberapa orang-orang yang sudah menjalani rumah tangga, baik itu usia pernikahan lima tahun atau sepuluh tahun.

Semua terangkum dalam: “Tiga hal yang membuatmu bertahan saat pernikahan diujung perceraian.”

Kali ini saya akan berbagi cerita,

Bagaimana menghadapi konflik rumah tangga?
Apa saja yang perlu dipikirkan saat konflik terjadi?
Apa saja yang membuatmu bisa menyelesaikan konflik yang sedang terjadi?
Kalau kita pahami, sebenarnya pada agama manapun, perceraian adalah hal yang di benci dimata Tuhan.
Lalu, mengapa harus memilih bercerai atau bertahan saat pernikahan diujung perceraian?

Jawaban saya satu, selama pasangan tidak melakukan tindakan KDRT dan Perselingkuhan, maka kita perlu mempertahankannya.

Fuiiih…

Pada kasus tersebut menurut saya adalah pembahasan yang berat.

Meskipun demikian, ada juga beberapa wanita hebat yang bisa bertahan dalam rumah tangganya.

Diantara mereka ada yang memiliki pasangan temperamen, sehingga terjadi KDRT,

Adapula wanita hebat yang bisa bertahan dalam rumah tangganya, padahal suaminya memiliki perilaku diluar dugaan setelah menikah.

Ada diantaranya ternyata pasangannya memiliki kepribadian ganda, poligami, hiper**x dan sebagainya.

Mereka benar-benar wanita hebat.

Sebuah tanda tanya besar menyeruak dalam benak ini.

Mengapa mereka mampu bertahan dengan pernikahannya?

Sedangkan kita?

Bagaimana disaat dihadapkan konflik dengan pasangan?

Pemikiran bahkan perkataan seringkali muncul adalah:

“Kata cerai”

“Ingin kembali ke orang tua”

“Tidak mampu bersama lagi”

“Sudah lelah”

“Cinta saya sudah rapuh”

“Dia tidak mencintai saya”

“Sudah tidak ada kecocokan”

dan sebagainya.

Konflik rumah tangga cukup banyak ya selain KDRT dan perselingkuhan.

Misalnya nih konflik karena merasa kurang perhatian dari pasangan, orangtua yang terlalu ikut campur, capek atau jenuh dengan rutinitas, kesenjangan pendapatan suami dan wanita berkarir, tersinggung, cemburu, perbedaan selera, pembagian tugas rumah tangga, beda pendapat dalam mengurus anak, krisis ekonomi atau bahkan yang sering terjadi adalah salah paham. Semua itu pernah saya pelajari di Mata Kuliah Psikologi Keluarga, saat saya mengikuti perkuliahan S1 Psikologi.

Waah, jadi kangen hawa Unair, kampus dimana saya mencium aroma pagi, siang dan sore bersama teman-teman yang baik dan diajari para dosen yang bersahaja.

Apa yang saya pelajari semua adalah ilmiah, bagaimana suatu pasangan dalam rumah tangga itu bisa konflik karena hal-hal diatas, bahkan masalah sepele sekalipun.

Bertengkar dalam hubungan suami istri itu wajar, dan terjadi pada semua orang.

Kita perlu ingat note diatas, sehingga kita tidak merasa sendiri yang mengalami kesedihan disaat bertengkar.

Kita tidak sendiri mengalami dilematis antara harus melawan atau mengalah.

Kita tidak sendiri mengalami pertengkaran hebat dengan pasangan.

Bukan hanya diri kita yang  berpikir harus bertahan atau bercerai.

Terlepas dari sudah memiliki buah hati atau belum dari hasil pernikahan, konflik tetap pasti akan terjadi.

Mengapa?

Karena memang “pasangan” adalah seseorang yang pertama harus kau ajak komunikasi, orang pertama yang melihat perubahanmu setelah menikah baik fisik dan psikis.

Saya ingat Ayah pernah berkata, mau pacaran berapa tahunpun, pasti tetap menemui konflik. Bahkan tidak menjamin bebas dari Perceraian.

Usia pernikahan saya memasuki tahun ke lima, dan bukan berarti saya tidak pernah bertengkar hebat dengan pasangan, namun memang benar, disetiap penyelesaian masalah luka batin akibat pertengkaran tidak bisa langsung hilang begitu saja, bahkan bisa menjadi tambahan disaat terjadi pertengkaran selanjutnya.

Hingga ada disuatu masa dimana, kami memiliki hal lain yang lebih penting daripada keegoisan kami, lebih penting daripada mempertahankan pendapat dan saling ingin mendapatkan perhatian. Alasan lain itu adalah Allah, Anak dan Aku.

Mencintai dia karena “Allah”

Tidak ada cinta seratus persen untuk sesama manusia, karena hanya untuk Allah.

Jika kita memiliki anggapan cinta 100% maka disaat pasangan melukai kita, kita bisa menjadi orang yang kehilangan arah bahkan kasus mengakhiri hidup hanya karena merasa dihianati pasangan kerapkali terjadi.

Setiap orang itu tidak luput dari berbuat salah, termasuk pasangan kita sendiri. Kita harus mengakui disaat pertengkaran berhimpitan dengan khilaf, maka ada beberapa perbuatan kita yang tidak baik.

Namun tetap disaat pertengkaran selesai, kita perlu menyadari. Disaat semua sudah berkepala dingin, kita perlu meminta maaf dan berkomitmen agar tidak mengulangi perbuatan-perbuatan yang kita lakukan yang kita anggap tidak baik.

Biarkan luka itu sembuh, walau terkadang sebenarnya terasa berat.

Mencintai dia karena “Anak”

Anak memiliki hak untuk mendapatkan perhatian dari para orang tua. Kita pernah merasakan adanya kedua orangtua dimasa kita tumbuh dewasa, namun bila memang kalian berada pada masa dimana orangtua kalian harus berpisah, jadikanlah pelajaran bahwa kalian tidak ingin hal itu terulang dan terjadi pada anak-anak.

Sebagai orang tua pasti menyayangi anak-anak. Dan satu hal, bukanlah hal yang mudah anak tumbuh tanpa salah satu orang tuanya.

perceraian
perceraian
Mencintai dia karena “Aku”

Dan terakhir adalah “Aku”. Bukan diri kita saja yang banyak berkorban untuk kepentingan keluarga kecil kita, melepaskan semua peran dan memilih menjadi peran pendamping hidup, menjaga dan merawat anugerah yang telah diberi oleh Allah, namun pasangan kita juga demikian.

Pasangan adalah sosok yang sama seperti diri kita. Berasal dari keluarga terdahulunya, melepaskan semuanya demi diri kita. Mengorbankan semua waktunya untuk kita, dan membuat janji suci secara Agama untuk berada disamping kita.

Dia bisa dengan lantang menyebutkan alasan ini, bahwa Diri kita adalah pilihan terbaiknya. Kita pun harus bisa dengan lantang menyebutkan bahwa, jika diri kita dan pasangan bercerai dan memilih orang lain, maka pertengkaran juga pasti akan datang juga.

Sehingga kita lebih baik mencoba mengelola emosi, meredam semua ego. Berkomitmen dengan Sang Pencipta dengan pasangan yang telah kita pilih.

Baca cerita saya lainnya : Surprise Wedding Anniversary

Yuk kita intip cerita pasangan lainnya.

Mereka yang sudah menjalani pernikahan 11 tahun
Bukan tidak pernah ia bertengkar hebat dengan pasangannya, namun yang membuat mereka bisa bertahan adalah ia percaya pada cintanya, percaya pada pasangannya, dan ternyata pasangannya dia adalah pacar pertamanya. Jadi kalau zaman sekarang namanya mungkin bisa dibilang susah move on alias tipe setia ya.. heheh beda tipis tapi bagus banget buat membina hubungan agar tetep langgeng.
Pertengkaran hebat mereka terjadi di tahun ke 3. Sekarang mereka mampu mengelola emosinya untuk menjalin pernikahannya lebih baik. Apa mereka sudah punya anak? Jelas sudah, malah sekarang akan ada calon bayi yang kedua.
Mereka yang sudah dalam pernikahan 10 tahun 4 bulan
Pertengkaran hebat dalam pernikahannya terjadi ditahun ke 6. Dan konfliknya bisa selesai dengan mengingat komitmennya diawal mereka menikah, adalah untuk Allah, dan syukur alhamdulillah ia pun memiliki suami yang lebih mengalah.
Nah teman-teman tidak perlu envy dibagian ini, karena setiap pasangan memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, termasuk diri kita. Bisa jadi ia mampu mengeluarkan pendapatnya dengan komunikasi yang baik dengan pemilihan kata yang tepat dan menjaga intonasi nada bicara, sehingga pasangan menjadi bisa lebih sadar dan mengalah. Maka pada bagian ini, kita perlu meningkatkan skill komunikasi kita dan belajar lebih banyak kosakata positif ya teman-teman. Lalu untuk Alasan ketiga, menurutnya ia mampu bertahan adalah karena Anak.
Kalau pikiran kita masih bertanya, mengapa mempertahankan demi anak mengapa tidak bertahan pernikahannya karena cinta seperti di film-film romantis ataupun drama?

Kita bisa menjawab hal itu dengan melihat cerita nyata lainnya?

Sahabat, saya punya teman bernama mbak Tata seorang blogger yang melengkapi cerita  tentang Bertahan ditengah Badai Pernikahan. Jadi sebenarnya kalau kalian sedang konflik dengan pasangan, coba deh pertanyakan kembali :

“Kalian menikah untuk apa?

Jelas bukan untuk main-mainkan?

Ada momen romantisme yang kalian tunggu, bahkan foto prawedding disiapkan begitu sempurna”

pernikahan dan perceraian
pilihan untuk menikah

“Mengapa memilih dia untuk menikah?

Pasangan kalian saat itu apa sudah yang terbaik bukan?

Semua mantan kau abaikan, bahkan kau merasa jadi pemenang bagi mantan pasangan”

“Bagaimana anak-anak kalian?

Apa tidak sayang anak-anak yang lucu menjadi anak-anak yang selalu bersedih?”

“Apakah dulu kalian pernah bermimpi ingin hidup langgeng hingga di masa tua dengan pasangan? melihat anak, cucu bersama dan bahagia”

Hal-hal diatas bukanlah hal yang terbebas dari pertengkaran, jadi jangan sampai terlalu bebas melepaskan emosimu.

Agar kata-katamu bisa lebih terjaga, dan menahan sikap juga baik agar tidak ada luka yang dalam. Itulah namanya mengelola Emosi.

Akan lebih baik menjalin emosi dari sekarang dengan pasangan, untuk mendapat kehidupan yang harmonis di masa mendatang.

Lalu bila pernikahanmu banyak dipengaruhi oleh orangtua atau mertua bagaimana?

Artikel tersebut menjadi guestpost di Channelbunda.com bisa klik di tautan berikut Mertua Idola dan Menantu Idola.

Salam hangat,

Dewi Adikara.

sumber foto: pixabay.com

6 Comments on “Tiga hal yang membuatmu bertahan saat Pernikahan diujung Perceraian”

  1. Terima kasih Bunda Dewi 😊
    Sangat membantu sekali artikel satu ini …
    Setelah baca ini jadi lebih intropeksi diri lagi n memperbaiki apa yg belum baik terutama dalam mengontrol emosi….
    Semoga Bahagia Selalu Bunda Dewi dan Keluarga,Aminn YRA..

    Ditunggu next artikelnya Bunda 😊

    1. Alhamdulillah, terimakasih mbak Resty.. Semoga bisa memulai dari diri kita sendiri mengelola emosi dan bisa memberi teladan pada pasangan. InsyaAllah Allah tidak tidur, Ia pasti menjaga umatnya. Amin.. Apalagi menikah itu adalah ibadah. Semoga selalu langgeng ya keluarga mbak Resty..

Terimakasih sudah membaca, yuk menulis komentar agar saya bisa lebih mengenal teman-teman dan bw balik. Mohon tidak menaruh link pada komentar ya, jika ada link maka otomatis "delete"