Memilih TK

Tips Memilih TK

Bagikan Artikel ini

“Karena TK itu kan taman kanak-kanak yang basicnya belajar sambil bermain.” Begitulah awal pembicaraan saya dengan psikolog. Menjadi orangtua pasti ingin memberikan yang terbaik buat anak. Bukan hanya asupan makanan bergizi, kontrol rutin imunisasi anak, tapi juga perkembangan kepribadian anak pasti kita pikirkan jauh-jauh dari sebelumnya. Sehingga disaat anak memasuki usia sekolah, kita harus mencari berbagai sumber informasi terkait Tips Memilih TK (Taman Kanak-Kanak).

Kita pasti berharap anak menjadi pribadi yang baik. Pasti kita tidak mudah memasukkan anak kesayangan kita ke sekolah yang kita belum tahu bagaimana latar belakangnya. Orang tua sekarang makin pintar. RALAT, dituntut harus Pintar. Mengapa? Karena sudah memilih sekolah yang terbaik buat anak pun, terkadang keamanannya masih saja harus dipertanyakan. Karena tidak sedikit berita yang pernah tersebar di media ada oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. MasyaAllah semoga kita dijauhkan dari kejadian-kejadian tersebut.

Sahabat blogger, saya akan menceritakan bagaimana Tips Memilih Taman Kanak-Kanak (TK) dari seorang Psikolog Pendidikan lulusan Universitas Indonesia (UI), bernama Putri Saraswati, S. Psi., M. Psi., Psikolog.

Psikolog
Psikolog dan juga Ibu dari seorang anak

Pada tahap pembelajaran anak usia Taman Kanak-Kanak diperlukan belajar tentang nilai-nilai yang BAIK dan buruk, yang BENAR dan salah, yang BOLEH dan gak boleh Terkait Kehidupan Sosial, Akademik dan Emosinya. Belajar nilai-nilai Sosial sambil bermain, misalnya bagaimana harus berbagi, memberi, menerima, mengantri, berterima kasih, meminta maaf dan sejenisnya dalam bentuk pembelajaran yang menyenangkan. Belajar sambil bermain dalam hal akademik seperti mengenal huruf, mengenal angka, mengenal warna, memegang alat tulis, menggunting, mewarnai, melipat, masuk sekolah tepat waktu, belajar bangun pagi dan sejenisnya dengan pembelajaran yang menyenangkan.

belajar
belajar sambil bermain

Belajar sambil bermain terkait emosi, misalnya bagaimana bertindak ketika ada teman yang menganggu, ada teman yang membuat marah, sedih, bagaimana cara penolak hal yang tidak diinginkan atau tidak disukai. Semuanya sebaiknya dengan pembelajaran yang menyenangkan.

Baca Juga : Depresi dan cara menanganinya

Jadi ketika memilih sekolah juga orang tua sebaiknya memastikan bahwa lingkungan sekolah memberikan dan mengajarkan hal itu. Bukan malah menuntut dan memaksa sehingga anak merasa tertekan. Cari sekolah yang bisa mengajarkan anak-anak kita tentang itu, dengan cara yang sabar dan telaten. Misalkan, jika anak datang terlambat tidak dimarahi, tetapi diberitahu dengan baik “Alhamdulillah sudah datang ke sekolah, ayo masuk, besok bangunnya lebih pagi ya” atau “Alhamdulillah sudah datang, tidak apa terlambat kan masih belajar, besok bangun lebih pagi ya supaya tidak terlambat”, bukan malah diejek atau dimarahi.

Contoh lain, saat mereka mengenal huruf atau angka masih terbalik-balik, anatar b dan d, 6 dan 9 atau menulis angka 3 seperti huruf E. Kita bisa lihat respon gurunya, guru yang paham akan perkembangan anak TK, akan mengatakan “tidak masalah, kan baru belajar, yang betul begini… (Sambil membetulkan penulisannya)”, bukan malah melabel negatif anak/mengejek/memaksa untuk bisa.

sekolah

Jadi yang pertama di lihat adalah:
1. Kemampuan dan pemahaman guru akan perkembangan anak TK.
2. Kesabaran dan ketelatenan guru.
3. Sistem aturan di sekolah itu, bukan menuntut tapi mengajari anak dengan menyenangkan. Bukan melabel negatif anak tetapi memberi semangat dan contoh hal yang baik.
4. Keamanan sekolah, aman dari bullying, aman dari orang asing (akses keluar masuk orang, teramani oleh mata, sehingga meminimalkan hal-hal yang tidak kita inginkan yang terjadi pada anak kita).
5. Bagaimana sekolah dan orang tua dalam mengkomunikasikan perkembangan anak.

anak sekolah

Sebaiknya orang tua mencari sekolah yang membuka akses komunikasi yang baik akan perkembangan anak, misalnya dengan buku penghubung, pertemuan rutin dg orang tua, dan sejenisnya. Selain itu kita harus memperhatikan aspek kemandirian dan kebersihan anak. Orang tua perlu memastikan bahwa sekolah juga memperhatikan hal tersebut. Misalnya diawal sekolah biasanya anak yang tidak pernah berpisah dengan orang tuanya butuh waktu yang lebih lama dalam adaptasi, sehingga cari sekolah yang memahami hal tersebut.
Untuk kebersihan, kita bisa lihat apakah guru mengajarkan cuci tangan sebelum dan selesai makan.

Seorang psikolog yang juga sebagai ibu dari seorang anak ini, juga memberikan kesempatan teman-teman bila ingin membicarakan masalah pendidikan dengan cara mengirimkan langsung di email psaraswati@umm.ac.id atau bila ingin bertemu langsung saat ini ia dinas sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Malang.

Semoga bermanfaat ya teman-teman..

Salam ceria,

 

Dewi Adikara

Sumber foto: www.pixabay.com

Dengan meninggalkan komentar positif akan menjadi perkenalan untuk saya bw balik. Mohon tidak menaruh link pada komentar ya, jika ada link maka otomatis "delete". Terimakasih.