Sahabat Blogger

Temanmu akan menggambarkan siapa kamu, maka pilihlah teman yang baik dan mari saling berbagi kebaikan.
Bagikan Artikel ini

Mensyukuri nikmat dari Yang Kuasa – Kata Lelah itu akan menjadi Lillah.

“MasyaAllah … bunda, luar biasa. Bunda nih selain menyayangi anak, juga menyayangi suami,” ucapnya dengan menggeleng-gelengkan kepala.

Tiga bulan lalu, saya baru mengenal orang yang sedang berdiri di hadapan saya. Saat ini dia sering melontarkan pujian. Terkadang membuat saya merasa tergelitik. Di sisi lain, membuat saya harus berpikir kembali apa maksud dari ucapannya.

Saya tidak mudah memberi kepercayaan orang lain untuk masuk ke dalam rumah, apalagi di masa pandemi seperti ini. Sehingga saya dan suami benar-benar memperhitungkan asisten seperti apa yang harus bisa menemani keseharian kami.

“MasyaAllah bunda, luar biasa sambil ngemong adek kakak, bisa banyak pekerjaan yang dikerjakan,” ucapnya di lain waktu.

“Iya bu, saya memang memilih mendampingi mereka. Saya dan suami dulu pegawai tetap tapi memutuskan resign dari kantor untuk membesarkan buah hati kami dengan tangan kami sendiri,” ujar saya sambil memasak siang itu.

Memang walaupun ada asisten, saya tidak pernah sekalipun memberikan pengasuhan anak kepadanya. Mulai dari makan, BAB, bermain, tidur, bahkan BAK para anak-anak di bawah umur enam tahun itu, saya tangani sendiri.

Urusan memasak pun saya kerjakan sendiri. Saya membutuhkan partner yang membersihkan dan menyiapkan bahan dasar makanan, membersihkan rumah dan juga menyetrika. Sehingga waktu saya bisa terbagi untuk mobilitas, bermain dan bekerja dengan anak-anak. Saat eksekusi masakan, kami harus berpisah sementara waktu. Saya meyakinkan bahwa kondisi mereka saat ditinggal benar-benar aman.

Di waktu lainnya saya membagi waktu untuk tetap menjalin silaturahmi dengan keempat orang tua kami. Sebisa mungkin kami rajin mengunjungi dan juga bermalam di sana. Bagaimana pun pintu rumah kedua orang tua pasti selalu terbuka dan mengandung harapan untuk dikunjungi anak-anaknya. Mobilitas saya juga teruji dengan bisnis kami. Bisnis yang mengharuskan kami untuk sangat fleksibel baik dari waktu dan juga memenuhi kebutuhan pasar.

Sebisa mungkin waktu bersama keluarga tetap terjaga. Anak, suami dan juga orang tua.

Saya sempat terheran-heran. Kebiasaan yang seperti ini masih saja disalahin orang lain. Mantan asisten saya sebelumnya, mempengaruhi asisten saya yang saat ini. Saya dikatakan punya bisnis masakan, dan pastinya asisten saya yang sekarang akan menjadi repot karena bisnis masakan yang saya geluti. Astagfirulloh, waktu saya saja sudah untuk mengurus keluarga, dunia online dan bisnis tabung pemadam. Bagaimana bisa ada tuduhan miring seperti itu.

Saya hanya mengelus dada, karena tidak sekali dua kali saya mendengar fitnah dari asisten saya terdahulu. Saya menyikapinya dengan kata “saya tidak perlu menjelaskan diri saya kepada ibu, silahkan ibu menilai sendiri saya bagaimana. Setiap orang pasti punya kelemahan, tapi saya sendiri tidak mau menunjukkan dengan ‘kata’ seperti apa saya. Kalau memang kita berjodoh pasti akan awet.”

Terkadang hati kecil saya berbisik, ternyata tidak seperti bayangan saya masih kecil. Yang memiliki asisten dengan terbebas rasa gundah. Rupanya, ada seni juga bagaimana memiliki asisten sebagai seorang ibu. Saat saya berlaku baik pada setiap orang, nampaknya bukan berarti akan selalu diterima baik. Masih ada saja orang yang dengki dan menyulut api agar emosi kita diuji.

Setiap orang baik pun, masih saja memiliki musuh. Musuh itu tidak berbuat padamu saja, namun ia bersikap sama dengan orang lain di sekitarnya.

Sebuah kalimat yang pernah diutarakan kakak tertua saya. Saya pegang teguh sejak saat SMP mendengar nasihat itu. Saya semakin menyadarinya. Benar. Dari kalimat itu, saya memberi tahu pribadi saya yang terdalam, “tidak perlu kau terluka akan sesuatu. Dia memang berkarakter seperti itu. Kita akan baik-baik saja. Kita fokus saja dengan kebaikan dan menjaga setiap perilaku kita sebaik mungkin. Fokus untuk selalu memperbaiki diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.”

Baca juga: Ngeblog atau Jualan?

Saya merasakan keajaiban dari Yang Kuasa, sedikit demi sedikit, fitnah itu mulai terkuak kebenarannya. Saya tetap fokus dengan kegiatan positif. Saya mensupport mengelola promosi dan menajemen karyawan tabung pemadam. Selain itu, saya membangun jaringan bisnis online, kuliah, mengayomi suami dan anak, serta mengunjungi keempat orang tua kami.

Alhamdulillah, semakin hari saya semakin mendengar kalimat tabayyun darinya,

“MasyaAllah bunda, begitu perhatian sama orang tua. Masih banyak orang yang saya lihat orang mengurus anak malah lupa sama orang tuanya.”

“MasyaAllah bunda, bisa pintar masak, bisa mengurus suami, enggak pernah marah sama anak-anak. Salut saya bunda ….”

“MasyaAllah bunda, anak-anak cerdas. Baik. Itu karena diajarin orang tuanya.”

Kalimat-kalimat penyemangat yang menghiasi keseharian selalu terdengar dan menggelitik. Walau demikian saya tidak mau terbuai dan menjadi sombong. Dengan mengucap rasa syukur, nikmat Allah begitu nyata saat kita mampu menyadarinya.

Baca juga: TikTok menggebrak Dunia, kita manfaatkan?

Saya bersyukur dijauhkan oleh Allah dari orang-orang yang syirik dan dengki. Saya bersyukur bisa menikmati segala hal yang berada di sekitar.

Rasa lelah, deadline tugas, deadline dari rekan bisnis, deadline waktu memasak, membuat masakan bergizi dan enak, PR untuk membuat anak-anak pintar, dan sehat serta hal-hal tidak terukur lainnya, insyaAllah akan menjadi Lillahi ta’ala. Allah menyukai orang yang pekerja keras namun tetap taat kepada-Nya.

Sahabat, sudah mensyukuri apa saja yang terjadi disekitarmu?

Salam,

Dewi Adikara.

%d blogger menyukai ini: