Apa itu POF?

Pof
Bagikan Artikel ini

Apa itu POF?

Barangkali teman-teman sering lihat hastag #pof di linimasa Facebook saya.

Hastagnya kok pakai pof?

Saya yang sudah menari-nari didunia ONLINE, tentu mencari tempat yang bisa mengasah ilmu saya didunia online.

Mari ikut flashback cerita saya ya….

Keinginan belajar yang kuat, membuat saya terus mencari apa yang bisa saya pelajari dan kembangkan. Awalnya saya mencoba mencari privat lesson disekitar saya untuk meningkatkan skill, namun seiring berjalannya waktu ternyata pembelajaran yang paling besar saya harus ketahui tidak jauh dari genggaman saya. Gadget. Media Sosial.

Siapa yang mengaku generasi Millennial…? Angkat tangan…!

Jangan ketinggian nanti ketahuan kalau belum mandi, ups! hehehe….

Baca juga: Mengenal generasi Millennial

Untuk menghadapi tantangan masa kini adalah bersahabat dengan media sosial. Tantangan masa kini menurut saya adalah, banyaknya pembelajaran yang bisa kita dapatkan dari media sosial. Segala macam Issue, Hoax, kelompok yang menyalah gunakan, pembobolan email, akun, bahkan penipuan seringkali menggunakan media ini.

Jadi kita perlu lebih smart dari mereka. Benar?

Kita bisa jadi terjebak oleh teror, pengetahuan yang minim, bahkan ada informasi penting yang terlewatkan.

Hanya karena kita tidak paham media sosial yang berkembang saat ini.

Pengetahuan dan Informasi, sekarang datangnya tidak menunggu kita untuk hadir disuatu tempat, lalu duduk menunggu untuk mendengarkan atau melihat. Tidak pula menunggu surat kabar yang dilempar oleh loper koran.

Kecanggihan teknologi sudah menyiapkan wadah-wadah komunikasi berupa website, kelompok online, bahkan live streaming. Konten berupa teks, video bahkan komunikasi interaktif melalui gadget sangat mudah diakses saat ini.

Bagaimana kita bisa menyaring informasi?

Bagaimana kita bisa menetukan apa yang baik?

Kalau dijaman sekolah kita dahulu, mungkin generasi orang tua kita tidak perlu meresahkan hal itu. Karena gadget tidak merajalela seperti sekarang. Saat ini, rasanya kita perlu banyak belajar agar mengerti bagaimana pergerakan media sosial, dan bagaimana kita bisa memilah dan mengajarkan hal yang baik dan yang tidak baik dari media sosial pada generasi setelah kita. Noted, itu yang terpenting.

Sekarang, saya telah mendampingi dua makhluk mungil titipan Allah SWT. Alhamdulillah saya dipercaya untuk merawat dan mendidiknya. Saya menjadi madrasah bagi mereka. Sepanjang waktu saya berada dalam kehidupan mereka. Ibu Rumah Tangga. Begitu orang-orang melihatnya, namun tak berhenti sampai disana, laptop dan handphone menjadi modal awal saya untuk mengembangkan kemampuan kinerja saya yang terhenti.

Maklum saya alumni dan mantan karyawan. Setidaknya selain saya berusaha memuliakan diri sebagai madrasah anak-anak saya, jiwa bekerja saya masih berlarian diluar, “di dunia online”.

Berpuluh-puluh tahun sebelumnya (kelihatan banget kalau sudah tua ya, hiks…), saat kuliah di Psikologi saya memimpikan menjadi seorang ibu yang ingin mendampingi anak-anak saya. Namun setelah saya lulus, disetiap langkah saya bekerja menjadi karyawan, asisten manager, bahkan calon manager, saya selalu memberikan yang terbaik, karena saya memang suka mengejar prestasi sejak saya dibangku sekolah. Saat saya memiliki hasil memuaskan atas kinerja saya, pikiran saya bertanya:

Mengapa saya tidak mengembangkan usaha saya sendiri?

Kemudian pikiran tersebut terbawa arus kehidupan, bekerja, bekerja, dan bekerja. Pada akhirnya saya menikah, akan memiliki calon buah hati, saya memutuskan untuk berhenti bekerja “ikut orang”. Saya kembangkan bisnis sendiri bersama suami. Alhamdulillah hasil kerja saya cukup berarti, karena saya tidak perlu meninggalkan anak-anak. Mereka tetap melihat wujud saya dikesehariannya.

Setiap berapa menit mereka menyapa, meminta tolong, bertanya, memeluk, mencium, menangis, minta gendong, bermain, belajar, berolahraga bersama, dan lain-lain yang tidak pernah habis dalam menit-kemenit hingga matahari sudah tergantikan oleh bulan dan bintang. Tidak terasa. Sudah mau berganti hari.

Saya mengikuti ritme mereka untuk tumbuh berkembang. Waktu tidur siang tidak pernah tertinggal akibat pekerjaan saya. Hanya satu disaat mereka sulit tidur karena keasikan main, dan ingin main, maka ritme kerja saya yang melemah. Sehingga malam menjadi waktu saya untuk melanjutkan pekerjaan saya.

Anak-anak saya juga adalah anak-anak yang tangguh. Mereka juga mengikuti ritme saya bekerja. Disaat saya sebagai HRM harus menghadapi karyawan secara langsung, maka mereka ikut pada kegiatan saya. Maklum pekerjaan saya tidak melulu online. Bisnis yang saya geluti dengan suami memang secara online, namun tetap produk tersebut berfungsi didunia offline atau nyata.

Produk saya untuk menjaga kewaspadaan, akibat bahaya kebakaran. Produk kita sudah terpercaya dan banyak digunakan oleh perusahaan besar.

globalfire

Harga kami bersaing dan membuka kesempatan besar bagi reseller yang ingin berkembang belajar dan berbisnis bersama kami.

Silahkan bisa klik akun dibawah jika ingin tahu lebih banyak:

 

View this post on Instagram

 

– Ini hasil saya, pilihan hidup saya, ada promo lohūüėä

A post shared by Tabung Pemadam Kebakaran (@surabaya_safety_shop) on

Flashback saya cukup sampai disini.

Saya tidak berhenti sampai di bisnis ini. Keinginan untuk belajar, membuat saya terus mencari komunitas positif yang dapat mengembangkan kemampuan saya.

Emak Berdaya.

Itulah yang diangkat dari kegiatan PoF, tentu bukan saya saja yang merasakan seperti ini. Mereka para emak generasi Millennia, pasti mengalami hal yang serupa. Salah satu rekan saya di dunia blogging bernama mbak Ella Guruh menawarkan kegiatan ini. Si cantik yang tenar di online sebagai konsultan produk kecantikan ternyata tergabung dalam komunitas positif. Namanya adalah, PoF.

Pertama yang saya pikir itu adalah produk kecantikan, dan ternyata bukan sodara…!

Pof

Pilihan saya jatuh di PoF.  PoF Project berkegiatan selama kurang lebihb30 hari. Kegiatan ini mengoptimalkan Facebook yang kita miliki. PoF menyediakan kuliah telegram selama seminggu dua kali, dengan materi-materi menarik dan bermanfaat.

Tujuan dari materi ini adalah agar seluruh perempuan yang tergabung di PoF Project menjadi perempuan berkarya, berdaya dan bertumbuh. Bukan hanya berbisnis, namun juga dalam mengurus keluarga. Emak lulusan POF adalah Emak Berdaya.

dena ibrahim

Pendiri PoF juga generasi Millennial seperti saya. Seorang Ibu.

Ibu cantik itu bernama Dena Ibrahim. Lahir di Jakarta, tahun 1987. Ibu dari seorang anak yang bernama Ibrahim El Haq Fauzi. Menikah dengan Dedi Fauzi. Aktivitas sehari-harinya bekerja di salah satu perusahaan, sebagai staff.

Sejarah PoF.

Berawal¬† dari mengikuti kelas Foto ‚ÄúSmartphone Photography‚ÄĚ yang diadakan secara gratis oleh mba Silma Apriliana. Lalu ia berkenalan dengan sesama peserta yang berlanjut dengan membuat sebuah grup khusus ngobrol, yang di isi oleh sebagian peserta kelas foto tersebut.

Ia senang bekerja dan berbagi, dalam grup tersebut beberapa kali ia sharing mengenai covert selling, dan sebagainya. Ia mengajak teman-teman yang lain untuk mengoptimalkan facebook sebagai wadah berbisnis, keinginan itu diterima baik oleh teman-temannya.

Mereka saling support, saling mengispirasi agar tetap semangat untuk bergerak. Saat itu ia mulai berpikir untuk menjadikan grup tersebut berkarya dan berdaya. Agar waktu berkumpul tak menjadi sia-sia, namun karena kesibukan masing-masing, Ide tidak terealisasi. Pada akhirnya, beberapa bulan kemudian, ia kembali sounding ke teman-temannya untuk segera mengeksekusi harapan dan ide tersebut.

‚ÄúUntuk Sukses itu Butuh Bergerak, dan itu sekarang.‚ÄĚ

Ia berharap dapat mengukir sejarah melakukan hal yang positif, meski itu hanya sedikit. Ia mulai mengajukan ke Group itu program-program yang akan ia buat. Sambil ia memperhatikan, siapa saja kira-kira yang bisa berlari dengannya. Saat itu ia minta mereka untuk mengisi list (daftar yang mau ikut dalam program yang ia buat, yang loyalitas dan yang mau bekerja keras). Hingga akhirnya, ada beberapa nama yang tertera dalam list tersebut.

Ia senang berlari, dan selalu ingin menyelesaikan apapun yang menjadi mimpi atau harapan. Maka, saat ia sudah memegang nama-nama yang akan menjadi TIM. Ia lansung mengeksekusi mereka, memasukkan ke sebuah grup inti yang saya beri nama ‚ÄúOwner POF‚ÄĚ.¬† Mereka adalan Ownernya juga, bukan hanya Dia. Karena mereka bertemu dalam sebuah grup yang sama. Dan mereka semua memiliki hak yang sama. Namun, dalam sebuah Perusahaan tetap harus ada struktur organisasi. Untuk itu, mereka membagi berdasarkan kemampuan dan pengalaman.

Seperti yang pernah ia sampaikan kepada mereka:

“Bahwa kita tidak bisa membuang waktu yang tidak jelas dalam sebuah grup hanya dipenuhi dengan obrolan tidak jelas. Mumpung masih muda, diberikan sehat dan kesempatan. Kita harus berbuat sesuatu yang bermanfaat. Minimal untuk diri kita sendiri. Hingga saat nanti ajal telah tiba, kita sudah ada bekal dari ilmu ataupun informasi baik yang tersampaikan.”

POF Project (Popular on Facebook Project)

Inilah nama yang mereka gunakan untuk Komunitas Belajar Bersama 30 hari. Bukan tanpa alasan mengapa nama tersebut yang mereka pilih. Saat ini berbisnis di facebook masih tinggi peminatnya. Dalam berbisnis di facebook, semakin tinggi rating kita, maka akan semakin besar potensi  untuk Closing.

Semoga kisah mbak Dena bisa menjadi inspirasi kita semua. Bila ada yang baik silahkan diambil ya. Jadi, teman-teman apa rencana kalian saat ini?

Ingin lebih mengenal kak Dena? Berikut link FB kak Dena.

Penasaran bagaimana tergabung bersama PoF?

Silahkan kontak saya dengan klik disini.

Mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan, atau ada beberapa pihak yang tidak tertulis secara langsung. Tidak mengurangi kontribusi adanya PoF, dan persahabatan dalam sahabatblogger.com.

Salam semangat,

Dewi Adikara.

Terimakasih sudah membaca, yuk menulis komentar agar saya bisa lebih mengenal teman-teman dan bw balik. Mohon tidak menaruh link pada komentar ya, jika ada link maka otomatis "delete"