Sahabat Blogger

Temanmu akan menggambarkan siapa kamu, maka pilihlah teman yang baik dan mari saling berbagi kebaikan.
Bagikan Artikel ini

Prevention Plus (P+) Rutgers WPF Indonesia – Baru satu bulan terakhir Dewi menutup kelas antologi “Melepas KDRT jilid 2”. Sebuah kelas dari salah satu penerbit Indie bersama 21 penulis yang Dewi bimbing untuk menghasilkan sebuah karya inspiratif seputar KDRT. Pada kenyataannya, kisah-kisah di dalamnya banyak perempuan yang mengalami KDRT.

Mereka tidak hanya mengalami KDRT fisik, adapula psikis bahkan seksual pun terpapar jelas di sana. Dewi tak sampai hati membaca kisah tersebut sehingga harus memangkas beberapa adegan persetujuan penulisnya. Kisah Faksi tersebut berdasarkan dari kisah nyata dengan subyek yang tentu disamarkan.

Bagaimana sih perkembangan Kasus Kekerasan di Indonesia?

Komnas Perempuan pada tahun 2019 dan meluncurkan data, kekerasan bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional bulan Maret lalu. Dari data yang dirilis, kasus kekerasan terhadap perempuan sebanyak 431.471 kasus, meningkat enam persen dari tahun sebelumnya sebanyak 406.178 kasus.

Total kekerasan berbasis gender online (KBGO) sebanyak 354 kasus sepanjang Januari-Mei 2020 di semua ranah. Jumlah ini sudah lebih banyak dari total laporan pada 2019, yaitu sebanyak 281 kasus. Jenis kekerasan seksual terbanyak di ranah ini adalah ancaman. Yaitu berupa penyebaran foto/video porno atau revenge porn (81 laporan) sejak maraknya kegiatan online di masa pandemik ini.
Kekerasan berbasis gender di sini dalam bentuk kekerasan terhadap perempuan. Dimana merupakan konsekuensi dari relasi kuasa yang timpang antara lelaki dan perempuan, dimana perempuan ditempatkan sebagai subordinat dari laki-laki.

Dewi dan rekan blogger mendapatkan undangan Webinar terkait masalah kekerasan terhadap perempuan. Awalnya Dewi penasaran apa sih Prevention Plus (P+). Mungkin beberapa diantara sahabat pun tidak pernah mendengar hal ini?

Prevention Plus (P+)

Prevention Plus (P+) merupakan program multi-nasional dari sebuah konsorsium internasional terdiri dari Rutgers International, Promundo dan Sonke Gender Justice.
Di Indonesia Prevention + diprakarsai dan dikelola oleh Rutgers WPF Indonesia.

Menurut Rutgers WPF Indonesia, Kekerasan Berbasis Gender (KBG) mencakup serangkaian kekerasan yang lebih luas. Termasuk kekerasan terhadap perempuan dan laki-laki, minoritas seksual, yang identitasnya gender-nonconforming. Kekerasan baik dewasa maupun yangg msh anak, kerap berakar pada ketidaksetaraan gender & norma gender yang berbahaya yang mendorong kekerasan.

Tujuan dan strategi P+

P+ bertujuan mengurangi kekerasan terhadap perempuan. Serta meningkatkan partisipasi ekonomi perempuan dengan pendekatan pelibatan laki-laki sebagai agen perubahan. Mereka mempromosikan nilai maskulinitas yang positif berdasarkan nilai kesetaraan dan nonkekerasan.

Pelibatan laki-laki sebagai bagian dari solusi

Minimnya keterlibatan laki-laki dalam upaya pencegahan kekerasan berbasis gender merupakan salah satu faktor yang membutuhkan perhatian lebih. Dimana sebagian besar program-program yang berkembang selama ini masih berfokus pada pemberdayaan perempuan. Hal itu belum cukup menyasar akar persoalannya, yaitu norma dan relasi gender laki-laki dan perempuan.

Rutgers WPF Indonesia melalui program Prevention+ yang merupakan kelanjutan dari program MenCare+. Dimana program ini ingin mewujudkan kesetaraan gender dan penghapusan kekerasan seksual. Dirasa sebagai suatu kondisi yang ideal bagi pemenuhan hak-hak dan kesehatan seksual dan reproduksi dan membongkar norma-norma gender yang ada.

Prevention+ bertujuan mengurangi kekerasan terhadap perempuan serta meningkatkan partisipasi ekonomi perempuan. Dengan pendekatan pelibatan laki-laki sebagai agen perubahan dan mempromosikan nilai maskulinitas yang positif berdasarkan nilai kesetaraan dan nonkekerasan.

Program ini menggunakan pendekatan yang menyeluruh

Rutgers WPF Indonesia menggandeng mitra lokal di antaranya Yabima, Sahabat Kapas, Rifka Annisa, Damar, dan Rahima. Program Prevention+ sudah berjalan sejak tahun 2016 menyasar 4 wilayah besar di Indonesia yaitu Jakarta, Bandar Lampung, Solo dan Yogyakarta.

Pada tanggal (26/10/2020) Prevention+ membuka Diskusi Media secara online. Diskusi tersebut bertema “Laki-laki sebagai Agen Perubahan Mewujudkan Kesetaraan Gender dan Penghapusan Kekerasan Seksual”.
Narasumber yang hadir pada Zoom Meeting saat itu adalah:

  1. Ingrid Irawati, SGBV PV Rutgers WPF Indonesia
  2. Sofiyan Hd, Manajer Program DAMAR (Lampung)
  3. Pera Sopariyanti, Direktur RAHIMA (Jakarta)
  4. Defirentia One M, Direktur RIFKA ANNISA WCC (Yogyakarta)
  5. Nurlaila Yukamujrisa, Manajer Program Sahabat Kapas (Solo)
  6. Eko Nugroho, Manajer Program Yabima Indonesia (Lampung)

Dalam diskusi tersebut Ingrid Irawati menjelaskan bahwa Program Prevention+ bersifat mencegah atau mengurangi potensi bahaya terabaikannya prinsip kesetaraan gender. Serta bahaya yang mengancam hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi.

Prevention Plus

“Kesetaraan gender tidak dapat dicapai tanpa keterlibatan laki-laki dan remaja laki-laki dalam mengurangi bahkan menghapus kekerasan berbasi gender. Sehingga dengan mengajak mereka melalui program Prevention+. Mereka dapat teredukasi dengan baik dan kami percaya bahwa laki-laki juga adalah agen perubahan untuk menghentikan kekerasan berbasis gender,“ ujar Ingrid Irawati.

Beberapa kegiatan yang dilakukan Prevention+ selama 5 tahun ini, diantaranya yaitu:

  • Diskusi komunitas reguler untuk empat kelompok (perempuan dewasa, laki-laki dewasa, perempuan remaja, dan laki-laki remaja). Dengan menggunakan modul-modul yang mengangkat tema kesetaraan gender dan melibatkan laki-laki.
  • Konseling Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual (KBGS) termasuk pendampingan psikososial dan hukum.
  • Kampanye melalui berbagai media, termasuk media sosial.
  • Advokasi dari tingkat desa hingga ke tingkat nasional, termasuk menghasilkan beberapa Satgas Penanganan Kekerasan Perempuan dan Anak di wilayah Lampung. Serta advokasi penganggaran di Yogyakarta serta advokasi penegak hukum (polisi, kejaksaan).
damar lampung

DAMAR
Sofiyan Hd, Manajer Umum Lembaga Advokasi Perempuan DAMAR mengatakan bahwa dengan adanya program Prevention+ yang melibatkan laki-laki. Semakin banyak laki-laki yang bergerak untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan. Karena selama ini mayoritas mereka diam melihat kekerasan terhadap perempuan.

“Selama ini ada banyak laki-laki yang tidak setuju dengan kekerasan terhadap perempuan. Tetapi karena tidak tersedianya ruang bagi mereka untuk mendapatkan informasi dan wadah untuk bersikap. Ketika kasus itu terjadi akhirnya mereka memilih untuk diam tidak melakukan apapun.

Hadirnya program Prevention+ dari Rutgers WPF Indonesia membuat mereka akhirnya bersuara mendukung penghapusan kekerasan seksual” ujarnya.
“Dengan adanya program ini diharapkan semakin banyak laki-laki yang terlibat sebagai Agen Perubahan mewujudkan kesetaraan gender dan penghapusan kekerasan seksual di Indonesia. Karena sesungguhnya patriarki tidak hanya mengancam perempuan, tetapi juga laki-laki dengan segala kekuasaan, keistimewaan, dan permisif yang dimiliki.

Rahima Pusat Pendidikan dan Informasi

RAHIMA

Rahima telah melakukan penguatan kapasitas terutama dalam membangun keluarga sakinah kepada para kepala KUA (Kantor Urusan Agama) yang ada di empat wilayah yaitu, Kabupaten Gunungkidul, Kulon Progo, Lampung Timur dan Tanggamus.

Pendekatan yang Rahima lakukan terutama dalam hal pemahaman Islam dalam melihat relasi laki-laki dan perempuan terutama dalam keluarga dengan pendekatan mubadalah atau kesalingan. Mubadalah adalah sebuah pendekatan, metode, dan perspektif dalam melihat teks dan realitas dengan menghadirkan laki-laki dan perempuan sebagai subjek. Kerjasama Rahima dengan KUA adanya buku panduan petunjuk teknis penasihatan dan konseling pra nikah sebagai upaya mewujudkan keluarga yang bahagia tanpa kekerasan.

YABIMA

Yabima Indonesia fokus pada hasil perkembangan dalamsatu area, dimana kegiatan utamanya adalah serial diskusi komunitas (dewasa dan remaja). Tiga kabupaten : Lampung Timur, Lampung Tengah, dan kawasan
konflik Agraria Mesuji. Desa : Purwokencono, Gunung Pasirjaya, Negeri Jemanten, Kedaton, Rama Nirwana, Mesuji.
Tema-tema (Isu strategis) seputar pelibatan laki-laki untuk mewujudkan masyarakat
yang adil gender:
● Pendidikan politik petani dan posisi perempuan (petani) di dalamnya.
● Pendidikan politik pangan dan posisi perempuan (petani ) di dalamnya.
● Pendidikan ekonomi keluarga petani.

RIFKA ANNISA Wcc
Patriarchal Power (budaya patriarkhi): Budaya patriarki memberikan laki-laki kuasa lebih dibanding perempuan. Kekerasan seringkali digunakan laki-laki untuk mempertahankan kekuasannya.
Previlage & Entitlement: Laki-laki dalam masyarakat seringkali diperlakukan dan diberi istimewa, sehingga laki-laki merasa lebih berhak melakukan sesuatu karena keistimewaan itu. Kekerasan terhadap perempuan oleh laki-laki dapat terjadi karena laki-laki merasa berhak melakukannya, misalnya untuk mengontrol atau menghukum perempuan.
Permission: Kekerasan dapat terjadi karena adanya budaya permisif terhadap perilaku kekerasan, orang cenderung diam, tidak melakukan tindakan pencegahan pada kekerasan oleh laki-laki terhadap pasangannya, menyalahkan korban, membangun justifikasi atas perilaku kekerasan yang dilakukan laki-laki, dll

laki-laki tidak selalu bisa memenuhi idealitas menjadi laki-laki yang dinginkannya. Ketidak mampuan laki-laki tersebut dapat menimbulkan krisis maskulinitas, sehingga laki-laki dapat melakukan pengontrolan atau pelampiasan pada orang lain, umumnya perempuan yang posisinya dianggap lebih rendah untuk menunjukkan atau mempertahankan kuasanya. Patriarkhi bukan saja struktur yang membenarkan kuasa laki-laki atas perempuan, tapi juga laki-laki atas laki-laki lainnya.

Laki-laki dibiasakan untuk menekan emosinya, sehingga ketika tekananan itu begitu kuat, maka ia bisa menjadi bom waktu yang muncul dalam bentuk perilaku kekerasan. § Laki-laki dibiasakan untuk menampilkan dirinya kuat dalam situasi apapun, dan menekan emosi. Sehingga laki-laki kurang bisa berempati, karena tidak dibiasakannya laki-laki untuk mengolah emosinya. Sementara laki-laki dengan kemampuan berempati akan lebih mungkin tidak melakukan kekerasan.

Laki-laki dengan pengalaman kekerasan pada masa sebelumnya berpotensi melakukan kekerasan ketika ia dewasa. Cara mendidik lakilaki pada masa kecil seringkali menggunakan cara-cara yang keras. cara menjadi laki-laki tersebut seringkali membawa konsekuensi negatif bagi laki-laki, diantaranya berupa perilaku kekerasan oleh laki-laki.

Defirentia One M, menjelaskan bahwa dengan melibatkan laki-laki sebagai agen perubahan. Maka dengan demikian laki-laki tidak hanya dilihat sebagai bagian dari masalah. Maksudnya di sini ‘masalah’ dalam konteks laki-laki sebagai pelaku kekerasan terhadap perempuan dan anak. Tetapi juga dilihat sebagai bagian dari solusi terhadap masalah untuk mencegah kekerasan.
Menurut data yang diperoleh laki-laki adalah kelompok silent majority. Mereka yang sesungguhnya juga memiliki keprihatinan dan kepedulian dengan tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak namun belum menyuarakan pendapatnya. Laki-laki walaupun mendapat keistimewaan dari konstruksi gender dalam budaya patriarki sesungguhnya juga mengalami kerugian dari konstruksi gender yang tidak setara tersebut sehingga laki-laki juga mengalami hambatan dalam pengembangan dirinya.

SAHABAT KAPAS

Nurlaila Yukamujrisa, Manajer Program Sahabat Kapas memaparkan kegiatan konseling yang sudah berjalan. Dimana konseling tersebut dilakukan pada pelaku kekerasan seksual.
Konseling ini diberikan pada anak (remaja) laki-laki pelaku kekerasan berbasis gender di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA).

Konseling kelompok konseling kelompok melibatkan petugas terlatih dlm perannya sebagai actor rehabilitasi anak. Keterlibatan petugas sangat berpengaruh pada proses perubahan anak.
Ada 13 petugas di 3 LPKA (Tangerang, Kutoarjo, Yogyakarta) dilatih tentang konseling pencegahan kekerasan berbasis gender agar memiliki perspektif adil gender dan ramah anak.
Dalam menjalani proses ini disediakan ruang konseling khusus bagi anak di LPKA Kutoarjo dan Yogyakarta.

Sesi webinar yang berlangsung selama dua jam itu, menambah wawasan kita bahwa perilaku kekerasan terutama seksual memang sangat meresahkan dan belum mencapai solusi yang efektif jika hanya dilakukan pada pemberdaan perempuan, namun laki-laki memiliki peran penting dalam agen perubahan tersebut.

Baca juga:

Semoga upaya untuk memberantas kekerasan baik dalam hubungan interpersonal atau pun komunitas bisa semakin banyak dilakukan. Selain itu diharapkan semakin banyak orang yang bisa terbantu khususnya terlepas dari Kekerasan Seksual.

Sahabat … cari tahu lebih banyak yuk di website dan akun Rutgers:

www.rutgers.id
Instagram: rutgerswpfindo
Twitter: rutgerswpfindo
Youtube Channel: Rutgers Indonesia

Salam,

Dewi Adikara

Referensi:

Materi dari Narasumber dalam webinar diskusi online Prevention Plus (P+) Rutgers WPF Indonesia.

%d blogger menyukai ini: