Review buku Kemana perginya para perwira

Bagikan Artikel ini
bilkitabah sejarah perjuangan

Sebuah kebanggan bisa review buku Kemana Perginya para perwira. Karena sebagian isi dari buku ini adalah berdasarkan kisah Nyata. Terus terang awalnya saya takut membaca buku ini, karena tidak dipungkiri saya jadi merasa flashback ke belakang, seperti ikut berada di jaman perang. Bagaimana bisa masyarakat Indonesia dahulu bisa hidup tenang diantara bunyi tembakan, dan kepulan asap dimana-mana. Sedangkan sekarang, kita bisa berseliweran menikmati wahana di seluruh Indonesia dengan bebas. Semua itu berkat perjuangan beliau, Pahlawan terdahulu kita.

– Apakah kamu tahu? . Perhatikan Buku itu.. Bendera MERAH PUTIH benar-benar Berkibar.. . Kepulan ASAP dari tembakan, meriam dan gencatan senjata benar-benar menguap diantara bumi dan langit.. . Surabaya Merdeka, Surabaya kota Pahlawan, bukan sekedar Suro dan Boyo.. . Buku persembahan dari @roodebrugsoerabaia_corner membuat jantung berdegup, darah mendesir mengalir, dan wajah memanas karena mereka dulu benar-benar Ada.. . . “Kemana Perginya Para Perwira?” . . Semoga Indonesia senantiasa makmur dan aman.. Amin.. . . Terimakasih pada mbak @ayutanimoto karena saya sudah diberikan kesempatan menjadi saksi dari cerita buku ini. #Surabaya #indonesia #Kemanaperginyaparaperwira #booksinstagram #library #desain #creative #desainer #pahlawan #soerabaia #merdeka #merahputih #war #superhero #pentigraf #bukupentigraf #litera #libraries

A post shared by dewi_adikara (@melani_pryta_dewi) on

Saya merasa sedih dan hati menangis, mengingat bagaimana pengorbanan mereka terdahulu. Kita sekarang tidak menginginkan kejadian itu terulang lagi bukan? Maka tidak ada salahnya kita kembali menumbuhkan bahkan menguatkan rasa cinta kita pada tanah air kita. Rasa bangga dan syukur yang besar pada mereka para pejuang kita. Memberikan doa terbaik kita pada para pahlawan kita.

Setelah membaca buku ini saya sangat bersyukur bisa menikmati keadaan sekarang. Para Pahlawan terdahulu begitu kuat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, coba kita sekali-kali mengheningkan pikiran. Adanya buku ini bisa mengingatkan kita pada romantisme era perang kemerdekaan di Surabaya, membawa kita dalam alur turbulensi revolusi di Surabaya dan Indonesia.

Berikut salah satu kutipan tulisan mas Ady Setyawan dengan judul Senyuman Sahabat, berdasarkan kisah nyata, wawancara veteran pejuang Malang yang enggan disebutkan namanya.

Tumpang, Agustus 1947, tanggal tidak teringat. Kami berlari sekuat tenaga menembus gelapnya ladang penduduk desa. Kulit yang perih akibat goresan entah itu duri, ranting tajam atau sayatan ilalang yang basah oleh keringat tidak kami pedulikan, Kami tersengal. Suara-suara letusan dibelakang sana, desingan peluru dan teriakan-teriakan mengerikan dari pasukan musuh yang mengejar, “Stoppen jij!!! ekstrimis!!!” Adrenalin semakin memacu kami.

“Taaaasssh…”. Atmadji roboh hingga berguling-guling, paha kirinya tertembus peluru. Dengan cepat dia memerintahku untuk lari meninggalkannya. Tunggu dulu, meninggalkannya? Dia sudah seperti saudara bagiku, bagaimana aku mampu meninggalkannya? Seakan mampu membaca segala kepanikan, tangannya meraih lenganku yang turut bertiarap disampingmya. Sambil tersenyum dia berkata meyakinkan, “Pergi kang.. lari,, aku pasti baik saja!”

………..

Ini adalah kejadian nyata, dimana seorang sahabat memberikan senyuman tulus yang meyakinkan agar temannya berlari, sedangkan kondisinya saat itu sudah diambang hidupnya, beliau adalah salah seorang yang merupakan Pahlawan kita. Semoga diterima disisi-Nya diberikan tempat terbaik oleh-Nya.

Teman-teman tidak akan ada kata bosan membaca buku ini, karena buku ini merupakan persembahan dari komunitas Roode Brug Soerabaia, sebuah komunitas pecinta sejarah yang terus berupaya mempertahankan predikat Surabaya sebagai KOTA PAHLAWAN. Tulisan buku ini berupa catatan-catatan pendek dari berbagai sudut pandang, baik berdasarkan kisah nyata, terinspirasi dari kisah nyata maupun murni fiksi.

Nah bila teman-teman penasaran ingin memiliki buku ini? bisa langsung menghubungi teman saya yang merupakan cucu langsung dari Mayor Jepang, ia menjadi salah satu kontributor dalam tulisan “Untuk Merah Putih“. Berikut kutipannya :

“…. Kuputuskan bergabung dan berjuang, bukan demi Jepang, tapi demi bangsa kalian, aku ikut kalian. Janji laki-laki. Berkali kukatakan bahwa Jepang adalah saudara Tua. Mulai sekarang, aku bukan lagi atasan kalian, aku ikut  kalian menghadapi sekutu” ……dst.

…. Perjuangannya masih terus berlanjut, dan kini ia lebih memilih untuk membela Merah-Putih.

“Kemana Perginya Para Perwira” adalah sebuah buku kumpulan cerpen dengan latar belakang tahun 1945. Buku ini berisikan lebih dari 20 cerita fiksi dan beberapa diantaranya terinspirasi dari kisah nyata. . Dalam buku ini terdapat dua pentigraf yang menceritakan tentang Jepang di Surabaya. Dua cerita berjudul Arisaka Kosong dan Untuk Merah Putih, tampak seperti tak berkaitan satu sama lain. Namun nyatanya kedua kisah ini akhirnya terhubung, jauh setelah perang itu usai. . “Arisaka Kosong” yang ditulis oleh Mas @adyarcher bercerita tentang seorang bocah yang melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana kepala kakaknya ditembak seorang perwira Jepang dari jarak yang sangat dekat. Kejadian di samping stasiun Gubeng ini mengguncangkan jiwanya,bagaimana dia harus menceritakan pada istri sang kakak yang tengah hamil ? Bagaimana perasaan kebenciannya kepada Jepang? . Cerita kedua berjudul “Untuk Merah Putih” ditulis oleh cucu langsung dari seorang Mayor Jepang yang memilih bertempur bersama Republik. Bagaimana perang batinnya? Ketika perang dinyatakan usai, pulang menuju kampung halaman di Jepang menyambut kedamaian ternyata bertentangan dengan janji hatinya pada rakyat Indonesia. Berlaku sebagai saudara tua…bukankah janji seorang ksatria adalah sebuah harga mati? . Anak mayor Jepang tersebut-lah yang akhirnya menikah dengan anak yang ada dalam kandungan tersebut. Siapa yang mengira jika pada akhirnya saya dan Mas Ady akan berada dalam satu circle pertemanan dan saling membagikan cerita ini. . Jadi sekiranya ada yang tertarik untuk memiliki buku ini, boleh japri saya untuk pemesanan. Harganya 70,000 rupiah, belum termasuk ongkos kirim ya 😃. . Cintai negerimu, kenali kotamu ♥ . *Roode Brug Soerabaia merupakan komunitas pecinta sejarah yang terus berupaya untuk mempertahankan predikat Surabaya sebagai Kota Pahlawan. . . #fiksisejarah #jualbuku #bukusejarah #kumcersejarah #roodebrug #areksuroboyo #pentigrafsejarah #booklovers #historybook #bookaddict #sejarahsurabaya #perangkemerdekaan #1945 #surabayakotapahlawan #bloggersurabaya #bloggerperempuansemarang #kemanaperginyaparaperwira

A post shared by Ayu Tanimoto (@ayutanimoto) on

Silahkan share artikel ini sebagai salah satu bentuk kontribusi anda untuk mengenang jasa para pahlawan terdahulu kita. Semoga membawa manfaat. Terimakasih.

 

Salam,

Dewi Adikara

 

Baca juga: Mengatasi Anyang-Anyangan dengan Prive Uricran

Dengan meninggalkan komentar positif akan menjadi perkenalan untuk saya bw balik. Mohon tidak menaruh link pada komentar ya, jika ada link maka otomatis "delete". Terimakasih.