Menjauhi Pelakor di Musim Pelakor

Bagikan Artikel ini

Musim Pelakor, semoga kita dijauhkan dari arti kata ini, bahkan dijauhkan dari bau-bau ini. Amin.. Menjauhi Pelakor di Musim Pelakor jadi tema kali ini, karena merupakan kolaborasi artikel dengan mbak noninge, salah satu sahabat Blogging yang menyukai dunia buku. Coba deh baca artikelnya “Musim Pelakor

Sebenarnya ga ada yang mau terjebak dalam situasi ini. Kecuali memang Pelakor beneran ya yang memanfaatkan keadaan demi mengumpulkan pundi-pundinya. Sayangnya mereka memang sudah kehilangan Saraf Malu dan Harga diri sehingga bisa berbuat demikian. Duh, semoga insaf dan diberikan pencerahan ya, para pelakor yang mengambil jalan hidup dengan merusak hubungan orang lain.

Saya tidak perlu membahas bagaimana Pelakor bisa berbuat demikian, atau saya juga tidak mau membahas bagaimana caranya agar dijauhkan dari Pelakor. Karena memang pada dasarnya keadaan ini sebenarnya sudah ada cukup lama. Dari jaman belum ada teknologi secanggih sekarang. Jadi dengan kecanggihan media sosial dari mulai sekedar tulisan, bahkan video makin menyeruak berita-berita tak sedap ini.

Tidak malah menyenangkan, tapi malah bikin was-was. Tidak hanya buat pembelajaran tapi juga buat benteng. Tidak hanya buat waspada tapi juga buat curiga. Lalu bagaimana baiknya menghadapi situasi ini?

Paling tidak saya mengambil garis besar segala masukan positif agar terjauh dari situasi ini. Eh, lebih tepatnya temen-temen baca ini ada gunanya ya, ga “mau dimana KEMANA hubungan kita” 😂

Satu garis besar itu adalah: jreng.. jreng..

“KENDALI MELALUI AGAMA”

Bahwa situasi ini sangat riskan terjadi dan bisa terjadi pada semua hubungan. Hubungan pernikahan itu adalah ikatan suci yang berdasar dari Agama. Dan kita harus yakin bahwa agama yang dipeluk setiap orang pasti tidak ada frase Pelakor didalamnya 😅 jadi perlu menjaga hubungan kita, atas nama agama yang kita anut. Segala macam godaan baik itu rayuan atau sentuhan dari orang tanpa Ikatan suci perkawinan itu sifatnya Dosa dan dibenci oleh Tuhan (dalam kepercayaan saya disebut Haram). Jadi percayalah tidak perlu jadi Pelakor, karena jalan ini bisa merusak kehidupanmu, dimasa kematianmu, bahkan setelah masa kematianmu. Maaf ya, kalau terlalu ekstrim.

Loh gimana sih, saya tuh kawatir pasangan saya yang kejebak Pelakor!!? Bukannya saya yang dianggap mau jadi Pelakor.

Nah itulah dia, kita bukanlah bayangan si doi yang bisa menempel kemanapun dia pergi, kita pun tidak bisa memasang cctv di kancing bajunya agar tau segala aktivitas nya diluar, bahkan kalau ketahuan malah si doi bisa Marah gara-gara dianggap ga dipercaya.

bayanganpun tidak menempel

Jadi kekuatan Agama yang kita anut sebenarnya sudah menjadi antisipasi, kita perlu kembali ke Agama untuk merelaksasikan pikiran kita yang was-was. Dan kita perlu menjalin komunikasi ke pasangan khususnya dalam lingkup agama. Perlu kita pelajari kembali nilai-nilai agama dalam suatu hubungan pernikahan, dan kita transfer ilmu ke pasangan. *Ga cuma transfer uang aja😁

Tidak perlu membuka forum dakwah, atau mengenakan baju agama untuk membuka komunikasi ini dengan pasangan. Namun, disaat pasangan kita sedang santai, seperti disaat makan, mau tidur, duduk manis, atau sedang bercanda dengan kita, cobalah kita menyirami hubungan kita. Bercerita tentang memori BAHAGIA disaat berdua, membicarakan tentang kebahagiaan disaat akan dipinang olehnya, membuka cerita baik tentang keseharian anak-anak yang menjadi buah hati kalian, atau kalau memang belum punya anak, mari mencoba membicarakan bagaimana hebatnya hubungan kalian yang bisa produktif disisi yang lain sebelum punya anak. Dan terakhir dan utama adalah, membuka cerita tentang orangtua pasangan, bagaimana kalian menyayangi orangtua pasangan, bagaimana orangtua pasangan menyayangi kalian, *walau drama tentang menantu dan mertua itu masih ada, cobalah singkirkan cerita ini. Karena bagaimanapun seorang anak tidak mau, mendengar orangtuanya di ejek. Jaman SD pun kita bisa ngambek kalau ada yang menghina orangtua kita. Iya atau Iya? Sama seperti pasangan kita, kalau mendengar keluh kesah drama menantu-mertua hatinya sedih, bisa sakit hati juga.

Bangun komunikasi Positif yang isinya Orangtua kita berdua menjadi cerminan, kita ingin langgeng seperti kedua orangtua. Namun kalau kita diposisi yang orangtua bercerai karena sesuatu hal, apalagi karena Pelakor, sampaikan dengan jujur bahwa kita tidak mau mengalaminya kita tidak mau kehilangan pasangan. Bahkan, rasa sakit itu menancap walaupun kita sebagai anak. Ungkapkan kasian anak-anak kita, bila kejadian ini terjadi.

CIta-cita di Masa Tua kita tetap berjalan berdua

Pada intinya kita membangun komunikasi Positif pada pasangan, bukan hanya berpikir curiga bahkan sampai menuduh ke mereka. Sampaikan bahwa kalian menyayangi pasangan dan tidak mau kehilangan dia. Tidak perlu gengsi. Sampaikan pula bahwa kita tidak segan untuk mengusir Pelakor dari hubungan kalian berdua, dengan alasan kamu ingin  bersama nya karena kasih sayang dan cinta yang kalian miliki adalah hubungan yang dengan sadar kalian bentuk UNTUK dimasa tua kalian, dimasa kita semakin tidak berdaya, kita bisa saling menyayangi satu sama lain, saling menguatkan dan memberi dukungan baik fisik atau psikis.

Buka lembaran cerita bagaimana manusia yang menjadi semakin tua dan tidak berdaya, dan satu-satunya yang ada disampingnya kala itu adalah pasangan hidupnya. TAPI perlu digarisbawahi ya, semua ucapan ini jangan di borong apalagi dipaksakan. Bisa-bisa pasangan malah kaget, lah kok pasanganku mendadak jadi ulama. Hehehhe..

Yang penting sikap kalian bisa konsisten, dan menunjukkan pula bahwa kalian komit dengan hubungan yang kalian jalin. Banyak hal yang kamu korbankan agar bisa bersama dengan pasangan. Dan kamu menikmati bukan malah jadi momok atau stress karena pengorbananmu. Kalau sudah usaha sedemikian rupa, sisanya adalah PERCAYA pada pasangan😊.

Semoga ada yang bisa diambil dari sedikit sharing saya ya. Terimakasih.

Baca juga artikel menarik lainnya :

Kenali Karakter Pasangan sebelum Menikah

“Hubungan itu perlu disirami terus, seperti tumbuhan”

Salam,

Dewi Adikara

semua sumber foto dari pixabay.com

2 thoughts on “Menjauhi Pelakor di Musim Pelakor”

  1. Semua harus dimulaibdr diri sendiri ya mbak… dengan tidak menjadi pelakor atau tidak mendekati/menjauhi hubungan yang berpotensi merusak rumah tangga…

Dengan meninggalkan komentar positif akan menjadi perkenalan untuk saya bw balik. Mohon tidak menaruh link pada komentar ya, jika ada link maka otomatis "delete". Terimakasih.