Valentine Day on Marriage

Google image

Saya memang bukan pecinta valentine, namun ya kok pas banget di hari ini saya dan pak suami berderai airmata karena kita saling membuka impian masing-masing dalam kehidupan kami. Bukannya di pas-pasin, tapi memang kebetulan. Dan satu catatan pasti saya, catatan ini adalah Valentine Day on Marriage salah satu cerita Cinta saya dengan pak Suami dalam Pernikahan kami. Moment ini seringkali jadi moment keberanian para remaja mengungkapkan isi hatinya, menunjukkan kasih sayangnya. Dan Indonesia pun menjadi ramai dengan kisah-kisah romantis karena adanya moment valentine. Tidak perlu menunggu tanggal 14 Februari, kita memasuki bulannya saja sudah aroma cinta semerbak harumnya di bulan ini. Bahkan Cerita Dilan, A2DC, berputar-putar mengelilingi disetiap angin yang berhembus.

klik foto untuk sumber foto google
klik foto untuk sumber foto google

Karena memang pada dasarnya saya bukan penganut kepercayaan tentang valentine. Kalau kamu lihat apakah cerita dibalik valentine? mungkin kamu akan menemukan jawaban yang menjurus pada salah satu kepercayaan. Dan mohon maaf sebelumnya sayangnya saya bukan penganut kepercayaan tersebut.

Tapi tidak perlu dipungkiri bahwa Valentine sering menjadi Moment yang ditunggu-tunggu banyak orang, khususnya anak muda. Dan seringkali moment ini menjadi moment kasih sayang disegala penjuru dunia.

Mengawali hari dengan Sholat Subuh, menjalin hubungan dengan Yang Maha Esa, saya bercerita pada-Nya, apa yang sebenarnya saya impikan. impian saya penuh dengan ketulusan, impian saya penuh dengan kasih sayang dan cinta. Mungkin terdengar sepele, atau mungkin biasa, atau mungkin kekanakan bagi teman-teman? Impian saya adalah berada dikeseharian Ayah dan Ibu saya. Impian saya adalah hidup bersama dan merawat mereka berdua. Alhamdulillah sebenarnya beliau berdua memiliki kesehatan dan kekuatan berdiri sendiri jauh lebih baik dan lebih hebat dari pernikahan saya. Namun tetap jiwa saya terpanggil ingin menemani mereka dimasa tua mereka.

Sedangkan pada kenyataannya? Saya tidak tinggal dengan beliau-beliau.

Saya hidup mandiri bersama suami dan anak-anak. Pernah saya berpikir gila untuk mengutarakan hal ini pada ibunda tercinta, namun beliau tidak menjawab dengan pasti, beliau hanya memberikan support untuk bergerak maju kedepan, membangun rumah tangga yang mandiri. Rasa ini seperti saya mengajarkan anak sulung saya untuk berani saya tinggal agar bermain dan belajar dengan teman-temannya disekolah PAUD. Rasa dorongan ibu dengan motivasi kebaikan anak, dan sedikit getaran hati naluri ibu tidak mau kehilangan dan berusaha mengikhlaskan demi kebaikan.

Saya baru menyadari ternyata impian saya membuat saya menangis berkepanjangan, akibat tidak bisa menggapai impian itu karena kenyataan yang sudah ada. Derai airmata pada sang Pencipta tak terbendung. Gundah gelisah hati mengundang pak Suami untuk melaksanakan sholat subuh. Dan kami menjalani pagi seperti biasa. Namun mata kami saling berpandang, menutupi kegelisahan masing-masing. Saya tau pak Suami juga mengalami kegelisahan, yang mungkin saya hanya bisa menerka-nerka. Kami tidak saling mengutarakannya karena kami berusaha jalan berdua, membangun bersama, menggapai tujuan hidup bersama.

Namun ini adalah Titik Kesedihan Kami. Kebersamaan kami serasa Hampa tanpa orangtua.

Mata saya yang sembab tidak bisa dibohongi, pak Suamipun tak menyinggung perihal mata saya. Ia hanya menghargai kesedihan saya yang beberapa terakhir ini memang seringkali kerinduan pada orangtua yang terucap. Bertemu sekali-dua kali dengan Bapak dan Mama bukan menjadi obat rindu, namun malah menjadi kesedihan karena tidak bisa berada disamping beliau-beliau. Dan ledakan tangisan saya tidak bisa saya bendung lagi, tulisan saya di Memo Handphone, saya tunjukkan pada pak Suami. Memo itu berisi tulisan saya tadi pagi setelah Subuh tentang Kejujuran saya perihal perasaan saya, orang tua dan impian. Dan tak luput adalah rasa syukur saya pada Allah karena memiliki Suami yang baik dan bertanggungjawab, serta anak-anak yang cantik dan pintar.

Suamipun membaca dalam hati dan iapun menangis, tidak hanya menitikkan airmata namun derai airmata yang mengalir. Ia pun merasakan hal yang sama. Pada kedua orangtuanya. Maaf kami cengeng, mungkin terlihat lebay. Untuk urusan ini memang kami akui, kami tidak bisa menahan airmata. Karena kami menyadari bahwa kami sebagai anak tidak mungkin menyatukan keempat orang tua dalam satu rumah lalu merawat mereka? Tidak seperti seorang ibu dan ayah yang mampu merawat anak-anaknya dalam satu rumah. Keadaan ini berbeda. Saya masih belum bisa menerima istilah kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah, karena situasi ini begitu sulit. Saya dan suami hanya bisa menangis.

Keadilan untuk menyayangi kedua orangtua kami menjadi sangat membingungkan. Pada akhirnya kami saling berpelukan, meminta maaf satu sama lain, menyayangi dan menjadi semakin kuat bahwa pernikahan kami adalah pernikahan sempurna. Alhamdulillah. Pernikahan yang diimpikan setiap orang. InsyaAllah.

Lalu Nikmat mana yang kau Dustakan?

Apakah menjaga orang tua bagi kami yang telah menikah dan mandiri adalah menjadi sekedar impian?

Saya dan suami membangun komitmen untuk menyayangi mereka semua, menghormati mereka semua, berusaha menjaga mereka semua. LEBIH DARI SEBELUMNYA.

 

Bagaimana hari valentine mu hari ini?

Salam,

Dewi Adikara

 

sumber foto: www.pixabay.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *