Ada apa di tanggal 10 Oktober?

Never Give Up
Bagikan Artikel ini

10 Oktober telah diperingati sebagai Hari Kesehatan Jiwa Sedunia atau dinamakan World Mental Health Day juga digagas oleh World Health Organisation (WHO).

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia pertama kali diperingati pada 10 Oktober 1992. Melansir dari situs resmi World Federation For Mental Health (WFMH), sejak pertama kali pada 1992, peringatan ini diinisiasi oleh Wakil Sekretaris Jenderal World Federation For Mental Health (WFMH), Richard Hunter dan menjadi agenda tahunannya.

Pada 3 tahun pertamanya, Hari Kesehatan Jiwa Sedunia menjadi momentum bagi pemerintah, organisasi, dan individu yang memiliki kepedulian terhadap kesehatan mental, untuk mengatur program yang fokus pada aspek perawatan kesehatan mental.

Hari Kesehatan Mental Dunia tak hanya diperingati selama satu hari. Biasanya, sejumlah kegiatan digelar sebagai upaya edukasi jangka panjang kepada masyarakat. Di beberapa negara, program ini berlangsung selama beberapa hari, seminggu, bahkan dalam beberapa kasus sepanjang bulan. Laporan diterima oleh federasi dari seluruh dunia setelah 10 Oktober setiap tahunnya.

Seiring perjalanan waktu, Hari Kesehatan Mental Dunia semakin berkembang. Melalui peringatan ini, federasi membuka jalan untuk mempromosikan kesehatan jiwa dan menciptakan kesadaran tentang isu-isu yang berhubungan dengan kesehatan mental.

hari kesehatan mental

40 seconds of action

Tahun ini,  WHO mengajak untuk turut berkontribusi terhadap masalah kesehatan mental atau kesehatan jiwa melalui tantangan bertajuk “40 Seconds of Action”. Dikutip dari laman resmi WHO, setiap orang bisa berperan dan berkontribusi mencegah terjadinya kasus bunuh diri. Berdasarkan data WHO, bunuh diri terjadi setiap 40 detik sekali di seluruh dunia. Lebih dari 800.000 orang meninggal karena bunuh diri per tahun, ini menjadi penyebab utama kematian di antara orang berusia 15 hingga 29 tahun.

Melalui Hari Kesehatan Jiwa Dunia, mengingatkan kita bahwa mengakhiri hidup dengan cara pintas bisa terjadi pada siapa pun, tanpa mengenal latar belakang sosial maupun kelompok usia.


Mengutip dari situs WHO, Kamis (10/10/2019), Hari Kesehatan Jiwa Sedunia diadakan dengan tujuan keseluruhan untuk meningkatkan kesadaran akan masalah kesehatan mental di seluruh dunia.

Selain itu, tujuan ini sebagai mobilisasi upaya untuk mendukung kesehatan mental masyarakat.
Peringatan ini memberikan kesempatan bagi semua pemangku kepentingan yang bekerja pada masalah kesehatan mental, untuk berbicara tentang pekerjaan mereka.

Perilaku bunuh diri telah ada sepanjang sejarah manusia, tetapi karena adanya beberapa faktor kompleks, bunuh diri meningkat secara bertahap di semua bagian dunia. Dalam beberapa dekade terakhir, telah mencapai tingkat statistik yang mengkhawatirkan.

Walaupun WHO telah menjadikan bunuh diri sebagai masalah prioritas selama beberapa tahun, penting untuk menekankan bahwa itu adalah topik yang telah menarik minat sebagian besar bidang studi selama bertahun-tahun.

Oleh karena itu, sahabatblogger.com ikut berpartisipasi untuk menyebarkan artikel bagaimana orang beresiko Depresi dan bunuh diri dengan menggandeng Psikolog Klinis.

Upaya ini saya lakukan agar kita bisa lebih sadar akan kesehatan mental diri kita, keluarga, teman, orang-orang disekitar kita bahkan orang lain agar turut memahami dan saling merangkul sehingga memiliki daya juang untuk memiliki semangat hidup jika mengalami suatu masalah.

Depresi dan Resiko Bunuh diri

Oleh: Nila Ainu Ningrum.M.Psi.,Psikolog
(Psikolog Klinis RSM.A.Dahlan Kediri dan Owner Biro Mahya Consultant Kediri) 

Sering Kita Lihat berita- berita di media atau kita temui pada orang di lingkungan kita, yang tiba-tiba meninggal karena bunuh diri.   Dari berita yang bisa kita baca, bahwa korban bunuh diri bisa terjadi pada rentang usia mulai anak- anak yang sudah bisa berpikir, sampai orang yang sudah lansia.Juga dari golongan ekonomi mulai ekonomi rendah / miskin sampai ekonomi atas / orang kaya. Resiko bunuh diri bisa terjadi pada siapa saja.       

Bagaimana Hal ini bisa terjadi?

Perlu diketahui, bahwa penyebab rata-rata bunuh diri adalah putus asa / depresi,mulai dari kasus anak yang dituntut orang tua untuk selalu juara di Sekolah, Kasus remaja yang patah hati karena ditinggal kekasihnya, Kasus orang yang sakit kronis dan tak kunjung sembuh sehingga berputus asa dan mengakhiri hidupnya.  

Ada juga Kasus Pegawai Bank yang tiba-tiba meninggal karena bunuh diri di tempat kerja dan masih belum diketahui penyebabnya. Dan kasus orang lansia yang bunuh diri karena kesepian ditinggal sanak saudara dan anak-anaknya.  

Kasus bunuh diri semakin marak karena banyaknya kasus depresi di hampir semua kalangan.  

Biasanya sebelum Korban bunuh diri melakukan aksinya, mereka terlebih dulu sudah menyimpan perasaan kecewa, marah, putus asa dalam dirinya, karena apa yang diusahakan tidak mencapai tujuan atau apa yang diharapkan tidak terjadi.

Selain itu, mereka juga biasanya sudah memberikan ‘kode’ pada orang di sekitarnya tentang niatan bunuh diri, bisa melalui surat yang mereka sembunyikan, diary / catatan harian dan melalui status di media sosial. 

Korban bunuh diri biasanya sudah sangat lama menyimpan rasa “depresi” dimana ia sangat merasa kesepian, merasa sendiri dan merasa tidak ada dukungan, sehingga mereka menganggap hidupnya tak lagi berguna di dunia dan lebih memilih mengakhiri semua episode kehidupannya lebih cepat dengan “Bunuh Diri”.

TIPS MENGHINDARI KEMUNGKINAN BUNUH DIRI:

1.Menghindari potensi Depresi  

2. Jika ada masalah-masalah yang sekiranya berat, harus ada pendampingan.  

3. Jika sudah terkena depresi,segera konsultasikan ke ahlinya yaitu Psikiater atau Psikolog.

4. Berikan dukungan moral dan sosial untuk orang yang sedang mengalami permasalahan dan jangan biarkan mereka  “menyendiri” 

5. Bagi orang yang beragama, Usahakan lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta sesuai agama dan keyakinannya dan Selalu berbaik sangka pada Sang Pencipta.  

Hindari Depresi , Turunkan Resiko bunuh Diri. 

Semoga bermanfaat ya sahabat.


Salam,
Dewi Adikara.    

Sumber referensi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.