Cara menulis buku untuk Penulis Pemula

tips menulis
Bagikan Artikel ini

“Saya mau memulai menulis saja susah, enggak tahu harus mulai dari mana.”

“Giliran sudah menulis, eh… kok ya banyak yang saya corat-coret, jadi enggak bisa ngejar Deadline deh.”

“Saya enggak punya pengalaman menulis. Baca tulisan saya tuh kok kaku, jadi malu mau nulis.”

Assalamulaikum sahabat…!

Siapa diantara kalian yang memiliki alasan di atas?

Enggak perlu angkat tangan nyerah duluan sebelum kita belum mencoba sesuatu.

Kebanyakan penulis pemula memiliki alasan yang sama kok. Kalian tidaklah sendiri.

Meskipun juga diantara sahabat bukan lah penulis pemula, banyak juga beberapa faktor sehingga membuat aktivitas menulis tertunda dan pada akhirnya karya yang diinginkan menjadi terulur-ulur deh.

Apa saja sih yang sering menghambat kegiatan menulis sahabat?

Banyak alasan di dalamnya:

Mulai dari alasan internal, seperti tidak punya kemampuan menulis, tidak bisa membuat untaian kata, terbatas ide, dan sebagainya.

Alasan eksternal misalnya adalah tidak ada media atau pendukung untuk memulai menulis, tidak punya banyak waktu untuk menulis.

OK…! Noted.

dokter

Kita umpamakan diri kita adalah seorang dokter. Saat dokter berkata “saya tidak punya banyak waktu untuk menghadapi pasien,” lalu bagaimana dikatakan ia seorang dokter?

Mungkin ia memang sudah sekolah kedokteran, namun bila tanpa praktek maka profesinya sebagai dokter pun berasa ada yang kurang. Baik untuk mengasah keterampilan dirinya sebagai dokter, atau pun nilai sosialnya dalam membantu masyarakat yang membutuhkan.

Sama halnya dengan menulis, bagaiman bisa dikatakan penulis, jika ia tidak memulai untuk membuat karya-karya dalam bentuk tulisan?

Apakah menurut teman-teman, penulis itu adalah orang memiliki banyak waktu?

 

Relatif.

Tidak semua penulis adalah orang yang hanya bersantai di depan laptop. Tidak pula ia  selalu memegang kertas dan pensil dalam kesehariannya.

stalking

Bisa jadi mereka adalah para pekerja yang menyempatkan diri untuk berkarya.

Ada kunci bagaimana penulis bisa menyediakan waktunya untuk menulis, di sela-sela kesibukannya pada dunia.

Yuk, simak tips dari saya. Saya juga masih remahan rempeyek dalam menulis kok. Yang penting terus belajar ya 😀

Catat Poin.

Di saat mememiliki ide tulisan segera catat, entah itu di notebook, hp atau laptop. Bisa juga dengan voice recorder.

poin

Buat waktu khusus, BUKAN cari waktu luang.

Kita bukan mencari waktu luang dalam menulis. Jangan menyepelekan aktivitas ini. Maka buatlah “waktu khusus” yang bisa membuat brainstorming. Misalnya di tengah malam atau saat subuh. Tentukan waktu itu. Lakukan self talk, misalnya “saya mau menulis hari rabu malam dan jumat malam. Sediakan waktu khusus, minimal dua malam untuk menulis cerita pendek.

 

pegang hp

Tidak memegang HP, karena bisa-bisa kita buka WA, Instagram, Facebook, twitter, eh enggak jadi nulis deh.

Bebaskan dalam tema.

Stuck Ide. Di saat sahabat telah memiliki waktu untuk menulis, seringnya malah diam seribu bahasa tanpa menulis. Keluarkan saja uneg-uneg yang sahabat pikirkan. Angkat tema yang ingin sahabat uraikan dalam poin-poin. Tidak perlu memikirkan peraturan menulis. Kembangkan saja secara bebas. Biarkan otak kanan bekerja. Otak kanan berkreasi, mengeluarkan semua cerita yang mengalir. Seringkali tulisan bisa berubah haluan cerita saat otak kanan bekerja. Biarkan saja jangan di batasi. Nanti idenya bisa terhenti.

Endapkan.

Karya yang sudah di tulis tutup, biarkan satu malam. Setelah itu coba baca lagi, di sini self editing pada cerita bisa bekerja. Teman -teman bisa mengendapkan dan mengedit naskah beberapa kali dalam waktu yang berbeda.

Selesaikan naskah.

Saat sudah diendapkan, kita membuka naskah dan mengedit lagi.

Mengapa?

Kita menjadi editor bagi diri kita dari segi ide cerita. Yang perlu menjadi catatan penting dari suatu cerita adalah adanya:

Setting, Tokoh, Peristiwa, dan Konflik.

Coba koreksi empat poin diatas sudah ada atau belum. Lalu jangan lupa kasih ending ya.

Kalau kalian masih saja belum puas dengan hasil menulis, coba kembangkan pertanyaan yang memuat 5W1H dalam topik yang sedang kalian angkat.

Dari pertanyaan itu, nantinya sahabat menguraikan jawaban.

Bantai.

Busyeeet… naskahku membludak sampai 10 halaman! Padahal niatnya cuma membuat buku antologi, sekitar 5 halaman!

Nah saat ini, mulailah melakukan pembantaian. Ini yang saya kerjakan di empat project antologi sebelumnya. Dari pengalaman tersebut saya membantai sebagai berikut:

  • karakter tokoh yang kurang kuat, pakai teknik “show don’t tell.”
  • setting terlalu bertele-tele, jadi jika satu lembar cuma berisi setting, silahkan dibantai habis ya. Idealnya setting tak lebih dari satu atau dua paragraf.
  • teknik penulisan dan tata tulis untuk bagian ini silahkan cek langsung bisa online bisa juga download aplikasinya. Misal kbbi, peubi, dsb.

Cari Pihak ketiga.

Hush… jangan berpikir pihak ketiga dalam suatu hubungan ya. Aw… bahaya nih, hehehehe.

Orang pertama tadi, kita sebagai penulis yang bebas ide. Orang kedua adalah kita yang mengedit naskah kita sendiri.

Nah, orang ketiga, maksudnya adalah orang selain diri kita untuk membaca tulisanmu.

Kita perlu menyiapkan mental, karena ada reksi tertentu yang kadang tidak terpresdiksi loh.

Misalnya ditertawakan, diremehkan, di kritik habis-habisan. Kita kuatkan tekad, bahwa tujuan pihak ketiga ini memang untuk membuat karya kita makin kaya dan pantas untuk dibaca secara umum.

Tak perlu ciut kehilangan kepercayaan diri saat menerima kritikan. Saat kita mendapat kritik, saat itu pula kita berkesempatan mendapatkan peningkatan kualitas menulis untuk pembaca.

 

Selesai.

Setelah poin-poin di atas sudah dilakukan, sahabat berarti telah menyelesaikan tulisan dengan baik loh:)

Silahkan setorkan naskah pada editor, jangan lupa berdoa.

 

Saat kita berharap orang membaca tulisan kita, maka kita perlu memberikan tulisan terbaik kita,

Ada beberapa penghambat sepele namun seringkali dilakukan. Coba tebak, apa hayo?

Typo

Jangan sampai naskah kita kaya akan typo. kalau kaya akan ide cerita mah bagus, hehehe.

Menyingkat kalimat

Menyingkat kalimat, cukup bisa menganggu pembaca loh, misalnya nih: spt, aq, tp, drmn, dll, dsb, bgmn. Uraikan saja kalimat tersebut. Budayakan menulis tanpa menyingkat, hilangkan kebiasaan malas.

Tidak konsisten

Saat tokoh naskah dikatakan “aku” lalu di tengah jadi “saya.”

Kejadian ini bagi penulis yang sudah sering menulis juga masih sering terjadi loh, saya pun khilaf, pernah mengalaminya juga.

Kebanyakan Elipsis

Apa itu Elipsis?

Itu loh, kalimat yang pakai titik tiga (…). Ekspresi kita saat menulis, seringkali dibuat elipsis, dan ternyata terlalu banyak pun engga baik. Coba elipsis diganti titik (.) atau koma (,).

Sesuaikan saja dengan kalimat yang kalian buat.

Menulis itu mudah, jika sahabat sudah memiliki niat untuk memulainya.

Menulis juga bisa sebagai media untuk terapi diri sendiri dan juga bisa membawa manfaat bagi orang lain.

Kalau kalian tertarik menulis, bisa hubungi saya di kontak ini (klik).

Alhamdulillah saya memegang beberapa kelas untuk membuat buku bersama (antologi).

Semoga tips di atas bermanfaat ya sahabat…!

salaman
Salam hangat,

Dewi Adikara

sumber gambar :

pixabay.com

8 Comments on “Cara menulis buku untuk Penulis Pemula”

  1. Buat waktu khusus bukan cari waktu luang, noteed!
    Selama ini saya lebih banyak cari waktu luang untuk menulis. Bukan sengaja menentukan waktu khusus. Akibatnya ya begitulah, nulisnya gak kelar-kelar hihihi

Terimakasih sudah membaca, yuk menulis komentar agar saya bisa lebih mengenal teman-teman dan bw balik. Mohon tidak menaruh link pada komentar ya, jika ada link maka otomatis "delete"