Cerita anak: Nabi Adam a.s.

Bagikan Artikel ini

Assalamualaikum sahabat, kali ini Dewi mengangkat topik “Kisah para Nabi.” Kisah nabi sangat menginspirasi masyarakat khususnya umat muslim. Pentingnya cerita ini bisa sampai pada anak-anak agar kisah inspiratif para nabi bisa menjadi tauladan bagi anak-anak sedari kecil. Kemasan Cerita yang Dewi kemas untuk anak-anak, dan bisa jadi cerita pengantar tidur agar mereka bisa menanamkan akhlak yang mulia ke dalam otaknya.

Bukankah waktu yang baik untuk belajar adalah menjelang tidur?

MANUSIA PERTAMA

Allah menciptakan bumi, langit beserta isinya. Allah menciptakan Malaikat dari Cahaya dan Jin dari Api. Kemudian Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah (pemimpin) di muka bumi.” (QS. Al-Baqarah [2]:30).

Para Malaikat kawatir jika manusia yang diciptakan tersebut akan membuat kerusakan di muka bumi.

Malaikat bertanya, “Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi itu orang yang membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?”

Allah berfirman, “Sesungguhnya, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Lalu Allah menciptakan manusia dari tanah, dan meniupkan Ruh kedalamnya. Terbentuklah nabi Adam, yang dibekali Allah pengetahuan mengenai Alam semesta, serta akal pikiran yang cerdas.

Nabi Adam mendapat karunia pengetahuan atau ilmu dari Allah. Sehingga unsur pokok yang membuat manusia menjadi lebih unggul adalah ilmu. Ilmu hadir karena manusia dianugerahi akal. Itulah mengapa ilmu tidak dimiliki binatang. Maka Rasulullah bersabda bahwa mencari ilmu adalah fardhu bagi tiap Muslim laki-laki dan Muslim perempuan.

Sebab keunggulan itu lah Nabi Adam mendapat kemuliaan dari Allah. Malaikat dan Jin diperintahkan bersujud kepada Nabi Adam. Malaikat patuh dengan perintah ini, sedangkan beberapa golongan Jin tidak patuh karena dikuasai nafsu kesombongan.

Allah Murka dan menyebut golongan tersebut sebagai Iblis. Diusirnya Iblis untuk keluar dari Surga. Iblis pun dikutuk sebagai bagian dari kelompok kafir dan calon penghuni neraka selamanya. Iblispun berjanji akan menganggu nabi Adam beserta keturunannya untuk melalaikan perintah Allah SWT.

Nabi Adam berada di surga dengan segala kenikmatan yang ada di surga. Namun ia merasa kesepian, sehingga Allah menciptakan Hawa sebagai teman dan Istrinya. Segala hal yang berada di surga boleh dinikmati, namun satu larangan Allah adalah Nabi Adam dilarang mendekati pohon Khuldi atau memakan buahnya, karena dengan mendekatinya akan menyebabkan mereka termasuk orang-orang yang zalim.

Sayangnya Iblis terus-menerus mengganggu Nabi dan Hawa. Iblis mempengaruhi mereka untuk memakan buahnya. Pada akhirnya, Nabi Adam dan Hawa pun tergoda oleh Iblis, ia melalaikan larangan Allah.

Allah pun berkata kepada Nabi Adam, “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon khuldi dan telah Kukatakan bahwa Iblis itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”

Nabi Adam tampak tidak kuat menahan godaan setan sehingga ia bersama Hawa dikeluarkan dari berbagai kenikmatan itu.

Allah berfirman:

اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ

“Turunlah kalian! Sebagian kalian menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kalian ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan”. (QS al-Baqarah: 36)

Nabi Adam dan Hawa pun tinggal di bumi. Tak seperti sebelumnya, mereka berdua kini tinggal di bumi yang tidak sempurna, mengandung kesenangan sementara, dan sarat hawa permusuhan antarsesama.

Dalam konteks ini, kekhawatiran malaikat bahwa manusia akan membuat kerusakan di dunia dan saling menumpahkan darah, menjadi bermakna. Setelah peristiwa pernjerumusan oleh setan itu Nabi Adam menerima petunjuk (kalimat) dari Allah, lalu melakukan pertobatan.

فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS al-Baqarah: 37)

Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab ad-Durul Mantsur fit Tafsiril Ma’tsur berdasarkan riwayat dari ath-Thabrani dalam al-Ausath memaparkan, ketika Nabi Adam diusir ke bumi, ia mendatangi Ka’bah lalu shalat dua rakaat.

Allah pun memberikan ilham doa berikut ini:

اللّهُمّ إِنّكَ تَعْلَمُ سِرِّيْ وَعَلَانِيَتِيْ فَاقْبَلْ مَعْذِرَتِيْ وَتَعْلَمُ حَاجَتِيْ فَأَعْطِنِيْ سُؤَلِيْ وَتَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِيْ فَاغْفِرْلِيْ ذَنْبِيْ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيْمَانًا يُبَاشِرُ قَلْبِيْ وَيَقِيْنًا صَادِقًا حَتَّى أَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيْبُنِيْ إِلَّا مَا كَتَبْتَ لِي وَأَرْضِنِيْ بِمَا قَسَّمْتَ لِي

“Ya Allah, sungguh Engkau tahu apa yang tersembunyi dan tampak dariku, karena itu terimalah penyesalanku. Engkau tahu kebutuhanku, maka kabulkanlah permintaanku. Engkau tahu apa yang ada dalam diriku, maka ampunilah dosaku. Ya Allah sungguh aku memohon kepada-Mu iman yang menyentuh kalbuku dan keyakinan yang benar sehingga aku tahu bahwa tidak akan menimpaku kecuali telah Engkau tetapkan atasku. Ya Allah berikanlah rasa rela terhadap apa yang Engkau bagi untuk diriku.”

Allah kemudian menjawab doa Nabi Adam:

“Hai Adam, Aku telah terima taubatmu dan telah Aku ampuni dosamu. Tidak ada seorang pun di antara keturunanmu yang berdoa dengan doa sepertimu kecuali Aku ampuni dosa-dosanya, Aku angkat kesedihan dan kesulitannya, Aku cabut kefakiran dari dirinya, Aku niagakan dia melebihi perniagaan semua saudagar, Aku tundukkan dunia di hadapannya meskipun dia tidak menghendakinya.”

Nabi Adam dan Hawa hidup terpisah. Mereka saling mencari, hingga waktu yang telah ditentukan oleh Allah. Nabi Adam dan Hawa terus berdoa, memohon kepada Allah agar mereka bersatu.

 

Hingga pada akhirnya, atas ijin Allah, Nabi Adam dan Hawa bertemu di Padang Arafah, Jabal Rahmah.

padang arafah

Memetik Hikmah dan pesan moral pada anak:

Bahwa apa yang telah ada pada diri ini patut disyukuri, semua berkah berasal dari Allah SWT. Jangan kita melalaikan segala perintah dan sebaiknya kita menjauh dari hal-hal yang dilarang Allah. Jika kita melalaikan maka kita termasuk orang yang zalim dan tidak disukai Allah SWT.

Manusia memiliki Ilmu, namun ilmu saja tidak cukup. Manusia memerlukan petunjuk Allah, ilham/ wahyu atau agama. Ilmu itu penting dan menjadi pembeda antara makhluk yang bernama manusia dan makhluk yang bernama binatang. Namun, agama jauh lebih penting karena ia menjadi jalan bagi setiap orang untuk berada di fitrah kepada Tuhan.

Dengan ilmu saja, manusia masih bisa tersesat.

Peperangan yang mengorbankan jutaan nyawa manusia, kesewenang-wenangan kekuasaan, korupsi uang rakyat, perusakan alam, atau sejenisnya justru berlangsung dan dikendalikan dengan kecanggihan dari perkembangan ilmu.

Ada pula sisi gelap dari kecanggihan teknologi yang disalah gunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, seperti senjata pembunuh, mesin pengerusak, atau perangkat lainnya yang semata-mata untuk keserakahan manusia. Oleh karena itu, agama yang memuat nilai-nilai luhur akan meneranginya.

Agama memberikan garis yang jelas tidak hanya tentang bagaimana beribadah kepada Allah, tetapi juga hubungan antara manusia, bagaimana manusia memuliakan manusia lainnya dan memuliakan alam sekitarnya. Ilmu pengetahuan tentu bisa sangat bermanfaat, saat berjalan lurus dengan ilmu agama.

 

Baca juga: Keistimewaan 10 hari terakhir puasa

 

Salam,

Dewi Adikara

Sumber referensi:

Fitriyani. 2019. Kisah Nabi adam untuk anak. https://id.theasianparent.com/kisah-nabi-adam-untuk-anak diakses pada 13 Oktober 2019

Aqila, Irvan. 2019. Kisah Pengantar Tidur 25 Nabi & Rasul. Jakarta selatan: Penerbit Noura, PT.Mizan Publika (Angoota IKAPI)

Luhur, Alif Budi. 2017. Belajar dari kisah Nabi Adam. https://islam.nu.or.id/post/read/79496/belajar-dari-kisah-nabi-adam diakses 13 Oktober 2019

sumber gambar : nu.or.id

 

4 Comments on “Cerita anak: Nabi Adam a.s.”

Terimakasih sudah membaca, yuk menulis komentar agar saya bisa lebih mengenal teman-teman dan bw balik. Mohon tidak menaruh link pada komentar ya, jika ada link maka otomatis "delete"