Cerita Anak: Nabi Idris a.s.

Bagikan Artikel ini

Assalamualaikum sahabat ….

Kenapa sih kita perlu tahu kisah Nabi?

Bagi Dewi, dari kita mengetahui kisah Nabi, wawasan kita bisa semakin bertambah. Apalagi Kisah para Nabi sangat menginspirasi dan mengandung nilai-nilai moral yang sangat baik.

Kisah Nabi Idris a.s.

Nabi Idris adalah nabi kedua yang diangkat oleh Allah SWT setelah nabi Adam.

Nabi Idris adalah nabi yang cerdas, pandai, dan memiliki kemampuan belajar yang luar biasa.

Kepandaian Nabi Idris diantaranya adalah beliau mampu menulis dengan pena, menguasai ilmu alam, berhitung dan berkuda. Beliau memiliki kepandaian yang beragam. 

Beliau mampu menguasai berbagai bahasa sehingga mudah berkomunikasi dengan orang lain. Beliau juga pandai membuat rancangan rumah sederhana dan indah, sehingga banyak yang meminta bantuannya.

Nabi Idris menyeru kepada kaumnya untuk menyembah Allah. Selain itu beliau mengajarkan kaumnya agar gemar beramal saleh, berpuasa, berlaku adi, dan mengeluarkan zakat untuk membantu orang-orang yang lemah.

Tidak semua kaumnya dapat menerima ajaran beliau, bahkan ada diantara mereka yang menetang. Namun demikian, Nabi Idris pantang menyerah. Ia terus bersabar dan meminta pertolongan Allah.

Nabi Idris memiliki julukan Harmasul Haramisah, artinya singa dari segala singa.  Julukan itu diberikan kepada Nabi Idris karena keberaniannya yang tinggi dalam berdakwah.

Beliau tidak takut akan kematian ketika dirinya dan pengikutnya harus berperang melawan orang-orang kafir.

Kita harus mencari ilmu dan pengetahuan untuk membekali aktivitas dan permasalahan dalam keseharian kita.

Memetik Hikmah dan pesan moral pada anak:

Anak mampu mengambil hikmah bahwa pentingnya ilmu pengetahuan untuk keseharian kita.

Saat membacakan kisah Nabi Idris kepada anak-anak secara tidak langsung di dalam otak kita langsung bekerja menyambungkan segala aktivitas kita dan kebaikan-kebaikan itu akan menjadi nilai-nilai kita dalam berpikir dan berperilaku. Sering kali kita sibuk dengan pemikiran kita sendiri, sehingga kita lupa akan berempati pada orang lain.

Apakah Empati itu?

Empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain (kbbi).

Dengan berempati maka, kita menjadi bisa lebih memahami keadaan orang lain, tidak maksakan kehendak kita dan bersabar dalam menghadapi orang lain. Kita mampu mengedepankan pemikiran kita sebelum berperilaku.

Saat Dewi melakukan identifikasi, saat itu Dewi bisa diam dan tidak merespon dengan emosional semata. Bahasa kerennya zaman now, adalah berpikir sebelum bertindak.

Lantas, sebenarnya siapakah orang yang perlu kita beri empati?

Semua orang di sekeliling kita. Pada dasarnya dengan berempati kita bisa menyikapi dengan lebih bijak pada segala respon yang ada di hadapan kita. Berempati tidak hanya dilakukan kepada orang dewasa. Anak-anak pun berhak mendapatkannya.

Perilaku anak seringkali tidak terduga. Benar bukan?

Pemikiran ini biasanya, “maaf” berasal dari kita yang belum mampu memahami cara berpikir anak pada masanya.

Lantas penting kah kita memahami pemikiran anak pada masanya?

Penting banget. Saat kita tidak memahami masa – masa anak, saat itu pula kita melihat anak hanya sekadar seorang anak kecil yang nakal, susah diberi tahu, enggak nurut sama orangtua dan sebagainya.

Kita membutuhkan Ilmu pengetahuan, lalu belajar terus untuk membuat keadaan menjadi semakin baik.

Contoh cerita:

Si Anak berusia 4 tahun, kemudian Ibunya bekerja sebagai katering. Si anak seringkali dimarahi karena sering memainkan pisau dapur milik ibunya. Sementara selama ini pisau dapur itu berserakan, entah di meja atau di kursi, atau dimana saja sang ibu meletakkan pisau tersebut. Si anak di cap bahwa anak yang tidak menurut dengan ibunya yang sudah bolak-balik menasehati untuk tidak memegang pisau.

Dari contoh di atas, suatu masalah bukan berarti berasal dari sang anak. Saat kita sebagai ibu mau belajar mencari tahu apa yang membuat anak tidak menurut, maka ia akan bisa lebih bijak menghadapi persoalan dan tidak serta merta men-cap anak ‘tidak menurut.’

Jika kita telaah, sumber utama masalah di sini adalah keberadaan pisau dan masa anak. Pertama, saat pisau berserakan, siapa pun bisa saja mengambilnya tanpa sepengetahuan sang ibu. Kedua, seorang anak memiliki kebutuhan akan eksplorasi guna membantu proses belajar dan tumbuh kembangnya. Kemampuan eksplorasi tersebut akan lebih baik dimulai sejak anak berusia dua tahun dan terus meningkat pesat hingga berusia enam tahun. Anak tersebut bereksplorasi semua benda-benda yang ada di sekelilingnya. Ia belum memahami mana benda yang berbahaya dan tidak.

Masa prasekolah adalah masa-masa di mana anak sibuk beraktivitas fisik untuk lebih mengenal dunia sekitarnya. Itu sebabnya, nafsu makan anak mudah berubah-ubah demi mencukupi kebutuhan energinya sepanjang hari. Sebisa mungkin, pastikan setidaknya anak mendapatkan sekitar 220 gram karbohidrat sehari (hallosehat.com)

Selain makanan, kita juga harus memperhatikan kebutuhan si kecil lainnya. Dalam penelitian Ayu T.A. Werdiningsih (2012) mengenai Peran Ibu dalam Pemenuhan Kebutuhan Dasar Anak terhadap perkembangan Anak Usia Prasekolah, dijelaskan bahwa di usia prasekolah kita harus mengidentifikasi sebagai berikut untuk menstimulasi perkembangannya:

1. Perkembangan motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot-otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu yang dipengaruhi oleh kesempatan untuk belajar dan berlatih (Harlimsyah, 2008). Perkembangan motorik halus pada usia prasekolah secara keseluruhan anak mulai memiliki kemampuan menggoyangkan jari – jari kaki, menggambar dua atau tiga bagian, memilih garis yang lebih panjang dan menggambar orang, mampu menjepit benda, melambaikan tangan, menggunakan tangannya untuk bermain, menempatkan objek ke dalam wadah, makan sendiri, minum dari cangkir dengan bantuan, menggunakan sendok dengan bantuan, makan dengan jari, dan membuat coretan di atas kertas.

Perkembangan motorik halus ditekankan pada koordinasi gerakan motorik halus yang berkaitan dengan kegiatan meletakkan atau memegang suatu objek yang menggunakan jari tangan.

2. Perkembangan gerak motorik kasar anak dibedakan Elizabeth B. Hurlock, seorang psikolog perkembangan dan pemerhati masalah anak merupakan perkembangan pergerakan jasmaniah melalui kegiatan saraf, urat, dan otot yang terkoordinasi. Aspek atau gerak motorik kasar, merupakan gerak anggota badan secara kasar, atau setidaknya dilakukan dengan gerakan – gerakan yang agak keras. Misalnya berjalan, naik turun tangga, melempar, dan menangkap bola yang disodorkan kepadanya.

Anak usia prasekolah sudah mampu menggerakkan seluruh anggota tubuhnya untuk melakukan gerakan – gerakan seperti berlari, memanjat, naik – turun tangga, melempar bola, bahkan melakukan dua gerakan sekaligus seperti melompat sambil melempar bola (Suparyanto, 2012). Motorik kasar adalah aktivitas dengan menggunakan otot – otot besar yang meliputi gerak dasar lokomotor, non lokomotor dan manipulative (Samsudin, 2005).

Kemampuan lokomotor digunakan untuk memindahkan tubuh dari suatu tempat ke tempat lain atau untuk mengangkat tubuh ke atas seperti: Lompat dan loncat. Kemampuan gerak lainnya adalah berjalan, berlari, skipping, melompat, meluncur dan lari seperti kuda berlari (gallop). Kemampuan non lokomotor terdiri dari menekuk dan meregang, mendorong dan menarik, mengangkat dan menurunkan, melipat dan memutar, mengocok, melingkar, melambungkan dan lain – lain.

Kemampuan manipulative lebih banyak melibatkan tangan dan kaki, tetapi bagian lain dari tubuh kita juga dapat digunakan. Manipulasi obyek jauh lebih unggul daripada koordinasi mata – kaki dan tangan – mata yang mana cukup penting untuk item: Berjalan (gerakan langkah) dalam ruang.

Bentuk – bentuk kemampuan manipulative terdiri dari: Gerakan mendorong (melempar, memukul, menendang), gerakan menerima (menangkap) obyek adalah kemampuan penting yang dapat diajarkan dengan menggunakan bola yang terbuat bantalan karet (bola medicin) atau macam – macam bola yang lain dan gerakan memantul – mantulkan bola atau menggiring bola (Saputra, 2005).

Anak-anak prasekolah membuat kemajuan yang besar dalam ketrampilan motorik kasar (gross motor skill), seperti berlari, melompat, yang melibatkan penggunaan otot besar. Perkembangan daerah sensoris dan motor pada korteks memungkinkan koordinasi yang lebih baik antara apa yang diinginkan oleh anak dan apa yang dapat dilakukannya. Tulang dan otot mereka semakin kuat, dan kapasitas paru mereka semakin besar memungkinkan mereka untuk berlari, melompat, dan memanjat lebih cepat, lebih jauh, dan lebih baik (Papalia, Old, dan Feldman, 2008).

3. Perkembangan Bahasa

Bahasa didefinisikan sebagai suatu lambang bunyi yang digunakan oleh suatu anggota masyarakat untuk bekerja bersama, berinteraksi dan mengidentifikasi diri (Waskito, 2009). Terdapat perbedaan mendasar antara berbicara dan bahasa. Bicara menunjukkan ketrampilan seseorang mengucapkan suara dalam suatu kata yang diciptakan oleh hubungan yang kompleks dari laring, pernapasan, struktur mulut dan hidung. Sedangkan bahasa mengacu kepada kemampuan menerima respon dan mengekspresikan ide, pikiran, emosi dan keyakinan (Wolraich et al., 2008).

Bahasa terbagi menjadi dua komponen, yaitu reseptif dan bahasa ekspresif. Bahasa reseptif mempunyai makna kemampuan untuk memahami bahasa yang disampaikan orang lain baik yang di dengar atau di lihat. Sedangkan bahasa ekspresif adalah kemampuan untuk berkomunikasi atau menghasilkan bahasa (Wolraich et al., 2008).

Menurut Piaget (1969) dalam Wong et al., (2009), perkembangan bahasa, moral dan spiritual muncul saat kemampuan kognisi telah meningkat.

Dalam teori Piaget terdapat 4 fase perkembangan, yaitu : Fase sensimotor, fase preoperasional, fase operasional konkret dan fase operasional formal. Pada pembagian ini, anak usia prasekolah masuk pada fase praoperasional. Anak prasekolah semakin banyak menngunakan bahasa tanpa memahami makna dari kata – kata tersebut, terutama konsep sebab – akibat dan waktu.

Anak bisa menggunakan konsep secara benar tetapi hanya dalam keadaan yang mereka pelajari. Misalnya, mereka bisa mengetahui bagaimana memakai sepatu dengan mengingat bahwa kaitan sepatu selalu berada di bagian luar kaki. Namun, jika sepatu lain yang tidak memiliki kaitan, mereka tidak tahu sepatu mana yang cocok untuk kakinya yang mana.

Dengan kata lain, anak belum memahami konsep sebab – akibat. Tugas yang perlu diperhatikan dalam bahasa dan berpikir pengembangan anak prasekolah, yaitu : Mengerti pembicaraan orang lain, menyusun dan menambah perbendaharaan kata, menggabungkan kata menjadi kalimat, pengucapan yang baik dan benar. Perkembangan bahasa mencakup segala bentuk komunikasi, baik yang dikatakan dalam bentuk lisan, tulisan, bahasa isyarat, bahasa gerak tubuh, ekspresi wajah pantomim atau seni.

Perkembangan bahasa lebih, disebabkan karena lingkungan yang memberikan stimulus menjadikan anak semakin mengerti bahasa yang digunakan dan anak mampu mengekspresikannya.

Misalnya, dalam lingkungan keluarganya anak selalu diajak berbicara dengan menggunakan bahasa yang benar maka anak akan semakin terlatih dan perbendaharaan bahasanya juga semakin banyak sehingga anak akan mengerti setiap kata maupun kalimat yang diucapkan peneliti dan mampu menjawab pertanyaan peneliti seperti apa kegunaan mobil, lawan kata pendek, menyebutkan kata sifat dan lain – lain.

Berdasarkan jenis kelamin, perkembangan bahasa normal sebagian besar berjenis kelamin perempuan dari pada laki – laki. Perempuan memiliki pencapaian bahasa lebih baik disbanding pria hal ini disebabkan bahwa permainan anak perempuan lebih banyak menggunakan kata – kata maksudnya anak perempuan bermain boneka – bonekaan disertai dengan berbicara sendiri diabndingkan deengan pria. Status anak yang pertama juga memiliki perkembangan bahasa normal.

Hal ini disebabkan lingkungan keluarga dalam memberikan stimulus, keluarga lebih sering mengajak anak berbicara sehingga anak tersebut termotivasi untuk berbicara. (Ayu.T.A, Werdiningsih: 2012)

4. Perkembangan personal social pada anak usia prasekolah

Mary E Muscari (2001), mengemukakan bahwa semua tugas perkembangan personal sosial anak usia 3 – 6 tahun yaitu hubungan anak dengan orang lain, selain orang tua meluas termasuk kakek, nenek, saudara kandung, dan guru – guru disekolah.

Anak memerlukan interaksi yang teratur dengan teman sebaya untuk membantu mengembangkan ketrampilan sosial. Perkembangan personal sosial merupakan kemampuan anak untuk mandiri dan berinteraksi dengan teman.

Pada anak usia prasekolah perkembangannya sudah matang sesuai dengan usianya yaitu mampu mandiri dan berinteraksi dengan teman sebaya, anak sudah dapat berpakaian sendiri hampir lengkap, mencocokkan sepatu kanan dan kiri, dapat menyiapkan dan makan sendiri sepenuhnya, mengetahui jenis kelamin sendiri dan orang lain, anak juga mampu menyebutkan nama temannya. Usia 4 tahun, kemampuan anak semakin bertambah seperti anak memakai baju tanpa bantuan, dapat mengambil makan sendiri, menggosok gigi tanpa bantuan.

Hasil penelitian dari Ayu T. A. Werdiningsih (2012) bahwa Peran ibu dalam pemenuhan kebutuhan dasar berhubungan dengan perkembangan motorik halus, perkembangan motorik kasar, dan perkembangan personal social anak, dan tidak berhubungan dengan kemampuan bahasa anak usia sekolah.

Beliau menyarankan bahwa kita sebagai ibu penting untuk memiliki pengetahuan yang tepat akan kebutuhan dorongan dalam pencapaian perkembangan anak sehingga anak dapat dididik sesuai pentahapan usiannya dan dapat mencapai sesuai perkembanganya.

Nah, dengan kita memahami perkembangan sang anak, kita akan lebih bijak menghadapi persoalan sang anak.

Kita harus menjadi pembelajar, seperti Nabi Idris yang giat belajar dan berani menghadapi persoalannya.

Kalau anak bunda saat ini berada pada usia berapa?

Salam,

Dewi Adikara.

 

Daftar referensi:

Aqila, Irvan. 2019. Kisah Pengantar Tidur 25 Nabi & Rasul. Jakarta selatan: Penerbit Noura, PT.Mizan Publika (Angoota IKAPI)

Karinta Ariani Setiaputri. 2017. Umum Panduan Memenuhi Kebutuhan Gizi Harian untuk Anak Usia Prasekolah (4-6 Tahun) https://hellosehat.com/parenting/nutrisi-anak/gizi-anak-prasekolah/ diakses tanggal 14 Oktober 2019.

Agmasari, Silvita. 2015. Sudahkah Anak Anda Bereksplorasi?  https://lifestyle.kompas.com/read/2015/09/04/090900320/Sudahkah.Anak.Anda.Bereksplorasi.. diakses tanggal 15 Oktober 2019.


Werdiningsih, Ayu T.A . 2012. Peran Ibu dalam Pemenuhan Kebutuhan Dasar Anak terhadap perkembangan Anak Usia Prasekolah. https://media.neliti.com/media/publications/210193-none.pdf diakses pada 15 Oktober 2019

Singgih. (2002). Psikologi Perkembangan. Jakarta : PT BPK Gunung Mulia

Harlimsyah, dkk., (2008). Perkembangan motorik halus pra sekolah/https://docs.google.com Diakses pada tanggal 29 April 2012, 

Muscari, Mary E. (2001). Keperawatan Pediatrik edisi 3. Jakarta : EGC

Papalia, dkk., (2008). Human development, perkembangan manusia. Jakarta : Salemba Humanika Samsudin. (2005). Pengembangan Motorik di Taman Kanak – Kanak. Jakarta : Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Jakarta Saputra,

Suparyanto, (2012). Konsep Aspek Perkembangan Pra Sekolah//http://drsuparyanto.blogspot.com Diakses tanggal 29 April 2012

Waskito. (2009). Kamus Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta : Medika

Wolraich et.al. (2008). AttentionDeficit//Hyperactivity Disorder Among Adolescents : a Review of the Diagnosis, Treatment, and Clinical Implications. Pediatrics. Jakarta : Penerbit buku kedokteran EGC

Wong, et al. (2009). Buku Ajar keperawatan pediatric Wong. (Agus Sumanyra et al, Penerjemah). Jakarta : Penerbit buku kedokteran EGC

Terimakasih sudah membaca, yuk menulis komentar agar saya bisa lebih mengenal teman-teman dan bw balik. Mohon tidak menaruh link pada komentar ya, jika ada link maka otomatis "delete"