Cerita Anak: Nabi Ismail a.s.

Bagikan Artikel ini

Cerita Nabi Ismail identik dengan cerita awal dari perintah Allah untuk berkurban. Namun, tahukah sahabat?

Semenjak bayi, Beliau telah melakukan perjalanan di padang pasir bersama kedua orang tuanya?

Simak cerita lengkapnya di sini ya.

Penemuan Mata Air Zamzam Pertama Kali

Nabi Ismail adalah putra pertama dari Nabi Ibrahim a.s. dan Hajar. Saat masih bayi, ia sudah melakukan perjalanan yang sangat jauh.

Allah Subhaanahu wa Ta’ala memerintahkan Ibrahim pergi membawa Hajar dan Ismail ke Mekah, di dekat tempat yang nantinya akan dibangunkan ka’bah.

Setelah sampai di sana, Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail di tempat tersebut dan ingin kembali ke Syam.

Hajar segera mengejar Nabi Ibrahim dan memegang bajunya sambil berkata, “Wahai Ibrahim, kamu mau pergi kemana? Apakah kamu (tega) meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang manusia dan tidak ada sesuatu apa pun ini?”

Hajar terus mengulang pertanyaannya berkali-kali, hingga akhirnya Ibrahim tidak menoleh lagi kepadanya. Pada akhirnya Hajar bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkan kamu atas semua ini?”

Ibrahim menjawab, “Ya.”

Hajar berkata, “Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami.”

Kemudian Hajar kembali, Nabi Ibrahim melanjutkan perjalanannya. Ketika sampai pada sebuah bukit dan mereka tidak melihatnya lagi, Ibrahim menghadap ke arah Ka’bah lalu berdoa untuk mereka.

Nabi Ibrahim dengan mengangkat kedua tangannya, berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)

Hajar mulai menyusui Ismail dan minum dari air persediaan. Ketika air persediaannya habis, dia menjadi haus, begitu juga anaknya. Lalu dia memandang kepada Ismail sang bayi yang terus menangis. Hajar pergi meninggalkan Ismail, mencari-cari bantuan.

Maka dia mendatangi bukit Shafa, gunung yang paling dekat keberadaannya dengannya. Dia berdiri di sana lalu menghadap ke arah lembah dengan harapan dapat melihat orang di sana.

Dia tidak melihat seorang pun. Maka dia turun dari bukit Shafa dan ketika sampai di lembah, dia menyingsingkan ujung pakaiannya,berusaha keras layaknya seorang manusia yang berjuang keras, Sehingga ketika dia dapat melewati lembah, dan sampai di bukit Marwah, dia berdiri di sana. Ia melihat-lihat apakah ada orang di sana?

Dia tidak melihat ada seorang pun. Dia kembali berlari ke bukit Shafa, lalu kembali turun ke lembah dan berlari ke Bukit Marwah. Dia melakukan hal itu sebanyak tujuh kali (antara bukit Shafa dan Marwah).

Dia merasa letih sekali. Saat dia berada di puncak Marwah, dia mendengar ada suara, lalu dia berkata dalam hatinya “diamlah” yang Hajar maksud adalah dirinya sendiri.

Kemudian dia berusaha mendengarkannya maka dia dapat mendengar suara itu lagi, maka dia berkata, “Engkau telah memperdengarkan suaramu jika engkau bermaksud memberikan bantuan.” Ternyata suara itu adalah suara malaikat Jibril ‘alaihissalam yang berada di dekat zamzam, lantas Jibril mengais air dengan sayapnya, hingga air memancar dari dalam tanah.

Dia segera mendatangi air itu, membendungnya dan membuat kolam kecil.

Akhirnya Hajar dapat meminum air hingga kenyang dan menyusui anaknya kembali. Kemudian malaikat Jibril berkata kepadanya, “Janganlah kamu takut ditelantarkan, karena di sini adalah rumah Allah, yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.

Begitulah buah kesabaran dan kegigihannya Hajar, Allah pun menolongnya.

Hajar terus melalui hidup seperti itu, hingga tempat itu tidak lagi kering dan gersang.

Kemudian lewatlah kafilah (rombongan) orang dari suku Jurhum atau keluarga Jurhum yang datang dari jalur bukit Kadaa’ lalu singgah di bagian bawah Mekah.

Mereka kemudian melihat ada seekor burung sedang terbang berputar-putar. Mereka berkata, “Burung ini pasti berputar karena mengelilingi air padahal kita mengetahui secara pasti bahwa di lembah ini tidak ada air.”

Akhirnya mereka mengutus satu atau dua orang yang larinya cepat dan ternyata mereka menemukan ada air. Mereka kembali dan mengabarkan keberadaan air lalu mereka mendatangi air. Saat itu Hajar sedang berada di dekat air.

Maka mereka berkata kepada Hajar, “Apakah kamu mengizinkan kami untuk singgah bergabung denganmu di sini?” Ibu Ismail berkata, “Ya boleh, tapi kalian tidak berhak memiliki air.” Mereka berkata, “Baiklah.”

Ibu Ismail menjadi senang atas peristiwa ini karena ada orang-orang yang tinggal bersamanya. Akhirnya mereka pun tinggal di sana dan mengirim utusan kepada keluarga mereka untuk mengajak mereka tinggal bersama-sama di sana.

Ketika itu, Nabi Ismail belajar bahasa Arab dari mereka (suku Jurhum), dan Hajar mendidik puteranya dengan pendidikan yang baik serta menanamkan akhlak mulia sampai Ismail agak dewasa dan sudah mampu berusaha bersama ayahnya; Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Selanjutnya, Nabi Ibrahim berkunjung menemui Hajar dan anaknya untuk menghilangkan rasa rindu kepadanya.

Memetik Hikmah dan pesan moral pada anak:

Bahwa Allah SWT akan membantu umatnya yang telah berusaha. Dia tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang telah bersabar.

MasyaAllah, begitu besar Cinta Allah kepada umat-Nya.

Sudahkah kita bersyukur hari ini?

Salam,

Dewi Adikara

Sumber Referensi: 

Aqila, Irvan. 2019. Kisah Pengantar Tidur 25 Nabi & Rasul. Jakarta selatan: Penerbit Noura, PT.Mizan Publika (Angoota IKAPI)

kisahmuslim.com

 

Sumber Foto:

Pixabay.com

One Comment on “Cerita Anak: Nabi Ismail a.s.”

Terimakasih sudah membaca, yuk menulis komentar agar saya bisa lebih mengenal teman-teman dan bw balik. Mohon tidak menaruh link pada komentar ya, jika ada link maka otomatis "delete"