Cerita Anak: Nabi Nuh a.s.

badai banjir
Bagikan Artikel ini

Assalamualaikum sahabat ….

Siapa yang tak mengenal Nabi Nuh a.s.?

Cerita tentang Bahteranya bahkan sempat menjadi inspirasi salah satu Film Barat. Bahtera, dalam cerita Nabi Nuh adalah sebuah kapal berukuran besar yang dibuatnya atas perintah Allah SWT.

Mengapa demikian? yuk kita tengok kisah beliau:

Kisah Nabi Nuh a.s.:

Nabi Nuh dikaruniai Allah dengan sifat-sifat yang patut dimiliki oleh seorang nabi, yaitu fasih dan tegas dalam kata-katanya, pandai bersyukur, bijaksana, dan sabar dalam berdakwah.

Kesyirikan pertama di muka bumi berawal dari sekelompok orang yang melakukan penghormatan pada kelima orang saleh yang wafat. Orang-orang membuat patung kelima orang tersebut bernama Wadd, Suea, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.

Waktu terus berlalu, hingga anak cucu keturunan Nabi Adam semakin banyak di muka bumi. Saat itulah dongeng-dongeng tentang kelima orang saleh mulai menyebar di kalangan masyarakat. Orang-orang percaya bahwa patung-patung itu memiliki kehebatan yang luar biasa.

Iblis yang berjanji menganggu keturunan Nabi Adam selalu berdiri di samping patung-patung itu. Dia sibuk membisikkan rayuan kepada setiap orang yang datang, “hai Manusia! sembahlah patung-patung ini jika kalian ingin mendapatkan keberuntungan. Jika tidak, kalian semua akan ditimpa bencana yang besar,” begitulah Iblis merayu.

Sejak saat, kesyirikan pun merajalela. Orang-orang mulai lupa akan beribadah kepada Allah. Nabi Nuh memperingatkan kaumnya agar kembali ke jalan Allah. Tidak menyembah berhala-berhala yang mereka buat. Nabi Nuh selalu berdoa kepada Allah agar umatnya dijauhkan dari kebodohan.

Ketika ia mengajak kaumnya kembali ke jalan Allah dan berhenti menyembah berhala, justru kaumnya menganggap bahwa Nuh adalah orang gila. Mereka menaruh dendam terhadap Nabi Nuh. Mereka menentang seruan Nuh.

Mereka mengejeknya dengan membandingkan harta yang dimiliki Nabi Nuh. Memang Nabi Nuh hidup tidak bergelimang harta seperti kaum kuat, Bukan hanya kaum kuat saja, kaum lemah pun tak mau mengikuti ajakan Nabi Nuh. Mereka takut dan berpikir bahwa apapun yang benar menurut kaum kuat, berarti benar juga di mata kaum lemah, namun ada beberapa orang yang percaya akan seruan Nabi Nuh. Mereka berasal dari golongan kaum miskin dan tertindas.

Nabi Nuh adalah seorang nabi yang membela dan melindungi kaum yang lemah, miskin, dan tertindas. Beliau terus memperjuangkan nasib mereka dari ketertindasan kaumnya yang zalim.

Kaum Nabi Nuh terkenal zalim dan sewenang-wenang. Mereka menganggap harta adalah satu-satunya tolok ukur untuk meningkatkan martabat dan harga diri manusia. Mereka sangat meremehkan fakir miskin.

Kaum Nabi Nuh lebih suka menyembah berhala dan percaya bahwa berhala-berhala tersebut dapat memberi pertolongan kepada mereka.

Suatu ketika, Nabi Nuh berdakwah kepada kaumnya, “Sesungguhnya aku peringatkan kamu akan siksaan Allah dan aku jelaskan kepadamu jalan keselamatan maka sembahlah Allah saja dan jangan menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun. Aku khawatir apabila kamu menyembah selain Allah atau menyekutukan dengan yang lain maka Allah menyiksamu pada hari kiamat dengan siksaan yang pedih.”

Nabi Nuh selalu menyampaikan dakwahnya dengan penuh kebijaksanaan, kecakapan, dan kesabaran, walaupun demikian ia tidak mendapatkan hasil. Ia hanya mendapatkan ejekan dan penghinaan dari kaumnya.

Beberapa pemimpin kaumnya berkata, “Kami tidak melihat kamu, melainkan seorang manusia seperti kami; kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina di antara kami yang lekas percaya saja; kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah seorang pendusta.” 

Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun. Beliau tidak gentar dalam mengajak kaumnya kembali ke jalan Allah. Setiap hari ia sabar dan tawakkal meskipun caci maki kaumnya menghujamnya bertubi-tubi. Meskipun terlihat tua, namun ia masih kuat.

Tidak hanya dicaci maki, tak segan-segan kaum kafir kerap memukul Nabi Nuh. Kehidupan beliau berlajut dan tak pantang menyerah mengajak kaumnya. Hingga pada suatu hari, seorang malaikat turun ke bumi dan berkata kepada Nabi Nuh, “Sesering apapun engkau menyeru kaummu, mereka tetap tidak akan beriman kepada Allah. Jangan letihkan dirimu demi mereka, karena mereka adalah orang terkutuk.”

Kemudian, Nabi Nuh pun berdoa, “Tuhanku, jangan Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat, lagi sangat kufur.” (Q.S. Nuh : 26-27).

Nabi Nuh memberikan peringatan kepada kaumnya agar segera kembali ke jalan Allah karena khawatir Allah akan mendatangkan bencana kepada mereka.

Ancaman Nabi Nuh justru dianggap permainan. Mereka menantang Nabi Nuh, “Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami. Kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.”

Nuh menjawab, “Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri.”

Allah berkata kepada Nabi Nuh, “Buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami. Janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu. Sesungguhnya, mereka itu akan ditenggelamkan.

Setelah menerima perintah Allah untuk membuat sebuah kapal, Nabi Nuh mengumpulkan para pengikutnya dan mulai membuat kapal.

Apa yang dilakukan oleh Nabi Nuh dan pengikutnya ternyata menjadi bahan ejekan dan cemoohan. Akan tetapi, Nabi Nuh kemudian berkata, “Jika sekarang kalian mengejekku dan orang-orang yang bersamaku, sebentar lagi kami akan mengejek kalian karena aku tahu siksaan dan kebinasaan yang bakal menimpa kalian sehingga kalian tahu siapa yang akan ditimpa siksaan yang menghinakan di dunia seperti siksaan yang kekal akan menimpa di akhirat.”

Allah kemudian mewahyukan kepada Nabi Nuh agar mebuat Bahtera besar. Bahtera tersebut memiliki 3 lantai, panjang 200 meter, lebar 70 meter dan tinggi 25 meter. Sangat sulit membuat bahtera sebesar itu. Tetapi, kecakapan yang dimiliki Nabi Nuh sebagai tukang kayu serta dibantu juga oleh pengikut Nabi Nuh, meringankan kesukaran.

Mereka mebuat bahtera di sebuah gurun dan terdeteksi pula keberadaannya oleh kaum kafir. Mereka menghina dan menghujat habis-habisan kepada Nabi Nuh dan kaumnya.

Selama 80 tahun mereka bekerja keras, mereka pun tinggal menunggu keputusan Allah. Waktu bertahun-tahun merupakan penantian yang amatlah panjang untuk membangun bahtera yang amat besar guna menampung semua pengikut Nabi Nuh dan hewan-hewan dari air bah yang akan dikirimkan Allah. Apalagi ditambah dengan ejekan kaum kafir yang semakin menjadi-jadi, namun kaum Nabi Nuh percaya dan penuh harap akan apa yang Allah rencanakan.

Kemudian seorang wanita tua dan anak perempuan kecilnya bertanya kapan Allah akan menyelamatkannya dari orang-orang kafir. Beliau tidak mengetahuinya karena memang itu rahasia Allah.

Dan ketika itu pula, malaikat turun dan berkata kepada Nabi Nuh, “Bila terdapat air memancar dari rumah wanita tua itu, maka itulah saatnya banjir akan terjadi.” Nabi Nuh menyampaikan apa yang disampaikan malaikat kepada kaumnya. Dan semenjak itu, kaumnya sering mengunjungi rumah wanita tua itu.

Setelah pembuatan kapal selesai, Nabi Nuh dan pengikutnya menyiapkan semua perbekalan. Selain itu, Allah memerintahkan Nabi Nuh membawa berbagai hewan yang berpasangan, jantan dan betina. Setelah selesai mempersiapkan perbekalan, lalu Nabi Nuh berkata kepada pengikutnya, “Naiklah ke dalam kapal dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuh. Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Tepat di suatu hari, langit penuh awan tebal dan hari menjadi amat gelap. Orang-orang kafir meningkatkan tensi penindasan dan kekejamannya.Sampai seorang anak perempuan berlari dan mendatangi Nabi Nuh dan mengatakan air di sumur rumahnya memancar.

Dan ketika semua melihat buktinya, segera beliau menyuruh kaumnya menaiki bahtera. Seketika pula kilat menyambar dan bergemuruh suaranya serta hujan pun turun dengan derasnya.

Air terlihat memancar dari pegunungan dan lembah-lembah. Hujan turun amatlah deras beserta angin yang sangat kencang. Negeri mereka dipenuhi dengan air. Semua hewan telah naik ke bahtera itu. Nabi Nuh dan para pengikutnya berdiri di lantai dua bahtera sembari melihat banjir besar.

Akhirnya, bencana banjir besar melanda seluruh kota dan desa. Jeritan dan tangisan manusia terdengar di mana-mana.

Nabi Nuh berharap putranya tidak mengikuti kaum yang membangkang. Ia melihat ada seorang anak kecil dan ia yakin itu anaknya, bernama Kan’an. Lalu, beliau berteriak, “Nak, datanglah kepadaku. Naiklah ke bahtera ini.” Namun Kan’an menjawab, “tidak. Aku akan pergi ke gunung itu. Gunung itu akan melindungiku dari banjir ini.”

Nabi Nuh terus memaksa dan berteriak agar Kan’an naik ke bahtera. Namun tetap saja Kan’an menolak. Nabi Nuh begitu sedih dengan sikap keras kepala anaknya. Ia pun berkata, “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah yang Maha Penyayang.”

Kemudian, Nabi Nuh berdoa kepada Allah agar menyelamatkan anaknya dan membukakan pintu hatinya, “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.”

Allah memperingatkan Nabi Nuh dan berfirman, “Hai Nuh! sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu. Sesungguhnya, perbuatannya tidak baik. Oleh sebab itu, janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.”

Nabi Nuh pun berdoa, mengakui kesalahannya, dan pasrah terhadap takdir Allah, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahuinya. Sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku dan menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.”

Akhirnya, Kan’an pun tenggelam bersama kaum Nuh yang zalim. Mereka semua mati ditelan banjir yang dahsyat tersebut. Hujan pun turun selama empat puluh hari empat puluh malam.

Mereka begitu panik karena ke mana pun mereka berlari, air mengejar dan menenggelamkan mereka. Tiada tempat berlindung dari banjir yang dahsyat itu, kecuali kapal Nabi Nuh yang telah terisi penuh orang Mukmin dan pasangan makhluk yang diselamatkan oleh Nabi Nuh atas perintah Allah. Kaum Nuh benar-benar telah hancur tersapu banjir yang dahsyat tersebut.

Meskipun demikian Nabi Nuh merasa sedih setelah semua pengikutnya yang zalim tenggelam. Allah memberi perintah kepada bumi dan langit agar berhenti melaksanakan tugasnya, “Hai bumi, telanlah airmu; dan hai langit (hujan), berhentilah.”

Surutlah air banjir yang dahsyat itu. Perintah pun diselesaikan dan kapal itu pun berlabuh di atas Bukit Judy. Judy adalah sebuah daerah di Negara Armenia.

Allah berkata kepada Nabi Nuh, “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat dad orang-orang yang bersamamu. Ada umat-umat yang Kami beri kesenangan kepada mereka. Kemudian, mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami.”

Nabi Nuh dan pengikutnya pun selamat, termasuk ketiga putra Nabi Nuh yang beriman, yakni Sam, Ham, dan Yafits. Kelak, ketiganya akan menurunkan keturunan dengan warna kulit yang berbeda. Sam memberikan keturunan bangsa berkulit putih. Ham memberikan keturunan bangsa berkulit hitam. Yafits memberikan keturunan bangsa berkulit kuning.

Mereka turun dari kapal dan bersiap-siap membangun kehidupan baru yang lebih baik serta melanjutkan dakwah menyampaikan ajaran Allah Swt.

Baca juga: Cerita Nabi Adam a.s.

Memetik Hikmah dan pesan moral pada anak:

Kita meneladani sifat-sifat Nabi Nuh yang melindungi dan membela kaum yang Iemah, serta meneladani ketabahan dan kepasrahan Nabi Nuh dalam menerima takdir yang menimpa Kan’nan, putranya.

Sebagai umat kita perlu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadap Allah SWT. Dan hanya kepada Allah kita menyembah.

Manusia yang tidak patuh dapat terkena azab, dan yang dapat menyelamatkan manusia adalah keimanannya sendiri, bukan jabatan atau kedudukan orang tua.

sumber foto: islami.co

Sumber referensi:

Aqila, Irvan. 2019. Kisah Pengantar Tidur 25 Nabi & Rasul. Jakarta selatan: Penerbit Noura, PT.Mizan Publika (Angoota IKAPI)

dongengceritarakyat. (2015). Mukjizat dan Kisah Nabi Nuh A.s: Cerita anak Muslim https://dongengceritarakyat.com/mukjizat-dan-kisah-nabi-nuh-as-cerita-anak-muslim/ 16 oktober 2019.

Priyanto, Dedik. 2017. Kisah Nabi Nuh dan Bahtera Penyelamat. https://islami.co/kisah-nabi-nuh-dan-bahtera-penyelamat/ diakses 16 Oktober 2019.  

Terimakasih sudah membaca, yuk menulis komentar agar saya bisa lebih mengenal teman-teman dan bw balik. Mohon tidak menaruh link pada komentar ya, jika ada link maka otomatis "delete"