Kamu bilang enggak kerja kantoran? Bangkitlah dari sakit Mak…!

sakit
Bagikan Artikel ini

Percayalah bila kamu diminta berhenti kerja oleh Suamimu, itu adalah bentuk tanggung jawabnya di rumah tangga kalian.

Tugas kita selanjutnya adalah membenahi diri, mencintai anak-anak dan mendoakan rejeki suami dan rumah tangga *langsung ada yang tutup artikel begitu enggak sepaham. Slowdown dear, that’s not easy. Saya paham kok.

Itulah tugas seorang istri setelah memutuskan resign dari pekerjaan kantoran. Jangan salah, kamu bilang enggak kerja kantoran? Pekerjaan jaman now tidak harus di kantor kok!

Setelah resign, kita perlu secara halus, santai, bahkan merayu dalam mengingatkan suami untuk selalu semangat dan bertanggung jawab pada pilihan hidupnya. Ups, iya kitalah pilihan hidupnya. Mereka rela melepaskan kehidupan single-nya demi kita.

Sama dengan kita. Iya, sama…! Melepaskan kehidupan single kita demi Suami.

Suatu hubungan pernikahan bukanlah sekadar Mencintai dan Dicintai.

Dunia kita saat single dulu tidaklah sama bila kita memutuskan untuk menikah. Coba dibandingkan sedikit ya, kalau terlalu banyak juga nanti ambyar kemana-mana deh nulisnya, hihihi.

Saya ambil beberapa poin ya.

Single, semua terpusat pada diri sendiri.

Double Menikah, apa-apa butuh mikirin pasangan dan anak.

Teman

pixabay.com

Contoh lingkungan kita bersosial dulu deh.

Single:

Kita yang pilih, mau yang teman tapi mesra (TTM),

hubungan tanpa status (HTS),

seliweran pergi nonton,

makan, window shopping,

mainin hobi bareng, ngerjain orang,

dan  masih banyak serunya punya teman pilihan sendiri.

Hihihi… jadi ketawa sendiri saat pernah ngerjain orang bareng teman.

Hush…!

Insaf ya, maaf kalau dulu saya sering iseng.

Beruntung lah enggak sampai TTM atau HTS. Hehehe….

Menikah:

paling ekstrem tuh ya, pas dapat suami yang memingit dari teman kita. Membatasi kita bergaul. Mengalahkan cara mendidik orang tua kita, jiaa… kalau dapat yang seperti ini, langkah awal kita sebenarnya adalah kita perlu Introspeksi.

Adakah yang keliru dengan pertemanan kita?

Apakah kita juga membatasi pertemanan suami?

Coba kita buka lebih luas pertemanan yang positif. Berteman dengan lingkungan yang bebas dari gosip.

Cara membawa diri nantinya akan lebih menjadi lebih segar loh!

Jalin pertemanan yang membahas tentang kebaikan, hobi, juga bisa meningkatkan kemampuan kita. Salah satunya juga bisa subscribe (bergabung) di sahabatblogger.com dengan memasukkan email teman-teman.  Email sahabatmu, istrimu, suamimu, saudaramu, sapa saja boleh kok. InsyaAllah isinya disini berbau positif.

Isi Dompet

Coba deh tengok isi dompet teman-teman. Masih tanggal muda larinya kemana?

Single:

Buat orang tua, sedekah, urusan sakit ada asuransi kantor, menabung, mempercantik diri, memanjakan diri *apa bedanya sama mempercantik diri, hihihi… bedalah. Kalau cowok enggak detail ya, lihat istri senang aja sebenarnya keliatan udah cantik. Kalau cewek, mempercantik dan memanjakan diri itu beda…! Setuju? Kalau kalian suami, coba aja tanya istrimu.

Menikah:

Buat orangtua, buat suami, buat anak, sedekah, buat makanan sehari-hari, buat sosial kalau ada yang merid, lahiran, duka, uang kebersihan, listrik, air, pampers, susu, mainan, biaya sekolah, urusan sakit, tabungan… belum tagihan-tagihan kredit lainnya.

Oh tidaaaaak, mana buat mempercantik dan memanjakan dirinya?

Enggak nongol-nongol…!

Tabungan

Ini sih isi dompet yang rencananya digunakan untuk di masa depan.

Single:

Buat haji-kan orang tua, buat beli gadget terbaru, buat sekolah lagi, buat beli modal dan ngembangin bisnis, dan bisa jadi  tabungan buat menikah, Cie… padahal ya ada dana dari orang tua ya, tapi tetap aja kita berpikir bisa sedikit meringankan beban biaya dengan tabungan.

Lalu, menahan impian menikah yang terlalu bertebaran sawang sinawang, jiah bahasanya….

Menikah :

Buat sekolah anak, buat sekolah anak, buat sekolah anak, buat sekolah anak, buat sekolah anak. Tenang ini bukan mata teman-teman yang salah baca, juga bukan typo, tapi memang kenyataannya tabungan paling sering yang utama buat anak.

Lah kapan bisa naik haji-kan orang tua?

Udah punya tabungan, eh ada yang sakit, uang jadi kepakai deh.

Ada juga tabungan buat traveling liburan tipis-tipis, demi tetap waras *kata emak jaman now, hiks…

Akhirnya metode tabungan sekarang berubah haluan jadi metode cicilan atau arisan, benar enggak?

Bangkit dari Sakit Mak!

Rasanya tiga hal diatas aja dulu yang dibahas aja ya?

Ini aja udah 700 kata, ntar jadi buku kalau kebanyakan nulis *dasar penulis.

Apaan sih kok dari tadi bahas enggak nyambung dari topik?

Sebenarnya dari ilmu psikologi, yang pernah saya pelajari jaman rimba dulu… jaman rambut saya masih seliweran kena angin. Sebelum mengenali penyakit apa yang sedang kita alami, kita perlu menyadarkan diri dahulu. S-a-d-a-r bukan sandar ya… hihihi.

Kalau kita sakit enggak jelas, sudah ke dokter bolak-balik tak kunjung sembuh, atau ternyata tidak terdeteksi penyakit tertentu. Bisa jadi sakit itu sakit yang berasal dari psikis, (baca gampangnya: pikiran).

Ada masalah ketidakseimbangan dari realita dan harapan, sehingga pada akhirnya mood kita sedikit banyak terganggu.

Mana dulu saat single, kita sudah disediain apa-apa sama orang tua ya. Sekarang harus berdiri sendiri.

Malas melanda, penyakit datang. Capek melanda, sakit datang. Beda banget ya single sama sudah hidup berkeluarga…!

Efeknya kita bisa jadi malas makan, walau udah masak atau beli. Semua kejadian dipandang sebelah mata, berasa omongan orang salah terus dari perilaku kita, baper mak…!

Lihat perilaku orang juga kok ya ada aja, bisa jadi orang di sekeliling kita jadi Auman harimau kita, Aauuum, argh…! Tensi kita naik, lalu lambaikan tangan….

Bisa perang sana sini deh! Akhirnya nangis sendiri. Sedih lagi, sakit lagi. Enggak pernah usai, Mak!

Malah makin parah!

Kamu tidak sendiri kok, banyak orang yang merasakan hal yang sama.

Yuk Move On bareng!

Dengan kita menyadari posisi kita saat ini,

Apa peran kita saat ini,

Apa yang menjadi harapan kita,

Kita jadi bisa menentukan langkah kaki pikiran mau kemana.

Mari kita buat langkah-langkahnya:

1. Menentukan

Apa yang harus kita kerjakan untuk menggapai harapan kita.

2. Produktif

Lah… ngurus pekerjaan rumah aja tidak ada habisnya. Banyak yang bilang 24 jam aja enggak cukup. Carilah pekerjaan yang penting untuk diselesaikan *semua urgent mak…! Cari terus, mainkan logika.
“kalau ini engak dikerjakan sekarang berefek enggak?” lalu tanyakan lagi dengan logika “pekerjaan ini bisa dikerjakan besok enggak?” dari jawaban si logika akan  mencari celah untuk beristirahat.

Disaat kita bisa santai coba deh buat suatu karya, atau bisa juga berbisnis online. Atau paling aman Tidur, produktif menurunkan hormon stress untuk meringankan beban berat pikiranmu.

3. Merawat diri

Ini adalah satu cara kita menghargai diri kita sendiri. Memberi makanan yang penting untuk diri kita, vitamin dan nutrisi. Jangan kerja terus Mak! Tiap hari udah begadang, bangun sebelum subuh, pulang malam, bahkan bangun dini hari.

4. Sesekali istirahat

Demi me-refresh kehidupan kita bertahun-tahun mendatang. Cari hiburan, hobi atau kesukaan. 

5. Coba hal baru

Seandainya kamu belum pernah memasak, karena ngerasa enggak bisa masak, coba deh intip resep-resep di media sosial. Ada facebook, klik youtube atau Intagram. Seru loh masak atau buat kue. Hasilnya bisa dinikmati pula. Hal lainnya kamu bisa menulis, menggambar walaupun enggak bisa, karena meluapkan emosi pakai metode ini cukup efektif loh.

6. Bergabung Komunitas Positif!

Sekarang banyak loh komunitas positif. Kalau pakai FB coba aja search yang kamu suka. Kalau pakai IG coba cari pakai hastag. Misalnya #blogger #muslimah #mommy dan sebagainya.

Sesekali kita memang butuh melepas apa yang menjadi rutinitas, dan beralih pada hobi lainnya. Walaupun, kita tetap mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawab kita di dunia nyata.

Saya sudah coba buktikan, salah satu contohnya enggak update blog demi mengerjakan pekerjaan dunia nyata dan bisnis.

Padahal saya lagi enggak ngejar pekerjaan. Mau lebih slow. Mau lepas hp, laptop, buku, bacaan semua media, bahkan melepas media sosial sementara waktu. Eh kok, dapat kehagiaan berupa surprise yang beruntun dari suami, keluarga, sahabat, dipercaya jadi mentor, dapat produk dan transferan dari sponsor. MasyaAllah. Rejeki enggak akan kemana kok. Luar biasa Kekuasaan Yang Maha Kuasa.

Jangan lupa Follow akun pribadiku ya.

 

View this post on Instagram

 

– MasyaAllah… Allah kembali memberiku kejutan, Catatan ini untuk remind cerita kami, . . Akhirnya saya bisa menetapkan bahwa ternyata Suami saya juga bisa Romantis😆🙏 @koko_prabowo . . . Luar biasa sayang, bisa buat aku berlama-lama untuk makan, cari spot foto dan yang penting lagi foto makanan… 😂 . Aku tak henti-hentinya mengucap syukur kepadaMu… . Semoga suamiku menjadi Imam yang selalu dihiasi oleh rasa syukur karenaMu ya Allah… Semoga ia diberikan kemudahan dalam mencari rejekiMu, Semoga ia selalu sehat dan dalam lindungan Allah… Amin… . . Semoga aku bisa menjadi Istri yang sholehah, menjadi anak sholehah bagi kedua orang tua, dan menjadi Madrasah bagi anak-anak kami… Amin ya robbal alamin. . . Maaf Doaku banyak😂🙏 insyaAllah yang Kuasa paham kebutuhanku😆 . #foodfotography #pancake #anniversary #holiday #romanticdinner #dinner #merried #garden #photography

A post shared by dewi_adikara (@melani_pryta_dewi) on

Kita coba ubah mindset kita. Tidak harus ke kantor untuk dapat penghasilan. Tidak perlu mengejar nominal, karena usaha dan kerja keras kita akan membuahkan hasil pada saatnya. Menghargai diri kita dengan tampil cantik dengan merawat diri kita.

Baca juga ya: 5 Kebahagiaan sederhana

Teruslah berkarya untuk nutrisi otak dan hati. Otak terus bekerja, dan hati kita bisa merasa puas.

Dan jangan lupa tetaplah rajin menabung dengan memilah mana untuk kesehatan, pendidikan anak dan orang tua.

Tujuannya satu, supaya kita bisa kembali dengan kesegaran pikiran kita.  InsyaAllah kita bisa menjadi lebih sehat. Semoga bermanfaat ya sahabat…!

love
pixabay.com

Salam penuh cinta,

Dewi Adikara.

*Tulisan ini dibuat untuk mengatasi lelah fisik dan psikis emak-emak jaman now yang selalu produktif dan hebat dalam mengurus rumah tangganya. Mereka sungguh multitalented. Dan yang tahu bagaimana rasanya, cuma emak, serius, cuma emak. Itulah mengapa emak itu Mulia. Cie…. Keep waras Mak, kehidupan keluarga ada pada hati dan tanganmu.

2 Comments on “Kamu bilang enggak kerja kantoran? Bangkitlah dari sakit Mak…!”

  1. Kegiatanku bejublek, tekanan stress lumayan tinggi, kalau nggak pinter-pinter menyenangkan diri sendiri, ya itu, bisa jadi nggak waras. Naudzubillah .. Jauh-jauh, deeeh … Tapi senang-senang ala aku sih gampang banget. Jajan, jalan-jalan, menulis, bikin prakarya, ada teman ngobrol, udah senang, lho. Meskipun lebih senang lagi kalau bisa halan-halan ke Eropa.

    Bantuin bilang Aamiin, yaaa …

Terimakasih sudah membaca, yuk menulis komentar agar saya bisa lebih mengenal teman-teman dan bw balik. Mohon tidak menaruh link pada komentar ya, jika ada link maka otomatis "delete"