Menghadapi si kecil di hari pertama masuk Sekolah TK setelah libur panjang

Bagikan Artikel ini

Assalamualaikum…

Punya persiapan khusus menghadapai si kecil di Hari Pertama Masuk Sekolah TK setelah libur Panjang?

Bagaimana hari pertama sekolah si Kecil?

Ada yang menangis?

Tidak mau sekolah?

Tidak mau ditinggal di sekolah?

Terus terang, ini adalah pengalaman pertama saya mengantarkan anak kembali ke sekolahnya. Libur kali ini tidaklah sebentar. Setelah sekian lama si kecil menikmati asiknya libur panjang. Orang tua sering kali mengalami kesulitan untuk mengajaknya ke sekolah.

Nah, Alhamdulillah hari ini si kecil berangkat sekolah dengan senang.

Kira-kira menurut teman-teman kenapa bisa begitu ya?

Saya coba berbagi cerita ya, siapa tahu dilain waktu bisa bermanfaat. Sekaligus menjadi catatan nilai Baik dari Bunda buat si kecil, jika suatu saat dia membaca tulisan ini.  I Love you, Nak!

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Apa saja sih yang saya persiapkan untuk menghadapi hari pertama masuk sekolah?

1.Saya memasak sore, sehari sebelum hari pertama masuk sekolah.

Saya memiliki dua anak balita. Satu sudah masuk sekolah TK, dan yang kecil masih usia pra-sekolah. Keduanya bila mentari mulai bersinar akan terbangun dengan manja. Walau sebenarnya mereka sudah diajarkan untuk tidak menangis atau ngalem setiap bangun tidur. Namun, namanya anak kecil wajar saja bila tiba-tiba mereka ingin kita berada di sampingnya, saat mereka terjaga.

Apalagi di hari pertama sekolah. Saya memilih untuk tetap dalam pengawasannya di hari itu. Sehingga aktivitas pagi saya di dapur, harus saya mundurkan. Saya memilih memasak menu yang bisa di hangatkan di malam hari. Menu saya adalah ikan kuah tengiri.

Saya atur demikian, sehingga di pagi hari saya tinggal menanak nasi, menyiapkan minuman dan menyiapkan bekal makanan ringan. Teman-teman bisa menyesuaikan dengan menu favorit si kecil. Menu apa yang bisa dibuat dan di hangatkan saat malam. Mereka mendapatkan perhatian kita lebih banyak saat terjaga dari tidurnya.

Kita dapat menyambut dengan senyuman, atau membangunkannya dua jam sebelum berangkat ke sekolah. Persiapan dua jam itu, untuk anak beradaptasi, bersantai sejenak di kasur, memainkan mainannya, mandi dan sarapan.

2.Dua hari sebelumnya kita memberi Sounding bahwa ia akan masuk sekolah.

Sebisa mungkin kita menghentikan aktivitas liburan kita maksimal di sore hari, sehari sebelum masuk sekolah. Sehingga ia bisa beradaptasi dengan rumahnya, memainkan mainannya.

Kita sudah memberikan sounding bahwa aktivitas sekolah pasti akan dijalani mereka lagi. Katakan ini di saat mereka sedang bersantai. Jika mereka bertanya balik akan sesuatu, hadapi pertanyaan dengan santai dan benar. Jangan membohonginya.

3.Memperlihatkan kalender pada si kecil, dimana kita hari ini dan kapan ia masuk sekolah.

Dengan begini anak akan mempelajari bahwa ada libur sekolah, dan ada masuk sekolah. Pertanyaan anak saya kemarin, misalnya:

Anak: “Bun, kenapa kita harus ke sekolah lagi?”

Bunda: “Kalau kakak sekolah, enak loh… bisa ketemu teman-teman, bisa ketemu bu guru. Dan kakak tambah pintar, bisa baca, bisa nulis… kalau jalan-jalan kita jadi bisa baca tulisan di sepanjang jalan…”

Anak: “Tapi kenapa Bunda enggak sekolah?”

Bunda: “Dulu juga sekolah, tuh, bunda sudah bisa baca kan, sudah bisa menulis, enak kalau mau belajar bisa cepat”

Lalu si kakak tersenyum dan kembali bermain.

4.Me-review kembali apa saja kegiatan yang dilakukan selama liburan.

Kita mengajak anak mengingat apa saja kegiatan liburan yang sudah mereka lakukan. Dengan begini anak akan merasa senang, lalu memberikan tanya jawab, dan merespon pertanyaan dan jawaban si kecil.

Jangan sampai kita melamun setelah melemparkan pertanyaan, karena disinilah respon dan antusias si kecil kembali muncul saat ia bisa mengingat kegiatan liburnya.

Kita harus memberikan komunikasi dua arah.

Bukan sekedar memberi tugas si kecil untuk mengingat liburannya.

5.Memberikan contoh bercerita liburannya pada bapak/ibu guru.

Si kecil kita beritahu bahwa biasa jadi di sekolah nanti bapak/ibu guru akan menanyakan liburannya. Jadi kita beri contoh si kecil mengingat dan bercerita. Tentunya pakai bahasa si kecil ya teman-teman.

Dengan demikan ia punya motivasi mengapa ia harus kembali ke sekolah, selain belajar.

6.Memberikan kejutan kecil pada si kecil di weekend pertama setelah masuk sekolah.

Liburan telah berakhir, aktivitas sekolah dan kerja kembali normal. Itu sudah biasa kita jalani bertahun-tahun. Tapi bagaimana perasaan teman-teman?

Semacam waktu terenggut kembali oleh rutinitas?

Atau kebalikannya?

Sudah semangat masuk sekolah atau kerja?

Jujur, kita yang dewasa saja ada sedikit rasa sedih, semacam waktu berkumpul dan liburan sudah habis deh.

Lalu, menurut teman-teman apa si kecil tidak merasakan hal yang sama?

Apalagi mereka masih belum memiliki pengalaman banyak menghadapi susahnya beli pulsa kalau kurang uang 1000 rupiah saja. Haish… ngenes ya. 

Wajar kan ya, si kecil jadi berubah 180 derajat setelah mau masuk sekolah?

Atau enggak 180 derajat lah, tapi 45 derajat aja lah. Kayak nawar ikan di pasar wae, wkwkwk…

Jadilah saya memberi rem sepeda dengan minyak, biar remnya enggak  bikin sepeda tiba-tiba gubrak. Saya beri si kecil sedikit tambahan liburan tipis-tipis. Lebih tepatnya memberi janji. Kapan kah itu?

Saat weekend pertama setelah ia masuk sekolah. Sounding sudah dilakukan sebelum masuk sekolah. Ambil liburan tipis-tipis sesuai kemampuan.

Misal yang tanpa budget, asal anak senang ya makin Alhamdulillah. Hehehe….

Bunda: “Kak, besok kakak masuk sekolah, lalu sabtunya kita jalan-jalan ke taman lihat ikan di kolam yuk!”

Anak: “Asik… Mau bunda….”

Lalu si Anak semangat berangkat ke sekolah dengan tetap menghitung hari untuk menemukan kesenangannya kembali.”

###

Belajar bukanlah suatu hal yang membosankan, bila kita bisa membawa materinya menjadi suatu permainan.

Karena mereka suka dengan permainan.

Masuk sekolah bukanlah suatu hal yang membosankan, karena mereka tidak paham dengan arti liburan telah usai.

Mereka hanya berpikir, Apa saya sudah tidak bisa main lagi? Tidak bisa pergi lagi?

Komunikasi dua arah dan berulang sangat diperlukan oleh si kecil. Kita saja butuh, apalagi anak-anak ya.

Saya berhasil bawa si kakak kembali sekolah dengan ceria, dan senang belajar, tapi…

Ada rahasia lainnya nih. Sst…!

Ternyata si adek yang belum sekolah, kecantol masuk kelas dan enggak mau keluar kelas… Hayyaaaah…!

*dia pakai topi pink di dalam kelas.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Salam,

Dewi Adikara

 

10 Comments on “Menghadapi si kecil di hari pertama masuk Sekolah TK setelah libur panjang”

  1. Persiapan anak untuk masuk sekolah memang tergantung dari kesiapan ibunya ya..
    Kalau ibu sudah memiliki persiapan yang matang, anak pun bisa dengan senang hati pergi ke sekolah.
    Nah, itu malah adeknya juga jadi ikutan senang sekolah ya.. hihihi

  2. Jadi inget saya waktu SD tiap kali naek kelas ato pas pertama masuk pasti seminggu pertama saya harus ditungguin, nenek gak boleh pulang sama sekali, mungkin harusnya dulu ibu bapa ngasih briefing kali yah ke saya, karna jujur saya salah satu murid yang takut guru heheh. Setuju deh sama mom millenial sekarang buat diterapkan untuk anak yang pertama kali masuk sekolah usai liburan

Terimakasih sudah membaca, yuk menulis komentar agar saya bisa lebih mengenal teman-teman dan bw balik. Mohon tidak menaruh link pada komentar ya, jika ada link maka otomatis "delete"