Perlukah Perempuan Sekolah Tinggi?

Bagikan Artikel ini

Assalamualaikum sahabat, selamat hari Kartini 21 April 2019 ya. Sebenarnya tidak hanya pada tanggal ini, di dalam benak mempertanyakan: “Perlukah perempuan memiliki Sekolah tinggi?”

Di hari-hari lainnya, topik sekolah setinggi-tinggiya seolah hanya menjadi kegalauan para kaum perempuan. Mengapa demikian?

Beberapa alasannya, karena Perempuan memiliki tanggung jawab besar dalam mengurus rumah tangga, sedangkan pendidikan tinggi pada beberapa orang difungsikan untuk memperoleh pekerjaan dan jabatan setinggi-tingginya.

Sehingga pada akhirnya, beberapa kalimat tercetus dari beberapa orang seperti:

“Ngapain sekolah tinggi-tinggi jika akhirnya harus di rumah?”

“Percuma sekolah tinggi kalau enggak kerja.”

Pendidikan tinggi juga mampu membangun sudut pandang yang cenderung positif, sehingga ada nilai prestise pada prestasi tersebut. Tak jarang ada beberapa orang yang ingin mencapai ini, selain dari keinginan yang kuat untuk mengubah masa depan dirinya menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Perbedaan kepribadian, keluarga, adat dan lingkungan sosial sangat berpengaruh pada pandangan ini. Kalau saya sebagai perempuan dari background keluarga pendidik, saya menekankan sekolah itu penting.

Kalau sekolah tinggi? Itu juga penting, namun tidak semua perempuan memang memiliki kesempatan yang sama untuk menduduki sekolah hingga tingkat pendidikan teratas khususnya di Indonesia. Sungguh penuh syukur bila perempuan berkesempatan memiliki penddikan tinggi tersebut, karena memang pada dasarnya perempuan itu memiliki tanggung jawab yang sungguh besar dalam kehidupan.

“Bahkan seorang perempuan itu Mulia.”

Seorang perempuan memiliki tanggung jawab besar, layaknya seorang lelaki, namun apa yang menjadi tanggung jawabnya berbeda dengan lelaki. Seperti kepercayaan yang saya pegang, seorang lelaki khususnya yang sudah berumah tangga ia wajib menafkahi istri dan anak-anaknya.

Sedangkan seorang perempuan tidak memiliki kewajiban tersebut, kecuali ia memang single fighter dalam rumah tangganya. Sehingga di saat perempuan yang telah menikah ingin bekerja, merupakan suatu karya bagi diri dan untuk keluarganya.

Semua penghasilan tersebut adalah menjadi haknya, namun bisa bermanfaat pula untuk membantu sang suami memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Perempuan yang bekerja pun tidak selalu harus menyandang sekolah tinggi, namun pekerjaan yang dijalaninya akan selaras dengan kemampuan apa yang dimilikinya, baik itu melalui sekolah atau melalui pengalaman hidupnya.

Sekolah tinggi pasti memiliki goal (tujuan) untuk memberikan pengetahuan, keahlian ataupun keterampilan bagi para siswanya.

Mengapa Perempuan perlu sekolah tinggi?

Perempuan lebih diminta untuk menemani suaminya untuk menjalani rumah tangga. Sebelumnya kita perlu memahami, kemampuan apa saja sih yang perlu ada dalam kehidupan rumah tangga?:

  1. Kemampuan mendampingi pasangan dan memenuhi kebutuhannya.
  2. Kemampuan bagai Konsultan mengelola kebutuhan dan keuangan rumah tangga.
  3. Kemampuan bagai Koki yang memberikan nutrisi yang penting untuk perkembangan anak-anaknya, mulai dari menyiapkan makanan, minuman atau camilan.
  4. Kemampuan bagai Konsultan yang menciptakan nuansa rumah yang kondusif dan nyaman.
  5. Kemampuan bagai Petugas kebersihan yang membuat rumah menjadi bersih dan terawat, dan menyelesaikan tugas-tugas rumah tangga
  6. Kemampuan bagai Hakim, Motivator bahkan guru dalam menyelesaikan segala permasalahan yang terjadi di saat berumah tangga baik di dalam atau diluar (bertetangga).
  7. Kemampuan bagai Dokter atau Perawat saat anak-anak, pasangan dan diri sendiri saat mengalami sakit.
  8. Kemampuan bagai Psikolog yang memiiki majemen stress yang baik dalam menghadapi tugas dan konflik rumah tangga.

Baca juga: Depresi dan penanganannya.

Segala aktivitas di atas memang tidak terlepas dari bantuan pasangan, ada pula yang murni tanpa bantuan pasangan, bahkan ada juga yang berpendapat sebenarnya adalah tugas dari salah satu pasangan saja, baik itu suami ataupun istri.

Hubungan dalam pernikahan tidak hanya berbicara hak dan kewajiban, sehingga kita sebenarnya memerlukan hubungan sosial yang kuat di dalamnya.

Rasa sayang, cinta dan saling membantu membuat tugas-tugas di atas menjadi tanggung jawab bersama. Bila suami harus berangkat pagi pulang malam karena terikat pekerjaan dengan orang lain atau instansi, maka sang istri yang berasa di rumah akan membantu tugas tersebut.

Sama halnya bila keduanya bekerja maka perlu koordinasi diantara keduanya (suami dan istri).

Baca juga: Tiga hal yang membuatmu bertahan saat pernikahan di ujung perceraian.

Tugas itu pasti membutuhkan tenaga, keterampilan dan pengetahuan agar dapat terselesaikan dengan baik. Sehingga pada dasarnya sekolah yang mampu mendukung aktivitas tersebut sangat diperlukan untuk seorang wanita.

Bila memang keterbatasan menjadi penghalang perempuan untuk bersekolah, sebenarnya perempuan memiliki kesempatan yang besar pada era digital seperti ini. Segala informasi saat ini dapat dengan mudah untuk di akses.

Bila perempuan kurang memiliki pengetahuan, maka bisa bayangkan bagaimana ia mampu mengelola semua di atas. Apalagi saat perempuan mengalami masa PMS, pasca melahirkan atau menopause.

Kondisi ini sangat berpengaruh loh, karena sebagian besar perempuan bekerja menggunakan perasaannnya dan juga dipengaruhi oleh hormon tubuhnya.

Bagaimana bila perempuan belum menikah?

Seringkali kondisi ini yang membuat perempuan lebih memiliki peluang besar untuk mengejar sekolah setinggi-tingginya, karena ia belum memikul peran sebagai ibu, dimana sang anak menjadi tanggung jawabnya. Walau di beberapa kasus juga ada yang bisa sekolah tinggi walau sudah memiliki anak, atau telah menikah. Tentu ini di perlukan koordinasi dengan beberapa pihak, agar sang anak bisa tetap terpenuhi kebutuhannya.

Saat perempuan atau lelaki belum menikah ia memiliki kesempatan yang sangat besar untuk sekolah setinggi-tingginya, atau terlibat dalam pekerjaan tertentu, namun kembali pada faktor reproduksi, dimana seorang wanita berbeda dengan lelaki, ia memiliki batas dalam usia reproduksi, sehingga kondisi ini yang seringkali menjadi tantangan untuk segera menyandang gelar sebagai ibu di usia aktifnya.

Tuntutan sosial juga tinggi saat mereka berada di usia ini, seperti misalnya timbul pertanyaan: “kapan menikah?” *ups… siapa yang pernah ngerasain pertanyaan ini hayooo, ngaku:)

Jadi udah cukup bingung atau udah nemu jalan keluar nih dari judul di atas?

“Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu. Ibu-ibu cerdas akan menghasilkan anak-anak cerdas,” Dian Sastrowardoyo.

Saya pun sepakat dengan tulisan mbak Dian, hanya saja kita perlu menyesuaikan waktu untuk memperoleh pendidikan tinggi tanpa menghilangkan kewajiban dan tanggung jawab kita sebagai seorang ibu.

“Suatu pengalaman hidup bisa didapatkan dari mana saja. Disertai dengan niat belajar dan mampu mengambil hikmah dari setiap keadaan, baik yang dihadapi baik oleh sendiri atau dari pengalaman orang lain,” Dewi Adikara.

Bila saya kembalikan pertanyaan pada sahabat nih, perlukah Perempuan sekolah tinggi?

Yuk, bicara di kolom komentar.

Salam,

Dewi Adikara.

Tulisan ini tidak memihak atau menyudutkan siapapun, hanya bertujuan untuk melakukan sharing dan membuka berbagai wawasan dari generasi perempuan, khususnya generasi millennial seperti sekarang ini. Coba tengok tulisan perempuan lainnya yuk, teh Egy sahabat blogger yang berkolaborasi dalam tema kali ini.

Terimakasih sudah turut berpartisipasi dalam kolom komentar:)

5 Comments on “Perlukah Perempuan Sekolah Tinggi?”

  1. Setuju mba, perempuan itu harus terdidik. Entah itu pendidikan formal ataupun informal, pokoknya jadi perempuan enggak boleh kudet apalagi percaya mitos, gosip dan takhayul. Perempuan terdidik akan melahirkan anak-anak hebat yang pada gilirannya akan menjadi penerus bangsa yang hebat ini. Semangat!!

Terimakasih sudah membaca, yuk menulis komentar agar saya bisa lebih mengenal teman-teman dan bw balik. Mohon tidak menaruh link pada komentar ya, jika ada link maka otomatis "delete"