Ramadhan di Masa Kecilku

ramadhan
Bagikan Artikel ini

Ramadhan masa kecilku begitu membuat hati ini berdebar. Entah apa aku bisa menularkan kepada kedua buah hatiku.

Masa-masa itu, di saat Hari Raya Idul Fitri. Aku harus terbangun sebelum subuh. Kedua orang tuaku terlihat sibuk sekali menyiapkan barang bawaan keperluan kami untuk mudik.

Ke Pulau Madura.

Masa itu, belum ada Jembatan Suramadu seperti sekarang. Kami sekeluarga harus baangun pagi untuk segera berangkat ke pelabuhan Tanjung Perak tepi laut bagian utara dari kota Surabaya.

Pulau Madura, menjadi tujuan kami untuk menghabiskan waktu lebaran. Di sana ada orangtua dari Bapak dan Mamaku. Tepat setelah subuh kami berangkat, dan berusaha mendapatkan antrian terdepan di pelabuhan.

Hawa dingin menusuk namun terasa lebih segar dari AC mobil jaman sekarang. Mataku masih mengantuk, berat rasanya. Semangat dari kedua orangtuaku membuat mata ini bisa menjadi hidup.

Pandangan yang sebelumnya gelap menjadi semakin terang, seiring dengan sinar matahari yang mulai menembus saat kami mulai berlabuh.

Perjalanan menggunakan kapal lau saat itu menghabiskan 30 menit di atas laut. Seruan orang-orang yang menjajakan jualannya tak ada habisnya. Aku pun memanfaatkan moment untuk naik ke lantai dua dari kapal.

Di tempat itu para pengunjung bisa duduk menikmati angin segar dari laut, sambil menonton televisi umum yang telah disediakan.

Air laut, bergerak membentuk ombak. Warna biru dan hijau pada dasar laut yang semakin dalam.

Ada rasa berdebar saat aku melihat ke bawah, laut begitu luas, aku bukanlah apa-apa.

Ada rasa berdebar saat aku melihat ke atas, langit begitu luas, aku bukanlah apa-apa.

Kita hanyalah makhluk kecil. Hatiku terasa kecil. Aku pun takut.

Bapak, Mama, dan saudara-saudaraku hadir, rasanya melihat mereka saja aku tenang.

Keluargaku, kau adalah segalanya.

Kapalpun berlabuh, kita segera kembali ke mobil. Pulau Madura sudah menanti.

Di pelabuhan Kamal kami menginjakkan mobil kami pertama menuju ke rumah nenek dan kakek. Di sepanjang jalan, sholawat selalu kami dengar. MasyaAllah, begitu sejuk di hati.

Sesampainya di rumah nenek dan kakek, kami pun melepas kangen sebentar, lalu berangkat berjalan kaki menuju Masjid Agung di Kota Bangkalan.

Begitu cepatnya langkah kami, hingga sirine tanda akan dimulainya salat mulai terdengar dari masjid.

Begitu cepatnya waktu berlalu, namun rasa itu masih ada, melekat.

Ramadhanku, dengan keluarga tercinta. Aku sangat merindukannya.

Ramadhan, Keluarga, dan nuansanya.

Sang pemilik rindu,

Dewi Adikara.

Terimakasih sudah membaca, yuk menulis komentar agar saya bisa lebih mengenal teman-teman dan bw balik. Mohon tidak menaruh link pada komentar ya, jika ada link maka otomatis "delete"