Sahabat Blogger

“Mari saling berbagi kebaikan”

Selain bermanfaat untuk orang lain, juga sebagai pengingat diri

Dewi Nielsen, Where Have You Been? Kerap kali ini yang menjadi pertanyaan bagi pecinta fotografi di tahun 2016-2017. Setelah lama menghilang sekarang malah seluncuran nih di sahabat blogger mbak Dewi Nielsen dan Street Fotography. Seorang yang pernah terjun didunia PNS selama 10 tahun dan keluar dihadapkan oleh pilihan penting yaitu untuk hidup bersama pujaan hatinya di negara seberang, Denmark. Namun, disana ia banyak menghasilkan karya fotografi, banyak orang terpukau melihat hasil karyanya. Terbukti dari hasil foto-fotonya di Facebook dan Instagram miliknya. Kalau penasaran intipin deh di facebook dengan nama lengkapnya adalah Dewi Damanik Nielsen.

Saat ini ia tetap bekerja disana sebagai seorang perawat. Selain menjalani karir sebagai perawat, ia juga aktif dalam dunia blogging, sayangnya di tahun 2016-2017 ia tidak banyak mengisi blog miliknya www.dewinielsen.com dan banyak yang kehilangan dirinya, berikut adalah jawaban dari mana saja ia di tahun tersebut khusus untuk sahabat blogger :

Hello semua, saya nggak kemana-mana kok, masih di negara dingin ini. Denmark. Tahun lalu saya memang kurang banyak menulis blog. Cuma menghasilkan 9 tulisan saja 😁 ha ha ha….luar biasa. Setidaknya 12 gitu yak, jadikan hitungannya tiap bulan saya menulis 1 judul postingan 😆

Tahun lalu awal dari bulan Januari sampai bulan akhir Juli saya masuk sekolah bahasa. Lumayan menguras energi dan pikiran sih, karena saya mau cepat selesai sekolahnya sebelum saya bisa melamar kerja. Setiap hari saya masuk sekolah, dari jam 8 pagi sampai jam 2 siang. Malamnya saya ngerjain pe er yang menumpuk dan persiapan untuk ujian test bahasa untuk mengurus ijin tinggal. Di Denmark, saya diwajibkan untuk ikut test bahasa Danish biar boleh melanjutkan ijin tinggal disini. Test itu harus saya ikuti dalam kurun waktu 6 bulan setelah ijin tinggal keluar. Saya boleh ambil level A1 atau A2. Saya pikir-pikir mendingan ambil A2 aja langsung. Karena test ini berbayar (2600 dkk senilai Rp.5,939,309,-) saya nggak mau dong gagal dan harus mengulang, jadinya saya banyak latihan.

Semua konsentrasi saya curahkan ke sekolah dan test bahasa. Puji Tuhan saya lulus semua. Akhir tahun sebelum pulang kampung saya dapat pekerjaan, tapi sayang, saya kurang suka. Bulan Desember sampai Januari saya dan suami pulang ke Indonesia mengunjungi keluarga. Beberapa kali saya komunikasi dengan Penulis Sahabat Blogger ketika saya masih di tanah air, tapi saya nggak sempat juga buat menulis..ha ha ha 😂 Maaf ya beib. Bukan malas loh, saya lebih memilih memanfaatkan moment yang ada bersama keluarga dan menikmati liburan. Kita sempat mengunjungi Penang, Bangkok dan Hua Hin sebelum pulang ke Denmark.

Liburan selanjutnya saya rencanakan bulan November nanti. Kali ini saya akan lebih lama di Indonesia. Saya kangen banget sama Mak dan Bapak. Berat sekali harus hidup berjauhan seperti ini. Kalau bisa saya ingin sering-sering pulang. Ntahlah, makin lama saya kok gampang kangen sama orang Mak. Walau kita setiap hari berkomunikasi melalui whatsapp tapi itu tak cukup. Saya ingin bisa menyentuh, memeluk dan bisa bersama mereka.

“Be sure to spend time with your parents while you can, because one day when you look up from your busy life, they won’t be there anymore!”- unknown

— end.

Terasa banget ya Rindu kita dengan orang tua dengan membaca tulisan mbak Dewi diatas. Rasanya hati ini bergetar pingin langsung meluk Mama Bapak dirumah deh, manfaatkan banget kedekatan kalian dengan orangtua tercinta. Seperti yang mbak Dewi sampaikan dan sudah merasakan bagaimana tinggal jauh dinegeri orang.

Kembali pada tulis-menulis kali ini sahabat blogger menyajikan dalam bentuk yang berbeda. Dewi Nielsien saat ini sedang mendalami ilmu street fotography, penasaran ga sih makanan macam apa itu? Selama ini seringnya dengar food fotography atau product fotography. Yang ini apaan ya? walaupun ilmu ini nampak sederhana, namun sangat menarik untuk kami ulas, sehingga saya dan mbak Dewi memutuskan untuk memposting street fotography dari blog mbak Dewi dan saya. Namun tetap ya penulis yang punya ilmu street fotographynya mbak Dewi Nielsen, sayanya masih belajar😂 nanti lihat hasil belajar saya di Instagram ya, klik Follow dulu deh di akun saya.. asyeeek kita berteman ya, Sapa saya untuk folback😁

– Aku hanya tidak ingin kehilangan moment disaat ia masih memanjakan ku dengan selalu ingin didekatku.. . . Akan ada saatnya Anak tidak ingin dipeluk, atau malu.. . . Letakkan semua keluh kesah, letakkan semua pekerjaan, lihat bagaimana wajah surga yang memintaku untuk selalu menemaninya☺ . . Subhanallah..

A post shared by dewi_adikara (@melani_pryta_dewi) on

DewiNielsen mempersembahkan tulisan Street Fotography untuk sahabatblogger yang bersumber langsung ke blog Dewi Nielsen. Berikut ilmu dari mbak Dewi dengan sentuhan tipis-tipis dari sahabat blogger :

Street photography itu menyenangkan dan genre fotografi yang paling menantang. Image yang tertangkap kamera terjadi secara alami, murni dan tidak dibuat-buat. Inilah bedanya street photography dengan tema fotografi lainnya. Ada banyak temuan yang kita lihat melalui photo-photo yang kita dapatkan. Street photography berbeda dari architectural atau cityscape photography, walau ketiganya tersedia di jalanan. Architectural photography dan cityscape hanya berfokus pada bangunan. Sedangkan street photography berfokus pada elemen manusianya. Jadi kalau sahabat blogger bahasakan secara gamblang sih Candid camera bagi orang-orang di sekitar jalan, bener ga sih?😁

Street fotography

Meskipun Street Photography mudah untuk dilakukan, tapi menurut mbak Dewi ada 4 hal yang perlu diketahui :
Pertama, Foto yang bermakna ((meaningful))

Foto yang hebat membutuhkan konten dan komposisi yang kuat. Photo-photo yang memiliki storytelling itu memiliki daya tarik. Rahasia dari sebuah gambar yang memorable pada street photography adalah dengan menangkap emosi.Street Photography tanpa emosi sama dengan gambar yang mati.

Street fotography

Kedua, Pengaturan Kamera

Info dari mbak Dewi nih, aperture priority mode itu layaknya teman baik, photografer dan jurnalis foto Arthur Fellig yang dikenal sebagai the great street photographer sepanjang masa, aperture ideal untuk street photography adalah f / 8. Untuk ISO, Dewi Nielsien memakai ISO 400 di siang hari. Pemilihan lensa tergantung pada subjek yang ingin dipotret. Dia suka memakai lensa 35mm pada kamera fullframe. Dan secara umum, lensa 35mm inilah yang paling ideal dipakai kebanyakan street photographer. Terkadang ia juga memakai lensa 50mm. Tapi anjuran Dewi Nielsen pakailah lensa apa saya yang kamu punya dan have fun with what you have 😎

Dengan memakai apa yang kita punya dan bisa menggunakan gear secara maksimal, pasti menghasilkan photo-photo yang bagus. Memiliki kamera dan lensa mahal tidak menjadikan seseorang menjadi fotographer handal. Menurut Mbak Dewi sebuah gambar yang baik itu bukan berdasarkan dari seberapa banyak Like dan komen yang di dapat. Penilaian tiap-tiap pribadi itu berbeda dalam menikmati hasil seni.

Ketiga, Mengambil gambar dengan Style-mu sendiri

Salah satu saran dari Bruce Gildenstreet photographer fenomenal lainnya, selalulah memotret dengan gayamu sendiri. Nggak usah nyontek dan ngikutin gaya dan style orang lain, hal itu bikin stress dan talentmu nggak maju-maju. Jangan sekali-kali membandingkan. Nggak ada habisnya dan nggak guna. Saran Bruce Gilden untuk para street fotografer shoot who you are.” 

Street fotography

Bruce Gilden memiliki style memotret dengan mereferensikan siapa dia sesungguhnya. Dia memiliki kepribadian yang kuat dan agresif. Kelihatan dari photo-photo yang dia menghasilkan energi, rush dan andrenalin.

Bruce Gilden suka memotret dari jarak yang sangat dekat dengan objeknya dengan memakai lensa 28mm dan flash. Kebanyakan photo-photo candidnya diambil tanpa ijin terlebih dulu dari objeknya. Berani sekali. Pernah ada seorang ibu paruh baya tampak kesal karena dia memotretnya tanpa ijin lebih dulu. Bruce Gilden kemudian menjelaskan mengapa dia memotretnya dan mengapa dia menganggapnya cantik dengan caranya yang unik. Yes, Bruce Gilden itu unik banget. Dia tidak memotret untuk menakut-nakuti orang, tetapi dia melakukannya dengan caranya yang artistik.

Street fotography
Kalau mbak Dewi, mengaku tidak berani ambil gambar close up tanpa ijin.
Street fotography

Dewi Nielsen dalam hal pendekatan fotografi lebih suka berinteraksi dengan subjek agar mereka merasa nyaman, dan bila memotret secara candid aku lebih nyaman memakai tele lens dari jarak yang lumayan jauh. Sebisa mungkin ia meminta ijin bila mendapat kesempatan.

Jika kita tipe pemalu, introvert dan merasa tidak nyaman berinteraksi dengan orang yang baru dikenal, mungkin bukan ide yang baik untuk memotret dengan jarak kurang dari satu meter dari objek. Carilah posisi yang nyaman. Pahami kepribadianmu seperti apa melalui street photography. 

Street fotography

Keempat, Temukan apa yang menjadi fokus dan tujuanmu dalam Memotret 

Jawaban dan alasannya pasti kembali ke pribadi masing-masing. Mau itu for fun, buang suntuk atau mengasah skill memotret. Street photography merupakan salah satu stress reliever alami yang baik. Memotret di jalanan memberikan pleasure tersendiri. Apalagi dengan kesibukan dan pekerjaan sehari- hari yang udah menguras tenaga dan pikirian. Dengan pergi keluar memotret dijalanan memberikan sesuatu yang menyenangkan bagi jiwa.

Pesan terbaik mengenai Street fotography dari Dewi Nielsen adalah: Shoot who you are. Understand your personality– and shoot accordingly.

Berminat mencoba Street Fotography?

 

 

Salam hangat,

 

Dewi Adikara (eh namanya serupa ya😀)

 

All pictures: DEWI NIELSEN PHOTOGRAPHY