Sahabat Blogger

“Mari saling berbagi kebaikan”

Selain bermanfaat untuk orang lain, juga sebagai pengingat diri

Bagikan Artikel ini

Disclaimer: Artikel ini mengandung curhatan. Jika sahabat engga mau buang waktu denger curhatanku, enggak usah lanjutin deh bacanya ya, hehehe…. Yang Pasti April ini begitu menguras air mataku.

Maaf bagi teman-teman yang bernama April, kalian enggak salah kok! Bukan kalian yang bikin Dewi menangis. Hanya saja, memori di tanggal 14 ini begitu kuat terekam. Terkadang, ingin menghapus jejak-jejak yang tersisa, namun sisi lain dari diriku menentangnya.

Aku begitu mencintainya, tidak mungkin segala memori tentangnya harus kuhapus begitu saja. Namun, ternyata Aku yang lemah tetap saja tidak kuat. Dia sedang menyendiri, menangis dan banyak berbicara dengan Yang Kuasa.

Kehilangan Pasangan Hidup

Memang, Aku tidak banyak membahas tentang kepergiannya di media sosial. Aku tidak mau Followersku, khususnya orang-orang yang mengenal pasangan hidupku yang begitu baik dan menyayanginya membaca dan melihat kembali almarhum sehingga membuat mereka berlinang air mata.

Aku saja menangis, apalagi mereka. Pastinya mereka akan menciptakan persepsi atas postinganku. Semoga suatu saat aku dan followersku yang terlibat langsung atas kepergiannya bisa kuat. Melihat sosoknya yang begitu gagah, lucu, pekerja keras dan selalu optimis. MasyaAllah.

Pulanglah ….

Aku sering menjeritkan hal ini. Terutama Bulan-bulan pertama kehilangannya. Pulanglah dalam dekapanku, plis …!

Namun, aku sadari itu tidaklah mungkin terjadi. Aku hanya berpikir aku hanya manusia biasa, dia pun manusia biasa. Bahu dan punggung yang kokoh itu milikmu. Dan kini, aku merasakannya, Aku harus kokoh, aku harus kuat.

Aku punya orang-orang yang menggantungkan hatinya pada senyumanku, keceriaanku dan keberadaanku.

Hingga pada saatnya, aku berani mengatakan pada Aku yang lemah:

“Pulanglah sayang … Allah telah memanggilmu. Kebaikanmu di dunia mungkin sudah cukup. Semoga Allah memafkan segala salah dan khilafmu. Maafkan adek yang masih jauh dari sempurna selama menjadi pasangan hidupmu. Semoga Engkau Husnul Khotimah, InsyaAllah”

my little family

Mencintaimu dan Dicintai

Aku baru menyadari setelah kehilanganmu. Bahwa terkekangnya aku selama ini untuk bergerak, adalah rasa sayangmu. Aku dimanja olehmu. Kau tega membuatku pernah merasakan bahwa aku adalah wanita beruntung. Wanita yang begitu kau manjakan. Sering kau marahi jika pergi jauh, sering kau marahi jika banyak ngomel, hihihi … kejadian menyedihkan saat itu, namun menjadi kejadian menyenangkan untuk diingat saat ini. Aku mencintaimu yang begitu mencintaiku. Begitu ya rasanya dicintai, belum tentu romantis tapi begitu baik ternyata.

Penyesalan?

Alhamdulillah tidak. Aku tidak pernah menyesal mengenalmu. Aku pun tidak menyesal atas semua perbuatanku. Karena aku bersyukur sekali pernah hidup berdampingan denganmu, hingga maut yang benar-benar memisahkan kita. Kesetianmu sudah benar-benar teruji. Cukup tulisanku sampai sini ya, derai air mataku ketahuan si kecil. Para malaikatmu, sayang.

karena Allah sayang

Sampai jumpa di Surgamu, semoga aku pun bisa menjadi pribadi yang baik, agar bisa bertemu denganmu di Nirwana. Saat ini aku harus menemani anak-anak hingga dewasa dan membuat mereka menjadi anak-anak sholehah dan bermanfaat bagi orang-orang sekitarnya. Aamiin ya robbal alamin.

Salam,

Dewi Adikara

Mau baca tulisan Dewi yang berisi tentang karya? klik disini Cara menulis antologi versi Dewi Adikara