Sahabat Blogger

“Mari saling berbagi kebaikan”

Selain bermanfaat untuk orang lain, juga sebagai pengingat diri

Bagikan Artikel ini

Peran Wanita dan Karir – salah satu topik hangat yang sering dibicarakan. Seorang wanita yang berkerja sekarang sudah umum disekitar kita. Namun, bila seorang wanita sudah menjadi seorang ibu kerapkali dilema akan terjadi. Antara harus merawat anak atau meneruskan karirnya yang sedang melejit.

Saya ingat dulu disaat masih duduk dibangku SMP, saya terpilih menjadi Ketua Osis. Tentu pemilihan itu bukan serta merta seperti menarik nomor undian. Terpilihnya saya menjadi ketua Osis saat itu adalah melalui proses dari Kampanye ke setiap kelas, lalu memberi sambutan di setiap rapat Osis (sebelumnya saya sebagai sekretaris umum) dan pada akhirnya dilakukan pemilu di rapat Osis.

Saya tidak menyangka juga menjadi ketua Osis saat itu. Tepatnya di Tahun 1999-2000 (keliatan ya udah tua, hihihi). Saat itu wanita menjadi pemimpin adalah hal yang fenomenal, untuk pertama kalinya ketua Osis wanita.

Pembina Osis saya saat itu dengan bangga dan supportnya menguatkan bahwa Presiden RI saja seorang wanita, If you have ability to lead, Why Not?! Terimakasih kepada Alm.Bpk.Gatot selaku pembina Osis yang mensupport saya saat itu.

Rupanya saya terbiasa memimpin, dan kebiasaan saya memanage sesuatu hal ternyata sangat mendukung kemampuan saya. Berjalannya waktu, pada akhirnya memang tugas-tugas akademik saya selalu dengan nilai yang diatas rata-rata, dan sampai dengan lulus kuliah pun saya memiliki prestasi yang diatas rata-rata. Alhamdulillah … terimakasih ya Allah pernah melalui masa-masa itu adalah pengalaman yang menyenangkan buat saya.

Sebagai Wanita yang sudah menginjakkan kakinya di dunia pendidikan yang tinggi saat itu, memiliki kemampuan organisasi dan management yang oke, maka saya selalu melangkah maju untuk mencapai karir tertinggi. Dari hanya seorang staf, asisten manager, bahkan sampai calon manager sudah menjadi tanggung jawab saya. Semua hal saya siap.

Sampai pada akhirnya, saya menikah dengan suami saya. Menurut saya ia mampu rela berkorban apapun demi keluarga kecilnya. Saat itu hanya saya dan calon buah hati adalah keluarga kecilnya. Ia meninggalkan karirnya, yang sebenarnya sangat menjanjikan finansial kami di keluarga.

Saat itu ia adalah salah satu staf dalam perusahaan rokok merk tertentu, ia rela meninggalkan karirnya, karena merasa yang dijalaninya sehari-hari tidak sejalan dengan kata hatinya untuk membentuk keluarga kecil yang Samara.

Sedangkan saya? Sebagai seorang Wanita, yang juga memiliki pandangan karir yang tinggi, dan sudah sebagai karyawan tetap memiliki segala fasilitas kesehatan dan kesejahteraan di zona nyaman, pada akhirnya juga harus melepaskan semuanya. Tidak Lain juga karena Demi Keluarga. Saya memulai peran saya sebagai ibu, dengan manajemen waktu sebagai ibu rumah tangga.

Saya fokus membesar an calon anak saya. Akhirnya saya melahirkan dan melihat wujud cantiknya. Saya semakin yakin, ada seorang anak yang tidak berdaya dan membutuhkan bimbingan seorang ibu.  Maka saya memutuskan untuk bekerja tidak terikat waktu dengan perusahaan, saya memilih menemani sang buah hati sambil. BERBISNIS. BERDAGANG. BERKARYA.

Karena membesarkan anak itu membutuhkan waktu dan perhatian kita ke anak, mereka  makhluk mungil yang tidak berdaya, perlu dijaga kondisi kesehatannta. Lalu mereka beranjak dewasa membutuhkan proses belajar dari orangtuanya, khususnya seorang ibu pada tahap prasekolah. Tanggung jawab tersebut melalui proses yang panjang dan intens.wanita dan karir

Bila seorang wanita tetap menjalankan karir, baik bekerja dibawah aturan perusahaan, ataupun berwiraswasta, seorang Wanita akan menjalankan Peran Ganda.

Seperti paparan Psikolog sahabat blogger, Nila Ainu Ningrum,  M. Psi. Psikolog yang akan diulas melalui topik “Peran ganda seorang wanita sebagai Ibu Rumah Tangga dan juga sebagai ibu yang bekerja. Apa dari kalian memiliki pengalaman yang sama? Atau teman-teman adalah seorang Suami? Coba deh sekali-kali kita lihat kacamata seorang wanita.

Seorang Wanita yang baik, bekerja dimanapun, bekerja apapun, mereka pasti berniat ingin membantu rumah tangga. Mulai kebutuhan mendasar, kebutuhan anak-anak bahkan, kebutuhan untuk memenuhi keinginan pribadipun seorang wanita sangat memikirkannya untuk membantu meringankan suami.

Sayangnya, kondisi ini seringkali malah menjadi masalah, karena perubahan peran wanita untuk bekerja, juga sedikit banyak juga menggeser peran seorang lelaki yang dianggap tulang punggung keluarga.

Baca juga : Menjadi Mama Super

Konflik rumah tangga pun bisa terjadi walau seorang istri bekerja, bahkan bila istri memiliki penghasilan yang lebih besar juga bisa beresiko adanya konflik karena memang kondisi ini adalah pergeseran dari pemahaman Peran Suami dan Peran Istri dalam rumah tangga. Kompleks ya. Hahahah… jangan jadi gagal mau menikah ya.

Pada iintinya sih kalau kedua belah pihak saling menghargai dan mampu mengkomunikasikan uneg-uneg, InsyaAllah permasalahan bisa selesai. Egoisme perlu dikesampingkan. Banyak sih perumpamaan yang bisa kita pelajari agar kita semakin bisa memahami apa arti rumah tangga bagi hidup kita.

Silahkan dicatet ya, karena ini salah satu cara berpikir sederhana yang bisa mengingatkan kita disaat menghadapi biduk rumah tangga:

“Kita menikah perlu menyatukan visi kedepan, dan menentukan apa tujuan bersama yang ingin kita capai”

“Kita menikah tidak seperti cerita dongeng, yang selalu ada kebahagiaan atau romantisme, pasti ada permasalahan yang harus kita hadapi”

“Menikah bagaikan berada dalam kapal, yang terkadang ada badai atau ombak, maka kapal harus diatur oleh satu Nahkoda, tidak bisa dua Nahkota, sehingga kita perlu memberikan kesempatan Pasangan (Suami) untuk memimpin keluarga kecilnya, kita cukup menjadi Navigator yang bisa membantu arah atau memberikan saran”

“Kita memandang permasalahan sebagai suatu yang harus diselesaikan, bukan dipendam, kita harus mencari solusi untuk menyelesaikan”

“Bila kita harus mengalah, kita tidak perlu memunculkan permasalahan itu lagi. Mengalah bukan berarti kalah, mengalah berarti kita harus ikhlas menerima kondisi itu, dan berdoa agar mendapatkan anugerah dari Tuhan YME”

“Kita menikah dengan seseorang yang tidak luput dari salah, kitapun harus bisa memafkan perilaku pasangan, karena tidak semua pasangan bisa minta maaf secara langsung, namun ada dari mereka yang melakukan perubahan pada sikapnya”

dan masih banyak lainnya.

Banyak deh cara berpikir positif yang bisa baik untuk keharmonisan rumah tangga kita. Dan apabila dari teman-teman adalah seorang Wanita yang mengalami peran Ganda karena sedang bekerja, coba simak deh tulisan ibu Nila Ainu Ningrum, M. Psi. Psikolog yang berbagi tips untuk Wanita yang bekerja :

kerja

“Peran ganda seorang wanita sebagai Ibu Rumah Tangga dan juga sebagai ibu yang bekerja”

Pernah tidak ada yg dibilang, Sudah sekolah tinggi, tapi di rumah saja kerjanya?

Apa tidak rugi?? Udah lulus S1 atau S2 tapi tidak kerja kantoran?

Cuma jadi ibu Rumah tangga?

Ada juga yang bilang:

Tiap hari ngantor, gimana tuh ngurus anaknya?

Apa gak kasihan ninggal anaknya di rumah sama pembantu?

Yaah … Beginilah fenomena yg sedang mewabah di kalangan Kaum Wanita Zaman Now..

Ibu Rumah Tangga atau Ibu Bekerja?

Menurut sahabat blogger mana yg lebih baik? Ibu bekerja atau ibu rumah tangga?

Ibu rumah tangga dapat memusatkan perhatiannya ke urusan rumah, suami dan anak-anak yang selalu saja membutuhkan perhatian seorang ibu. Tugasnya menyiapkan segala keperluan keluarga mulai dari memasak, mencuci baju, mengajar anaknya, mendidik dan mengurus semua keperluan anak dan suami.

Ibu bekerja harus mampu membagi waktu, tenaga, pikiran untuk menyeimbangkan urusan kantor dan rumah. Ia bekerja perlu banyak tenaga dan harus mampu mengelola waktunya untuk menyeimbangkan urusan rumah dan kantor Seringkali dilema terjadi saat harus meninggalkan anak di rumah dengan pengasuh karena ada tugas dari pimpinan.

Sementara anak sedang membutuhkan perhatian karena sedang sakit. Betapa terasa hati seorang ibu Galau dan Bimbang dengan tindakan yang diambil. Apakah benar atau salah? Belum lagi sindiran dari orang lain yang sama sekali tidak paham persoalan yang dihadapi. Komplit bukan rasanya?

Lelah dan jenuh pasti pernah mampir dalam hidup ibu bekerja. Saat di kantor berurusan dengan pekerjaan kantor yang tidak bisa ditunda, sementara pulang ke rumah pekerjaan rumah dan anak-anak menanti?

Lalu bagaimana membagi perhatiannya? Seringkali ada konflik batin yg mengiringi sehingga membuat dilema dalam bertindak. Belum lagi saat pasangan bermasalah dengan kita? rasanya akan lebih dahsyat bukan??

Naah … Bagaimana dong agar biar kita tetap sehat jiwa raga dengan peran ganda kita?

  1. Persiapkan dengan baik, Apakah anak perlu titip di day care atau tidak? Pertimbangkan sisi negatif (interaksi dengan orang tua yang kurang) atau sisi positif (banyak teman dan bisa belajar bersama) Atau sediakan pengasuh di rumah meskipun ada Orang tua / kakek nenek yang mengawasi tetap harus disediakan pengasuh khusus.
  2. Atur waktu bekerja dengan membuat jadwal yang ditepati baik jadwal kerjaan rumah atau kantor dengan prioritas yang diutamakan Jika membutuhkan ART (Asisten Rumah tangga) untuk membantu pekerjaan rumah diperbolehkan untuk lebih mempermudah dan meringankan beban ibu bekerja.
  3. Diskusi dengan pasangan Sebelum memutuskan bekerja, ada baiknya diskusi dengan pasangan terkait pekerjaan apa yang harus diambil, berapa waktunya yg harus dihabiskan di tempat kerja, bagaimana mengatur tanggung jawab dan tugasmu di rumah? Apakah jenjang karir dan kompensasi sepadan dengan pengorbanan yang dilakukan.
  4. Lakukan Refleksi Diri Setelah diputuskan baik tidaknya untuk bekerja maka pikirkan semua persiapan fisik dan mental. Sudah siap untuk bekerja??Pikirkan apakah karir penting bagimu? Apa yang harus disiapkan untuk dukung keputusanmu? Jangan sampai merasa bersalah dengan anakmu saat bekerja.
  5. Bangun komunikasi hangat dengan keluarga. Jika ibu bekerja, usahakan selalu komunikasi dengan pasangan dan anak-anak secara efektif dan hangat, Berikan waktu berkualitas untuk keluarga saat tidak bekerja sehingga anak anak dan pasangan tetap mendapatkan perhatian dan kasih sayang. Jaga komitmen dan prioritaskan keluarga, untuk menjaga keseimbangan keharmonisan keluarga.

Semoga bermanfaat ya teman-teman ….

Baca Juga :

Salam hangat,

Dewi Adikara

sumber foto: pixabay.com