Sahabat Blogger

“Mari saling berbagi kebaikan”

Selain bermanfaat untuk orang lain, juga sebagai pengingat diri

Saya pecinta travelling. Sejak orang tua saya membawa keluarga kami berkeliling saat masih kecil. Pulau Bali, Pulau Madura, Palembang, Bondowoso, Situbondo, Malang, Yogyakarta, Jakarta, dan beberapa kota lainnya sudah mewarnai liburan kami.

Namun beranjak masuk sekolah, pergi jalan-jalan keluar kota menjadi sangat jarang. Bahkan kami, anak-anak lebih banyak di rumah khususnya saya dan saudara perempuan saya, jadi anak rumahan.

Banyak teman yang secara mandiri pergi bekunjung ke rumah teman lainnya keluar kota. Itu tidak terjadi pada saya. Biarlah saya di cap anak yang sulit keluar rumah, anak rumahan.

Saya hanya percaya bahwa orang tua pasti mengerti lebih banyak apa yang mereka lakukan. Mereka tidak melarang, mereka hanya memberi gambaran bahwa bla… bla… bla… jika bepergian sendiri. Intinya, tanggung jawab besar ada di pundak kita.

Saya paham maka saya pun memutuskan untuk tidak pergi. Alhamdulillah orang tua saya pun sering mengajak saya jalan-jalan, sehingga kebutuhan hiburan keluar rumah tidak pernah kurang.

Memasuki masa menikah rupanya keadaan itu berulang lagi kepada saya. Suami saya begitu bangga mendapatkan saya yang enggak pernah keluar kota bareng orang selain keluarga. Dia pun menculik saya, setelah sah ijab kabul.

Dia membawa saya terbang kesegala penjuru nusantara. Saya masih teringat saat tangan gemetarnya menggenggam tangan saya. Perasaan saya sudah GR seperti di film-film, romantis nih naik pesawat tangan saya di genggam. Ternyata tidak hanya gemetar, tapi keringat dingin membuat tangannya semakin dingin.

OMG!

Ternyata dia takut ketinggian. Nangis deh hati ini…!

Untungnya saya sudah berpengalaman naik pesawat sejak kecil, jadi keadaan ini tidak membuat saya panik. Jam terbang saya naik pesawat terbang sudah riwa riwi sejak saya bekerja di perusahaan nasional.

Sejak tahu suami saya takut akan ketinggian, pada akhirnya perjalanan wisata kami selalu menggunakan jalan darat. Beruntungnya saya, suami saya mantan pembalap jadi jalan darat menjadi pilihan terbaik saat ini.

Sebagai mantan pembalap, dia bukannya bawa saya ngebut-ngebutan sih, tapi dia bisa jadi navigator yang handal untuk rute baru pakai google map sih.

Sebagai mantan pembalap, dia juga punya daya tahan nyetir yang panjang. Walaupun saya bisa nyetir, tetap saja suami enggak mau di setirin entah kenapa, mungkin karena enggak percaya tega sama saya kalau nyetir kawatir lelah.

Sebenarnya pinter-pinternya saya juga sih, hehehe. Sebelum berangkat buat bahan mentah jadi ganjalan perut buat di sepanjang perjalanan. Kalau sudah di medan menyetir, saya sering beli snack, roti dan sering ngingetin jadwal makan dan jadwal istirahat.

Pada akhirnya, mantan pembalab jadi makin kuat dan lebih lama buat nyetir, hahahah. Alhasil abis jalan-jalan kami tibangan berat badan di rumah bisa jadi kambing hitam karena angkanya selalu naik, wkwkwk.

Kegiatan travelling ini tidak pernah tertunda loh, kecuali saat kehamilan saya sudah mendekati hari H, mmm… lebih tepatnya delapan bulan sih, jaga-jaga si adek kawatir tiba-tiba lahir di kota lain, hihi… jadi kalau mau jalan-jalan cukuplah di dalam kota saja.

Kalau sudah punya anak, apalagi masih balita tetap tidak menyurutkan keinginan kami untuk pergi travelling. Saya pernah buat Tips 7 perlengkaan travelling anak balita di blog saya sebelumnya.

Itu masih anak satu, gimana kalau sekarang anak dua balita semua?

Hahaha, tetaplah semangat travelling. Kata orang “duh, banyak duit ya…?” Saya bilang ‘Amin’ aja deh. Kita mah jalan-jalan sabil kerja, maklum wiraswasta.

Alhamdulillah, sejauh ini anak-anak selalu sehat walau sering seliweran antar kota. Ada tips nih mengapa bisa begitu, silahkan bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing ya.

Ada tiga poin yang saya pegang teguh, jika pergi bersama balita:

1.Makanan

Pergi dengan balita harus tetap memerhatikan nutrisi yang dibutuhkannya, bukan berarti seperti kita orang dewasa yang bisa beli makanan dimanapun, snack atau minuman warna botolan di minimarket.

Saya selalu menyiapkan bekal, dan makanan yang aman untuk perut mereka. Susu dan vitamin tetap saya bawa untuk keperluan sehari-harinya. Untuk minuman saya pilih air mineral yang terbaik, jadi saya tidak membiasakan anak-anak minum minuman berwarna, apalagi snack, jadi bukan generasi micin nih.

2.Jam tidur

Mau pergi kemanapun, kapanpun, dimanapun. Jam untuk tidur siang tetap harus ada, kerasnya jadi mama travel di sini nih, hahahah. Demi anak tetap sehat.

Anak-anak selalu diberi pengertian agar mereka bisa memejamkan matanya saat tidur siang. Senda gurau juga tetap saya lakukan agar mereka suka untuk memulai tidur siang. Pada akhirnya mereka sadar sendiri bahwa dimanapun tidur siang adalah kegiatan rutin bagi mereka.

3.Enjoy the trip.

Bepergian membuat mata dan keinginan menyeruak tak terbendung untuk menuju ke tempat-tempat hiburan. Sebagai orang tua, kami memilih tempat hiburan yang ramah anak, artinya yang terjauh dari terik matahari bahkan aman dari air hujan. Kalaupun memang terpaksa kegiatan outdoor saya siap baju pengganti dan atribut untuk membersihkan tangan dan muka mereka seperti tisu basah dan handuk kecil.

Selain pemilihan tempat berlibur, kami melakukan perjalanan dengan santai, tidak membuat target harus ke sini, ke sana jam sekian, rencana perjalanan yang kita buat harus fleksibel.

Kita buat perjalanan mana yang menjadi prioritas, selebihnya adalah bonus jika masih ada waktu.

Maklumlah bawa anak balita yang mengharuskan tidur siang, menjadi sedikit memotong waktu untuk pergi ke wahana lainnya.

Pernah loh saya mensiasati ini adalah dengan menidurkan mereka di tengah perjalanan. Saat kita tahu kebiasaan anak tidur siang berapa jam, maka di sepanjang jalan sudah waktunya tidur, jadi begitu sampai sudah di wahana berikutnya deh!

Perjalanan terkahir saya kemarin ke Yogyakarta. Saya suka ke sana, naik kereta api, setir mobil, dan saat ini kami berencana berlibur lagi saat sudah sampai di Yogyakarta nanti. Ceritaya nih, lanjut ke kota lainnya. Hahahah…

Suami saya langsung berpikir bagaimana kalau kita langsung cuz lanjut perjalanan ke Jakarta aja ya?

Enaknya naik kendaraan apa ya dari Yogyakarta ke Jakarta?

Saya pun langsung memberikan info terupdate. Kita mau yang aman dan sudah pengalaman saja deh, menggunakan kendaraan umum dari Perusahaan Otobus (PO) terbesar dan terpercaya di Yogyakarta yaitu po putra remaja Traveloka.

Lokasinya di Jalan Ring Road Barat Demak Ijo no.15. Foto bus nya cakep banget, warna biru muda, lengkap dengan gambar penguin yang menjadi identitas Putra Remaja.

sumber: di sini

Ternyata rute bus putra remaja sekarang makin luas yaitu berbagai rute di Pulau Jawa dan Sumatra, seperti Solo, Lampung, Jambi, Lubuklinggau, dan Palembang.

Kalian mau rencana liburan kemana nih?

Buat rencana dari sekarang ya, kalau jauh-jauh hari sering ada promo loh!

Salam,

Dewi Adikara