Sahabat Blogger

“Mari saling berbagi kebaikan”

Selain bermanfaat untuk orang lain, juga sebagai pengingat diri

Bagikan Artikel ini

Hula halo …! Assalamualaikum …. InsyaAllah dari sini nanti sahabat makin tahu untuk apa menulis? Seperti kisah Dewi yang enggak sengaja masuk ke dunia perbukuan *bahasa apa nih, hihi… Pada akhirnya justru mampu menerbitkan artikel cara menulis antologi versi Dewi Adikara. Heeem, memang Kuasa Allah ya. Yang penting selalu istiqomah untuk menebar kebaikan.

Awalnya banyak yang bilang, “zaman digital dan canggih begini, kok masih tertarik menulis dan menerbitkan buku. Pasarnya orang sekarang digital.”

Nah lo …! Pada bisa jawab enggak sahabat? kira-kira buat apa ya? Kasih kata kunci dulu ah ….

Tulisan pertama Dewi di buku berjudul “Rindu terkembang menjadi Doa.” Sebuah buku antologi yang berisi kisah betapa kangennya kepada kedua orang tua. Rasa ingin merawat mereka, namun keadaan mengatakan hal lain. Kesedihan yang merajai kala itu sering membuat air mata berderai tanpa bisa berenti. Bahkan suami Dewi pun akan ikut menangis jika kami membahas betapa menyayanginya kami pada kedua orang tua.

Menerbitkan tulisan melalui media buku

Dewi kan blogger, menulisnya pun di media digital seperti yang sedang teman-teman baca. Lalu jawab Dewi apa tuh waktu itu?

“Kalau buku kan bisa dipegang, bisa diturunkan ke anak-anak. Bisa buat hadiah ke teman, kadang juga bisa buat penyambung lidah saat kita tidak bisa berkata, selain itu bisa buat kenangan kita di masa depan,” pada akhirnya Dewi tutup dengan kata, “Buku adalah jendela dunia.”

Padahal ya dalam hati, kalau melek digital, baca tulisan via google juga jendela dunia loh! terus bagaimana?

Jadi nih, masih saja banyak perdebatan antara membaca dengan media digital dengan membaca dengan media cetak alias buku. Sampe pernah nih baca review teman-teman sesama bloger yang membahas bau buku tuh sensasinya beda. Buku Fisik ya bukan buku digital. Hem, sebegitunya ya. Dewi sampai endus-endus buku. Emang sih ngangenin *hahaahhah ….

Kali aja zaman seangkatan Dewi memegang buku tuh masih sebuah kenangan yang melekat dari kecil. Saat pergi bersama keluarga ke toko buku. nimbrung membaca buku novel atau komik, bisa dilakukan sambil lesehan, sampai berdiri (siapa yang begini juga waktu kecil, ngaku?:)

Kadang ya meski sudah dibaca tetap aja dibeli karena memang sudah suka isi bukunya. Sebegitu menariknya sebuah buku.

Tidak dipungkiri zaman sekarang digital sudah sangat maju, tulisan pun sudah banyak tersedia dalam bentuk e-book. Namun, Dewi masih percaya buku masih diperlukan bagi banyak orang. Khususnya anak-anak. Mereka dari kecil perlu membaca menggunakan buku. Cara membaca yang baik dan sehat, lebih leluasa dengan menggunakan buku. Masak iya, dari kecil anak-anak disuruh membaca dengan gawai?

Dewi pun yakin, pada kondisi tertentu tidak semua orang berhadapan dengan gawai. Risiko kelelahan mata lebih besar saat kita membaca lewat media berukuran mini segenggaman tangan. Pada kondisi lainnya, tidak semua orang juga memiliki bendaberteknologi canggih ini. Oleh karena itu buku masih memiliki peranan yang cukup besar dalam kehidupan kita.

Satu hal yang membuat Dewi bertahan, sudah waktunya kita majukan literasi. Sudah waktunya kita menciptakan. Maka, buatlah karya sebaik-baiknya. Membuat pembacanya mampu memetik ilmu dan kebaikan dalam setiap tulisan kita.

Berkaryalah, sebagai langkah kecil untuk menyirami kehidupan dan generasi kita. Setidaknya dari isi tulisan, dari buku, cover bahkan promosi di media sosial, sedikit banyak menggetarkan hati pembacanya untuk mengingat apa yang seharusnya diingat.

“Satu peluru bisa menembus satu kepala, tapi satu tulisan mampu menembus ribuan dan bahkan jutaan kepala,”

Sayyid Quthb (1906-1966).

Cara menulis antologi pun ada tekniknya. Sebelum lebih dalam membahas menulis antologi, ada baiknya kita mengetahui dahulu apa saja manfaat menulis.

Manfaat menulis

Menulis pun banyak manfaatnya loh. Mau membuat buku solo atau antologi sama-sama membawa manfaat jika kita menerapkannya dengan bijak.

Jika kita membicarakan hal ini pada faktor kesehatan, tentunya kita perlu laman rekomendasi dari bidang kesehatan seperti misalnya dari alodokter. Kita tengok yuk apa saja poin-poin yang menjadi manfaat dari menulis.

Meredakan stres

Menulis dapat membantu melepaskan emosi yang sedang kita rasakan serta pendam. Terutama emosi negatif, seperti kemarahan, kesedihan, atau kekecewaan. Dengan cara menulis, kita akan merasa lebih tenang, sehingga dapat terhindar dari stres dan kecemasan yang berlebih.

Memecahkan masalah dengan lebih baik

Pada umumnya seseorang akan menggunakan kemampuan otak kiri, yaitu anakisisnya untuk memecahkan suatu masalah yang sedang dihadapi. Padahal, terkadang kita memerlupan kreativitas dan intuisi, yang merupakan kekuatan otak kanan untuk memecahkan suatu masalah.

Saat kita menulis, sahabat dapat membuka sisi kreatif dan intuisi yang pada akhirnya mampu mendapatkan solusi-solusi inovatif untuk masalah yang terkadang tampak sulit untuk diselesaikan.

Menuangkan perasaan

Tidak semua orang mampu merangkai kata-kata untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan melalui ucapan. Menulis bisa menjadi tempat untuk melatih diri merangkai kata. Menulis bisa dipelajari seperti membaca cara menulis buku untuk pemula.

Menulis dapat menuangkan emosi dan perasaan menjadi sesuatu yang bisa diceritakan kepada orang lain. Metode ini juga terbukti efektif sebagai metode katarsis atau mengosongkan perasaan negatif.

Memperbaiki suasana hati

Menulis bisa menjadi sarana untuk jujur kepada diri sendiri, atau sarana menuliskan hal-hal positif tentang hal yang patut sahabat syukuri hari ini. Saat kita tuang dalam tulisan, sahabat memiliki bukti fisik yang dapat dilihat dan bisa lebih mengontrol perasaan.

Menulis juga mampu memperbaiki suasana hati atau mood. Yang namanya mood ya, kadang datang sendir tidak diundang. Saat kita mencatat suasana hati dan kegiatan setiap hari, sahabat bisa mengenali dan menemukan apa sih pemicu jeleknya mood sahabat dan hal apa saja yang bisa memperbaiki mood tersebut.

Meningkatkan daya ingat

Stres yang tidak tersalurkan bisa menghabiskan energi yang diperlukan otak untuk membentuk daya ingat dan berpikir. Saat menulis dapat membantu mengurangi tingkat stres akan berdampak baik pada daya ingat dan kemampuan berpikir. Siapa nih yang mendadak sering kehilangan barang atau kunci? Mungkin sahabat lagi perlu menuangkan beberapa beban pikirannya dalam sebuah tulisan.

Media menulis

Media menulis bisa di mana saja. Kembali lagi ketujuan awal seperti yang Dewi bilang. Selama menulis untuk menebar kebaikan dan membuat kisah-kisah inspiratif, buatlah, jadikan. Sehingga tulisan sahaba akan menjadi abadi. Namun, jika sahabat ingin menulis yang lebih bersifat pribadi, misalnya untuk mengelola perasaan maka baiknya menulis di media yang lebih privasi buku catatan. Jangan di media sosial ya!

Menulis sebuah karya berbeda dengan mengeluh, menulislah dengan mencari solusi dari setiap permasalahan yang nampak dalam tulisan. Lakukan self editing, untuk terus mengasah kemampuan otak kanan dan kiri kita.

Tips

Usahakan menulis setiap hari. Caranya: sediakan beberapa menit waktu sahabat. Tulisan itu bisa apapun baik tentang perasaan, masalah yang sedang dihadapi atau bahkan kegiatan hari itu. Biarkan tulisan mengalir bebas tanpa perlu memikirkan kesalahan teknis ejaan atau lainnya.

Jika tulisan tersebut berisi sebuah permasalahan coba cari beragam cara penyelesaian positif. Terkadang dengan menjabarkannya kita bisa menemukan dan mengobati perasaan kita yang sedang bingung dalam menghadapi permasalahan yang ada.

Jika menulis tidak memperbaiki perasaan, rasa stres, atau tekanan yang sahabat alami, jangan takut untukk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater untuk mendapatkan penanganan yang tepat ya sahabat.

Cara menulis Antologi versi Dewi Adikara

Menulis antologi sering disebut menulis keroyokan. Bukan berantem ya. Malah kebalikannya. Kita bekerja sama. Memberi semangat satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama. Biasanya kita ada dalam satu tema yang sama, sehingga akan keluar judul buku yang kita harapkan. Namun, seringkali saat ini konsep sudah ditentukan dan penulis akan bergabung jika dirasa minat atau memiliki pengalaman atau keahlian dalam tema tersebut.

Cara menulis antologi ada 2 macam, secara teknis administrasi atau dilihat dari isi tulisan. Kita bahas satu-satu ya.

Teknis Administrasi

Perhatikan dengan benar, bagaimana syarat pengumpulan naskah. Seringkali Dewi sebagai penanggung jawab buku menyusun naskah yang tidak sesuai dengan ketentuan yang sebenarnya sudah disebutkan sebelumnya. Perhatikan tata cara urutan pengumpulan naskah, bentuk dan ukuran font, spacing paragraf serta halaman yang telah ditentukan.

Menulis antologi biasanya dibatasi oleh halaman. Selain kita berbagi halaman, juga bekerja sama dalam hal menyelesaikan pembayaran. Begitulah pentingnya PJ. Memastikan semua selesai tepat pada waktunya, dari awal hingga buku terbit sampai pada penulisnya. Tentu semua dengan syarat ya. Attitude yang baik akan membantu kelancaran proses hingga akhir. Jika progress buku diabaikan penulis, maka sudah bukan lagi tanggung jawab PJ ataupun pihak penerbit.

Isi Tulisan

Isi tulisan sama pentingnya dengan teknis administrasi. Saat secara tampilan nyaman dibaca maka akan membuat pembaca makin menyukai isi tulisan. Dalam penulisan sebaiknya kita menghindari singkatan, typo, bahkan tulisan yang terlalu panjang. Tulisan yang terlalu panjang akan membuat pembaca lelah dalam membaca bahkan merasa bosan. Cara menulis di blog tentu berbeda dengan menulis buku.

Tentukan Point Of View (POV) atau sudut pandang tokoh. Apakah mau sudut pandang orang pertama/saya (POV1), sudut pandang orang kedua/kamu (POV 2) atau sudut pandang orang ketiga/dia (POV 3). Untuk POV 3 seringkali kita gunakan untuk profil penulis.

Buatlah cerita yang menarik pembaca yaitu story telling . Lalu uraikan berbagai cerita dengan cara showing (don’t tell). Misalnya nih sahabat akan bercerita tentang tokoh yang sedang merasa lapar.

Berikut contoh telling: Andien merasakan perutnya begitu lapar. Sedangkan contoh showing: Andien menutup buku diarynya, terdengar pelan bunyi kriuk dari perutnya. Ia terus memegang perutnya. Terasa bedanya kan ya. Kalau telling pembaca hanya akan pembaca, kalau showing, pembaca bisa ikut terlibat dalam merasakannya.

Selain itu sebuah cerita baiknya ada keempat, yaitu: tema, tokoh, latar dan plot (alur). Lebih jelasnya akan Dewi tulis di postingan berikutnya ya. Jadi jangan lupa sering-sering buka sahabatblogger.com untuk melihat update tulisan yang informatif. Pilih kategori “buku” ya. 🙂

Salam sehat dengan menulis,

Dewi Adikara.